Surabaya (beritajatim.com) – Program Studi Aktuaria terbilang menjadi jurusan baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Jurusan ini baru berusia 5 tahun, dan menjadi pionir jurusan aktuaria di Indonesia.
Karena itulah, tiga orang mahasiswa dari Aktuaria ITS terpacu untuk mengikuti Actuarial Science Quest (ASiQ) 2023 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, untuk memperdalam pemahamannya.
Mereka adalah Wilbert Arifin, Amelia Rizky Avrilia Putri Wiyono, dan Eureka Theodora. Dalam lomba ini, mereka ditantang membuat program asuransi sosial nasional yang dapat mengatasi dan memitigasi dampak bencana alam yang semakin meningkat di Ecoland (negara buatan).
Ketua Tim, Wilbert mengatakan kompetisi ini membuat timnya semakin memahami konsep jurusan mereka yang mempelajari matematika, statistika, keuangan, ekonomi, teori peluang, teori risiko algoritma, pemrograman.
Selain itu juga paham ilmu dan analisis data yang terkait dengan aktuaria untuk melakukan pengelolaan risiko, premi, cadangan teknis, portofolio keuangan, hingga dampak pada kelestarian lingkungan.
“Kami lebih mengeksplor pemahaman terkait aktuaria, utamanya real case penerapan di dunia nyata seperti apa. Faktor pendukung lainnya dari departemen pun sangat mendukung sehingga kami juga tertarik mengikuti lomba ini,” kata Wilbert, Jumat (29/12/2023).
Ia mengungkapkan bahwa Departement Aktuaria ITS juga berharap mahasiswa mampu mencetak prestasi. Mengingat, jurusan ini masih berusia 5 tahun di ITS.
“Dari ide-ide yang ada kemudian kami olah dan kembangkan sesuai dengan kebutuhan yang disampaikan pada perlombaan,” ungkapWilbert.
Dalam kompetisi Actuarial Case Competition ini, Wilbert dan tim berperan sebagai perusahaan asuransi yang diharuskan membuat laporan komprehensif dengan detail memuat program, mulai dari tujuan, desain program, harga, asumsi, risiko dan mitigasi risiko, hingga batasan.
Literasi yang dipakai timnya sebagian menggunakan artikel serta jurnal yang dipublish secara internasional, utamanya dari organisasi terkemuka yang memang memiliki track record serta pengalaman belasan bahkan puluhan tahun terkait permasalahan serupa.
“Sebagai contoh kami menggunakan artikel yang diterbitkan oleh IDMC (Internal Displacement Monitoring Centre) berjudul ‘Unveiling The Cost Of Internal Displacement’ untuk mengetahui kisaran biaya yang diperlukan untuk menangani relokasi sukarela,” jelasnya.
Di ajang ini, tim ITS mampu meraih juara kedua. Hasil ini terbilang cukup memuaskan dengan usianya yang baru menginjak 5 tahun. Wilbert sangat bersyukur karena usaha mereka terbayarkan.
“Menyenangkan, hard works paid off. Kami dari awal menargetkan menang, sehingga usaha yang dikeluarkan juga tidak setengah-setengah. Hasilnya tentu mengikuti proses sehingga kami senang bisa meraih Juara dua,” pungkasnya. [ipl/ian]






