Kediri (beritajatim.com) – Kabupaten Kediri menjadi daerah yang aman dan nyaman. Meskipun terdapat berbagai etnis dan agama, bisa hidup rukun dan penuh toleransi.
Hampir tak pernah terjadi konflik berbau suku agama ras dan antar golongan atau SARA dengan skala besar yang berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama.
Terjaganya moderasi beragama ini tidak terlepas dari peran penting Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dan wakilnya Dewi Maria Ulfa.
Moderasi beragam di Kabupaten Kediri terjaga dengan baik. Ini membuktikan apabila empat indikator utama keberhasilan moderasi beragama bisa tercapai yaitu, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi.
Lalu apa saja yang sudah diperbuat oleh pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kediri Mas Dhito dan Mbak Dewi dalam menggerakkan moderasi beragama selama tahun 2023 ini? Simak ulasan beritajatim.com dalam edisi kaleidoskop Pemkab Kediri 2023 ini.
Sejauh ini bisa dipastikan tidak ada pelanggaran Kebebasan Beragam dan Berkeyakinan (KKB) di Kabupaten Kediri. Ini berbeda dari daerah lain yang terjadi kasus-kasus intoleransi.
Wilayah Kabupaten Kediri relatif kondusif, adem ayem dan tentram. Dibalik itu semua ada banyak pihak yang berperan. Dari kepolisian, TNI, Pemerintah Kabupaten Kediri, berbagai oraganisasi masyarakat dan Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB).
Sebagai kepala daerah, Bupati Kediri cukup aktif dalam berbagai upaya menjaga situasi keamanan. Selain peran ke luar, dirinya juga melakukan penguatan di dalam yakni, di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri.
Perbanyak Acara Keagamaan di Lingkup Pemerintah Daerah

Selama kepemimpinan Mas Dhito dan Mbak Dewi, khususnya setahun terakhir ini banyak kegiatan-kegiatan keagamaan yang digelar di lingkungan pemerintah daerah (pemda). Salah satuny Nuzulul Quran.
Awal bulan April 2023 lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri menggelar acara peringatan Nuzulul Quran di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri.
Melalui agenda nuzulul quran itu, Mas Dhito mengajak seluruh ASN dan segenap pegawai Pemerintah Kabupaten Kediri serta masyarakat yang bergama Islam untuk melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri (introspeksi) dan merenung tentang bacaan Alquran serta kandungan isinya.
Mas Dhito mengajak semuanya untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT yang telah menciptakan. Terlebih momentum itu bertepatan dengan bulan suci ramadhan.
Acara itu mengundang Gus Reza Ahmad Zahid dari Lirboyo sebagai penceramah. Gus Reza menyampaikan mengenai proses turunnya Al-Qur’an, terdapat beberapa perbedaan waktu dalam memperingati turunnya Al-Qur’an.
Gus Reza mengingatkan bahwa hal terpenting dalam Nuzulul Quran adalah menumbuhkan Al-Quran sebagai The Way of Life. Al-Quran adalah penunjuk jalan kehidupan, sehingga wajib untuk menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dunia.
Al-Qur’an merupakan awal asas dalam agama Islam. Awal penetapan hukum diambil dari Al-Qur’an, dengan cara menafsirkannya sebagai sumber hukum. Namun terdapat syarat-syarat tertentu untuk menafsirkan atau mengambil hukum dari Al-Qur’an.
Pertebal Keimanan Melalui Pondok Romadhon di Bulan Suci

Masih di bulan ramadahan 2023, Mas Dhito bersama sang istri yang juga Ketua TP PKK Kabupaten Kediri Eriana Annisa mengisinya dengan berbagai kegiatan keagamaan. Selain untuk mempertebal keimanan, juga menjauhkan diri setiap umat muslim dari tindakan yang dilarang.
Di tempat yang sama yaitu, Gedung Convention Hall SLG Kediri, TP PKK Kabupaten Kediri mengadakan Pondok Romadhon. Dengan mengusung tema ‘Ramadhan Mulia, menghadirkan Ustadz Wijayanto.
Mbak Cicha, panggilan akrab istri Bupati Kediri ini mengatakan apabila kegiatan itu sebagai sarana menambah wawasan, memberikan siraman rohani dan sebagai penyemangat kita untuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan pelayanan masyarakat.
“Saya harap ilmu yang kita dapatkan bisa bermanfaat. Terima kasih kepada Bupati Kediri yang telah memfasilitasi hadirnya Ustadz Wijayanto ke Kabupaten Kediri,” terang Mbak Cicha waktu itu.
Ustadz Wijayanto dalam tausiyahya mengingatkan, kepada masyarakat Kabupaten Kediri untuk meningkatkan ibadah terutama di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
“Orang – orang yang menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT, berbakti kepada orang tua, suami / istri, peduli kepada anak yatim dan hamba sahaya, memperbaiki hubungan dengan kerabat, keluarga, tetangga dekat maupun jauh, teman sejawat dan anak buah seperti karyawan merupakan golongan orang yang insya Allah puasanya berhasil,” Jelas Ustadz Wijayanto.
Cegah Radikalisme dengan Tausiyah Kebangsaan Habib Lutfi

