Kediri (beritajatim.com) – Nama Moh. Hanif tak bisa dipisahkan dari seni Pecut Samandiman Kediri. Dia menjadi salah satu tokoh penting di balik diakuinya Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Pecut Samandiman oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM).
Kisah Hanif menggeluti Pecut Samandiman bisa dibilang unik. Meski lahir dari Kampung Pecut di Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, 57 tahun lalu, dia sebenarnya tak mewarisi skill kesenian tersebut.
Kampung Pecut juga dikenal sebagai kampungnya para pelaku seni jaranan. Pun, Hanif juga tak bisa memainkan seni itu.
Ketertarikannya justru muncul setelah menikah dengan kekasihnya saat masih di Bali. Pemicunya, sang istri adalah cucu dari tokoh terkemuka di kesenian Jaranan Kediri, Mbah Sumani.
Hanif mengaku berpacaran dengan sang istri selama tiga tahun lamanya. Lalu, keduanya menikah dan Hanif memutuskan pulang ke Kediri pada 1998.
“Karena kakeknya (kakek istri) Mbah Sumani, seorang Gambuh (dukun) Jaranan, kemudian saya disuruh memegang Ketua Jaranan pada tahun 1998,” ungkap Hanif.
Bukan perkara gampang menjadi seorang seniman jaranan, apalagi dalam waktu instan. Terlebih, sejak muda Hanif belum mempelajari seni tersebut. Amanah Mbah Sumani menjadi gerbang bagi dia untuk menyelami kesenian nan adi luhung tersebut.
“Saya belajar secara otodidak. Melihat tokoh-tokoh Jaranan Kediri saat berlatih. Ada Mbah Jali, ada Pak Sugeng, ada Mbah Mani, Mbah Mursam dari Ngronggo. Dari situ saya banyak belajar tentang Seni Jaranan,” terang kakek tiga cucu ini.

Delapan tahun lamanya Hanif belajar kesenian Jaranan. Hingga benar-benar menguasai. Hingga pada 7 April 2006, secara resmi Hanif mendirikan paguyuban jaranan sendiri dengan nama Wahyu Krida Budaya.
Paguyuban milik Hanif merupakan perkumpulan resmi para pegiat seni jaranan asal Kota Kediri. Paguyuban ini telah diakui dan tercatat di Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga (Dishubparpora) Kota Kediri.
Kelahiran Paguyuban Pecut Samandiman
Perjalanan menggeluti Jaranan ternyata tidak membuat Hanif terpuaskan. Ada semangat yang mendorongnya untuk berbuat lebih pada dunia kesenian. Seperti rasa haus yang membutuhkan siraman air penyejuk.
Setiap kali menggelar pertunjukan Jaranan, Hanif selalu merasa ada yang kurang. Perasaan yang sama pun muncul bahkan ketika dia terlibat dalam penggarapan beragam kirab budaya Jaranan maupun bertemu para tokoh ahli pecut.
Keresahan terus muncul dalam benaknya. Muncul ide untuk melahirkan seni baru yang terkonsentrasi pada pecut atau cambuk. Tercetuslah paguyuban Pecut Samandiman Kota Kediri, yang mewadahi para pegiat seni pecut.
“Saya buat perkumpulan tahun 2012, saya notariskan Wahyu Krida Budaya. Lalu pada tahun 2014 saya notariskan Pecut Samandiman,” tutur seniman yang juga pengusaha barang bekas tersebut.
Hanif mengakui, lahirnya Pecut Samandiman terinspirasi dari salah satu rekan baiknya, Joko Purnomo alias Mangil. Menurut dia, Joko punya gaya yang berbeda dalam memainkan pecut.
Senyampang pertemuannya dengan para pegiat seni pecut, dia tidak mendapati gaya yang berbeda seperti yang dikuasai Joko. Di matanya, Joko punya gerakan khas saat memainkan pecut.
Sejarah Pecut Samandiman
Pecut Samandiman telah terdaftar di Ditjen HKI Kemenkum HAM. Seni Pecut Samandiman Kota Kediri ini memiliki kekhasan.
