Banyuwangi (beritajatim.com) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Dwikorita mengatakan perubahan iklim telah menjadi isu utama dunia internasional. Saat ini terjadi fenomena percepatan peningkatan suhu bumi, yang memicu cuaca ekstrim. Para ahli telah menyepakati hingga tahun 2100 suhu bumi tidak boleh melebihi 1,5 derajat celsius guna mencegah timbulnya cuaca ekstrim.
Namun, Organisasi Meteorologi Dunia telah mengumumkan saat ini suhu dunia telah meningkat 1,4 derajat celsius, yang notabene masih 78 tahun lagi sebelum tahun 2100.
Ini menyebabkan kondisi ekstrim, intensitas cuaca ekstrim terus meningkat. C
uaca yang berubah, banjir, longsor, ini adalah dampak peningkatan suhu bumi,” katanya saat di Banyuwangi.
Sehingga, Dwikorita mendukung perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih mengedepankan ramah lingkungan. Jika tidak, dirinya memprediksi akan terjadi dampak yang lebih parah.
“Jika tidak dilakukan perubahan lifestyle lebih ramah lingkungan, para ahli mengasumsikan 10 tahun ke depan bumi bisa terancam krisis air, dan pada 2050 krisis pangan,” kata Dwikorita.
Dwikorita berharap agar ke depan menerapkan cara berpikir hidup ramah lingkungan. Terutama mendukung untuk kondisi lingkungan yang lebih baik.
‘Ini artinya, dari sekarang kita harus mulai mengurangi gaya hidup yang mengurangi kenaikan panas bumi, mengurangi produksi CO2 atau mulai menerapkan mindset pembangunan yang ramah lingkungan,” pungkasnya. [rin/aje]






