Surabaya (beritajatim.com) – Ahli Antropologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Teotik Koesbardiati membeberkan penyakit polio jenis terbaru yang saat ini tengah melanda dunia.
Menurutnya, polio merupakan penyakit menular akibat virus yang tergolong dalam subgroup enterovirus dalam keluarga Picornaviridae. Biasanya menyerang anak-anak dan berakibat pada kelumpuhan permanen.
Toetik menyebut, polio sejak zaman dahulu sudah terdeteksi sejak abad 16 di Mesir. Terbukti dari penggalian di kuburan kuno di Inggris pada masa abad 4, ditemukan sisa rangka manusia yang diduga menderita polio.
“Itu ditandai dengan ketidak-simetrisan bagian tungkai bawah dan juga patologi pada tulang punggungnya,” ungkap Toetik, Senin (29/1/2024).
Dalam Paleopatologi, faktor biologis manusia itu menjadi faktor penting dalam pendistribusian penyakit dalam tubuh manusia. Munculnya kembali polio pun menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah terkait ancaman kesehatan pada anak anak.
Bumi pada saat ini mengalami kenaikan temperatur suhu yang sangat ekstrem. Mencairnya es di kutub dan intensitas hujan yang tidak menentu menjadi pengaruh dalam peningkatan infeksi penyakit pada manusia.
“Saat ini bumi sedang memasuki masa interglasial keenam sejak 450 ribu tahun yang lalu,” kata Guru Besar Bidang Paleoantropologi Unair tersebut.
Dalam sejarah glasial dan interglasial bumi, trend menunjukan terus meningkatnya temperatur bumi. Kata dia, global warming berperan penting dalam memunculkan kembali penyakit-penyakit infeksi.
“The Intergovernmental Panel on Climate Change menyatakan bahwa naiknya temperatur bumi sebanyak 1,1 derajat celsius hingga tahun 2023 adalah akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca,” jelasnya.
Ia menilai, kondisi masyarakat yang beragam dan kacaunya politik dunia akhir-akhir ini menjadikan kasus polio cenderung akan meningkat pesat terutama di wilayah perang. Penduduk yang dievakuasi ataupun bermigrasi akan mengalami diskriminasi saat akan mengakses vaksin yang sudah dicanangkan setiap negara.
“Kemiskinan yang ditambah dengan persoalan diskriminasi berpeluang untuk membatasi akses kesehatan termasuk vaksin,” ungkap Toetik.
Kebiasaan hidup masyarakat dalam mengolah makanan yang sederhana dan kurangnya pengetahuan kesehatan memiliki peluang lebih dalam peningkatan infeksi penyakit.
Untuk menyiasati itu semua, pemerintah dan masyarakat harus bisa berkolaborasi dalam menanggulangi infeksi penyakit dengan mulai menerapkan hidup yang sehat.
“Pendekatan holistik dalam kerangka pikir global health perlu diperhatikan. Mengingat polio bisa menyerang melalui mobilitas manusia dengan konteks lingkungan yang berubah,” tandasnya. [ipl/suf]






