Di era digital, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Internet dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari ekonomi, pendidikan, hiburan, hingga sosial. Segala sesuatunya dapat ditemukan dengan mudah di internet.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa internet dapat memahami kebutuhan dan keinginan kita dengan lebih baik daripada sebelumnya? Internet telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, dan kemampuannya untuk memahami penggunanya juga telah meningkat.
Salah satu contoh sederhana bagaimana sistem internet dapat memahami kebutuhan penggunanya adalah pengalaman pribadi saat chat WhatsApp dengan teman mengenai alasan Anda memilih partai tertentu. Sesaat kemudian, ketika membuka YouTube, muncul rekomendasi channel dan video yang membahas visi misi partai yang Anda sukai.
Selain itu, pengalaman yang lebih umum adalah saat menyukai postingan calon presiden tertentu, kemudian menemukan dua atau tiga postingan serupa di fitur explorer Instagram. Pengalaman-pengalaman tersebut tentu saja menimbulkan rasa penasaran, bagaimana cara kerja sistem data dan informasi di internet sehingga search engine, platform, dan aplikasi platform lainnya dapat menyajikan informasi yang serupa, padahal ketiganya dikembangkan oleh pengembang program yang berbeda.
Pengalaman ini disebabkan sistem algoritma yang memudahkan pengguna menemukan konten serupa yang pernah dicari. Sistem algoritma ini disebut dengan filter bubble yang menyebabkan echo chamber. Filter bubble dan echo chamber adalah dua fenomena yang dapat terjadi di internet. Fenomena filter bubble (Pariser, 2011) terjadi karena algoritma sistem yang memudahkan pengguna untuk menemukan konten yang mereka sukai dan konten yang serupa.

Filter bubble pada awalnya terdengar seperti hal yang positif, karena dapat membantu pengguna menemukan konten yang mereka sukai. Namun, algoritma ini juga dapat memiliki dampak negatif, yaitu mengisolasi pengguna dari informasi yang berbeda. Filter bubble dapat menyebabkan pengguna menjadi kurang kritis terhadap informasi yang mereka terima. Penyebabnya karena pengguna hanya melihat konten yang sesuai dengan pandangan mereka, sehingga mereka tidak terbiasa untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini dapat menyebabkan pengguna tidak berkembang atau mengetahui informasi yang lebih luas inilah yang disebut dengan echo chamber.
Echo chamber juga dapat memiliki dampak negatif, yaitu memicu bias kognitif dan mempersempit cara pandang terhadap suatu topik. Echo chamber dapat menyebabkan pengguna menjadi semakin ekstrem dalam pandangan mereka. Hal ini karena pengguna hanya berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama, sehingga mereka semakin terisolasi dari pandangan yang berbeda.
Pemilih yang terjebak dalam filter bubble dan echo chamber hanya akan melihat konten yang mendukung calon yang mereka sukai. Akibatnya, mereka tidak akan memiliki informasi yang lengkap mengenai calon-calon lainnya. Misalnya, seorang pemilih yang mendukung pasangan tertentu akan melihat konten yang mendukung pasangan calon tersebut. Konten tersebut mungkin berisi informasi yang positif tentang pasangan calon tertentu, tetapi tidak memberikan informasi yang seimbang tentang pasangan calon lainnya.
Hal ini dapat menyebabkan pemilih tersebut salah menilai pasangan calon lainnya dan memilih pasangan calon yang disukai secara tidak objektif. Oleh karena itu, penting bagi pengguna internet untuk menyadari dampak dari filter bubble dan echo chamber. Pengguna perlu mencari informasi dari berbagai sumber untuk menghindari terisolasi dari informasi yang berbeda.
Pertama, pengguna internet perlu menyadari dampak dari fenomena ini dan mengambil langkah-langkah untuk menghindarinya. Pengguna perlu memahami bahwa algoritma sistem internet dirancang untuk menampilkan konten yang relevan dengan minat mereka. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk menyadari bahwa konten yang mereka lihat mungkin tidak mewakili seluruh realitas.
Kedua, pengguna dapat memanfaatkan fitur yang disediakan oleh platform internet untuk mengatur konten yang mereka lihat. Setiap platform internet memiliki fitur yang berbeda untuk mengatur konten yang terlihat oleh pengguna. Misalnya, YouTube memiliki fitur “tidak tertarik” yang dapat digunakan untuk menyembunyikan konten yang tidak relevan.
Ketiga, pengguna dapat melakukan beberapa hal untuk mengurangi pengaruh filter bubble dan echo chamber. Misalnya menghapus history dan cookies, tidak mengklik like atau love dengan mudah, tidak share informasi yang belum tentu benar, menggunakan incognito browser untuk isu sensitif, mencari hal dan topik baru di luar yang diminati. Cara-cara ini dapat membantu pengguna untuk melihat konten yang lebih beragam dan meningkatkan kesadaran mereka terhadap fenomena filter bubble dan echo chamber.
Selain itu, pengguna juga perlu menyadari bahwa perilaku mereka di internet dapat mempengaruhi konten yang mereka lihat. Jika pengguna sering berinteraksi dengan konten yang tidak bermanfaat, maka sistem akan menganggap bahwa konten tersebut sesuai dengan minat pengguna dan akan menampilkan lebih banyak konten serupa di masa depan.
Oleh karena itu, pengguna perlu lebih bijak dalam menggunakan internet dan hanya berinteraksi dengan konten yang bermanfaat. Dengan melakukan langkah-langkah di atas, pengguna dapat berkontribusi untuk menciptakan internet yang lebih sehat dan bermanfaat bagi semua orang.
Sundari,
Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur






