Surabaya (beritajatim.com) – Lulus cepat bukanlah hal yang mudah bagi setiap mahasiswa. Apalagi, tak sedikit dari mereka harus membagi waktu dengan kesibukan lain. Namun hal itu tidak berlaku bagi Deny Haryanto.
Deny meraih gelar doktoral hanya dengan waktu dua setengah tahun saja di S3 Manajemen Pendidikan, Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ia bahkan berhasil lulus dengan IPK sempurna 3,98.
IPK tersebut ia peroleh berkat disertasinya berjudul ‘Kepemimpinan Kepala Sekolah Perempuan dalam Penerapan Pendidikan Karakter: Studi Multikasus Kebhayangkaraan Pada Taman Kanak-Kanak Malang Raya’.
Deny juga berhasil mempublikasikan dua artikel sekaligus ke jurnal internasional yang terindeks scopus. Capaian itu diperoleh dengan waktu yang terbilang singkat, lantaran dilakukan sekitar dua bulan sebelum ujian tertutup.
Nah, hal itulah yang membuatnya lulus di semester lima tanpa harus melalui ujian terbuka.

Capaian gelar doktoral ini bermula ketika Deny bertemu Prof Sujarwanto di lapangan Gawanan Colomadu, Solo pada 2020 silam. Saat itu, Prof Sujarwanto menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Unesa.
Di sana mereka bersama masing-masing tim sepak bolanya bertanding. Nah, usai pertandingan, Deny melihat Prof Sujarwanto yang sibuk mengoreksi proposal dari salah satu mahasiswanya.
Karena penasaran, Deny menghampiri dan mulai berbincang seputar dunia kampus. Setelah itu, Deny ditawari studi lanjut jenjang S3 oleh Prof Sujarwanto, namun saat itu ia masih sibuk dengan berbagai tugasnya di kepolisian hingga belum sempat menerima tawaran tersebut.
Setahun kemudian Deny kembali dihubungi oleh Prof Sujarwanto agar mau melanjutkan pendidikan S3-nya, terlebih kali ini ia didukung oleh Rektor Unesa Prof Nurhasan lewat beasiswa secara khusus.
Saat pertama kali masuk kuliah pada 2021, pria 47 tahun itu mengaku sedikit kesulitan dengan jadwal yang cukup padat di semester satu dan dua. Ia harus beradaptasi dengan pembuatan artikel, tugas, dan presentasi lainnya.
Hal itu juga diperparah dengan pandemi yang masih menjamur dan memaksa seluruh kegiatan di perkuliahan dilakukan secara online atau daring.
Namun berkat konsistensinya, ia diberi keringanan dalam bertugas oleh Kapolresta Malang saat itu agar fokus menyelesaikan gelar doktoralnya terlebih dahulu. Sehingga ia masih dapat mengikuti rapat dan diskusi di kepolisian lewat daring yang bersamaan dengan berjalannya perkuliahan.
Kini, usai lulus dengan capaian memuaskan, Deny berkomitmen mengimplementasikan ilmu-ilmu yang ia tekuni selama perkuliahan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat bertugas di kepolisian.
“Motivasi saya melanjutkan studi S3 ini, agar menjadi contoh yang baik bagi anak-anak saya. Bahkan kalau bisa mereka harus lebih tinggi tingkat pendidikannya dari saya” ujar pria yang kini bertugas di Itwasum (Inspektorat Pengawasan Umum) Polri tersebut. [ipl/ian]