Pecut yang digunakan memiliki panjang antara 3,5 hingga 10 meter. Karena panjang inilah, diperlukan teknik khusus dalam memainkannya.
Sejarah seni Pecut Samandiman sendiri, kata Hanif, tidak lepas dari cerita rakyat tentang kisah Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin. Banyak yang meyakini kerajaan ini pernah berdiri di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Konon, Klono Sewandono memiliki seorang patih bergelar Pujonggo Anom. Dia merupakan anak dari Raja Kediri yang juga kakak dari Dewi Songgo Langit.

“Pujonggo Anom itu adik dari Songgo Langit. Karena putri Kediri ini tidak ada yang melamar, kemudian bagus Ketut Wijanarko itu berkelana sampai ke Negeri Bantarangin,” kata pria yang pernah menduduki posisi sebagai Ketua Forum Komunikasi Suporter Persik (FKSP) Kediri ini.
Kerajaan Bantarangin terkenal dengan keahlian dalam berperang. Kemudian Pujonggo Anom pergi ke sana untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit. Tetapi karena keahlian yang dimiliki sebagai anak raja, dia diangkat menjadi patih Klono Sewandono.
Lantas, Klono Sewandono ingin melamar Dewi Songgo Langit. Tetapi dia menyuruh patihnya Pujonggo Anom untuk pergi ke Kerajaan Kediri. Agar tidak dikenali oleh Raja Kediri, Pujonggo Anom pun memakai topeng ketika hendak melamar kakaknya.
“Lalu Pujonggo Anom sowan ke Raja Kediri untuk melamarkan Prabu Klono Sewandono. Kemudian ketika berdialog dengan Dewi Songgo Langit, ternyata suaranya dikenali sebagai adiknya sendiri. Belum sampai ngomong, akhirnya dia dikutuk topengnya tidak bisa lepas. Lalu dia berbicara bahwa tujuannya untuk melamarkan rajanya, bukan dirinya sendiri,” beber Hanif.
Singkat cerita, Raja Kediri meminta sebuah persyaratan kepada Klono Sewandono. Syarat tersebut yaitu dibuatkan tontonan yang tidak berpijak pada tanah dan tidak pernah ada di dunia ini.
“Lalu Prabu Klono Sewandono bertapa di Gunung Lawu. Di sana, ia mendapatkan pecut dengan lempengan besi. Jadi pecut ini sebenarnya senjata dari Prabu Klono Sewandono,” terang Hanif.
Setelah mendapatkan senjata pecut, Prabu Klono Sewandono pergi ke Kerajaan Kediri. Tetapi, kepergian mereka diketahui oleh raja-raja di sekitar Kediri yang juga ingin melamar Dewi Songgolangit. Akhirnya terjadi peperangan di tengah perjalanan.
“Terjadi perkelahian. Di situ Klono Sewandono sebenarnya kalah. Kemudian kembali untuk mengambil pecutnya. Lalu disabetkan pecut itu. Seketika musuh-musuhnya kalah dan diajak sekalian melamar Dewi Songgo Langit. Akhirnya di Kediri jadilah tontonan kuda lumping. Itu menciptakan cerita sejarah di masyarakat. Maka, Ponorogo punya cerita sendiri, kita punya sendiri,” bebernya.
Para era Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Paguyuban Pecut Samandiman menjadi bagian penting dalam pelestarian seni budaya. Disbudparpora Kota Kediri menggelar Kejuaraan Seni Pecut Samandiman setiap tahunnya di kawasan wisata Goa Selomangleng.
Kejuaraan rutin ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari Kota Kediri saja. Banyak pelaku seni pecut dari kota-kota lain yang ikut serta. Bahkan, mereka datang dari Papua demi mengikuti kejuaraan Pecut Samandiman Kota Kediri.
Hanif ingin tarian Pecut Samandiman Kota Kediri bisa tampil pada acara-acara nasional, bahkan mendunia. Dia tentu senang dan sangat berharap suatu saat Pecut Samandiman Kota Kediri bisa tampil di Istana Negara Jakarta, disaksikan Presiden dan para tamu kenegaraan. [nm/beq]






