Yogyakarta (beritajatim.com)– Pemilu 2024 secara serentak saat ini disebut-sebut rentan memiliki kualitas demokrasi yang rendah dan memprihatinkan. Banyak faktor yang mempengaruhi kaitan hal ini. Salah satu hal yang diamati oleh segenap pakar dan pengamat politik di antaranya kasus saat ini penyelenggara pemilu ternyata terkesan memiliki kedekatan berlebih kepada partai politik (parpol).
“Penyelenggara pemilu saat ini terkesan memiliki kedekatan yang sangat berlebihan kepada parpol. Namun mereka lupa bahwa masyarakat sipil sebagai penentu utama justru hubungannya dengan penyelenggara pemilu jadi terkesan mengalami keterputusan,” jelas Dosen Departemen Politik dan Pemerintah FISIPOL UGM, Dr Abdul Gaffar Karim, Selasa sore (30/1/2024).
Dr Abdul Gaffar menambahkan kedekatan penyelenggara pemilu ini tak hanya dengan parpol saja namun juga lembaga legislatif dan masih terkesan mengesampingkan masyarakat sipil. Hal ini yang menyebabkan problem independensi.
“Karena ada kedekatan ada potensi tidak bisa bersikap netral. Bagaimana pun partai politik adalah peserta pemilu dan legislatif adalah orang yang dihasilkan dari proses pemilu,” kata Gaffar.
Dr Abdul Gaffar juga menekankan pentingnya menjaga pemilu yang disebut sebagai satu-satunya penanda tersisa dari demokrasi di Indonesia.
“Pemilu 2024 ini harus kita jaga. Kalau tidak masa depan demokrasi kita akan sangat berbahaya, bukan hanya kehilangan substansi tetapi juga kehilangan penampakan,” ucapnya.
Senada Dosen Departemen Politik dan Pemerintah FISIPOL UGM yang juga panelis debat capres pada putaran pertama, Dr. Rer. Pol. Mada Sukmajati mengulas mengenai perbandingan fenomena perpolitikan antara Indonesia dengan negara lain.
Dirinya membandingkan fenomena yang terjadi di ranah politik Indonesia saat ini dengan fenomena serupa di Filipina pada pemilu tahun 2022 yang ditandai dengan nepotisme dan politik dinasti.
Perbedaannya, menurut Mada, bahwa di Filipina hampir tidak ada intervensi langsung dari pemimpin yang masih berkuasa saat itu.
“Tidak ada otak-atik konstitusi, dan relatif tidak ada mobilisasi sumber daya yang ada. Memang menang telak, tapi sekarang krisis,” terangnya. [aje]