Berbagai kegiatan keagamaan terus diadakan oleh Mas Dhito. Pada pertengahan Mei 2023 lalu, ia mengundang Habib Lutfi bin Yahya untuk datang ke acara Kediri Bersholawat.
Kebetulan waktu itu bertepatan dengan rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kediri Ke-1219. Acara berlangsung di kawasan Simpang Lima Gumul, Jumat, 12 Mei 2023 malam.
Selain sholawatan dalam acara yang dimulai pukul 18.30 WIB itu, kata Mas Dhito juga diadakan tausiyah kebangsaan dari Habib Luthfi.
“Kegiatan tausiyah kebangsaan ini untuk mengikis radikalisme di Kabupaten Kediri,” kata Mas Dhito saat memimpin rapat persiapan sholawatan dan tausiyah kebangsaan di ruang Pamenang, Pemkab Kediri, Kamis (4/5/2023) lalu.
Adapun, pagi harinya akan diadakan kirab kebangsaan yang akan diikuti setidaknya 4.030 peserta dari berbagai elemen masyarakat dengan membawa bendera merah putih dengan panjang 77 meter.
Akhiri Konflik Pendekar Silat dengan Membentuk Forum Kerukunan
Konflik pendekar silat pernah terjadi di Kabupaten Kediri, tepatnya di Kecamatan Ngadiluwih. Dua perguruan terlibat pertikaian.
Tidak ingin konflik meluas, Bupati Kediri bergerak cepat dengan membentuk Forum Kerukunan Pencak Silat. Langkah ini cukup efektif.
Diawali dengan rapat koordinasi dengan Forkopimda Kediri, upaya penanganan konflik itu dilakukan dengan cepat. Rakor menghadirkan pengurus kedua perguruan yang berseteru.
Dari rakor tersebut akhirnya disepakati kedepannya di Kabupaten Kediri akan dibentuk forum kerukunan antar perguruan silat.
Dengan bertemunya pengurus kedua perguruan silat tersebut, bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu menekankan kerusuhan yang terjadi awal Januari 2023 lalu sepakat diakhiri. Bupati Kediri juga berharap kejadian sama tidak terulang.
“Apapun bentuk perguruan silat yang ada di Kabupaten Kediri, kejadian (kerusuhan Ngadiluwih) itu yang terakhir. Perlu adanya wadah silaturahmi antar perguruan silat untuk mencegah konflik antar simpatisan,” kata Mas Dhito waktu itu.
Pembentukan Forum Kerukunan Pendekar Silat itu dimulai dari 14 perguruan yang berada dibawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kediri.
Tak hanya sebatas pembentukan forum antar perguruan silat, Mas Dhito berharap ke depan diadakan kegiatan latihan bersama bagi perguruan silat di wilayah Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kerukunan.
Disamping itu, bupati muda berkacamata tersebut menghimbau kepada pengurus perguruan silat untuk memberikan penegasan kepada para anggotanya supaya lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan.
“Ketua dan pengurus perguruan pencak silat se-Kediri Raya untuk memberikan arahan kepada seluruh anggotanya agar lebih dewasa dalam menyikapi segala sesuatunya agar tidak terjadi gesekan dan konflik di wilayah Kabupaten Kediri,” tegasnya.
Aparat keamanan di Kabupaten Kediri tegas dalam menindak setiap pelaku kekerasan. Sikap ini sangat positif dalam menciptakan situasi keamanan di Kabupaten kediri tetap kondusif.
Tidak ada pihak yang mendapatkan dispensasi ketika melakukan pelanggaran hukum, terutama kekerasan kepada orang lain. Meskipun ada Forum Kerukunan Antar Perguruan Silat, tetapi pihak yang berbuat kekerasan tetap diproses hukum.
Sinergi antara kepolisian, TNI dan Pemerintah Kabupaten Kediri dalam upaya penindakan terhadap setiap pelaku kekerasan ini menegaskan tidak ada tempat bagi siapa saja pelaku kekerasan di Kabupaten kediri.
Pemkab Kediri Bersinergi dengan FKUB Cegah Gesekan Antar Umat Beragama

Selain pihak kepolisian dan TNI, FKUB bagian penting lainnya dalam menciptakan kerukunan di Kabupaten Kediri. Terutama kerukunan antara umat beragama.
Bupati Kediri Mas Dhito kerap menitipkan pesan kepada FKUB untuk membantu pemerintah dalam menangani persoalan di masyarakat yang berpotensi menimbulkan gesekan umat beragama.
Tak hanya antar umat beragama, kata Mas Dhito, persoalan yang berpotensi menimbulkan gesekan sesama umat diharapkan dapat dimonitor dan diselesaikan dengan baik.
Beberapa kali Mas Dhito mengakui menerima laporan adanya hal-hal yang bisa menimbulkan benih gesekan. Dia berharap FKUP bisa berbicara kerukunan umat dan meningkatkan kesensitifannya.
Ketua FKUB Kabupaten Kediri Dafid Fuadi menyampaikan komitmennya untuk selalu menjaga kerukunan umat bergama. Termasuk mengadakan seminar bahaya radikalisme dengan mengundang pemuka agama di setiap kecamatan secara rutin.
Dafid mengakui, ada beberapa kejadian yang tidak segera ditangani dengan cepat bisa berpotensi menimbulkan gesekan.
Beberapa kegiatan lain yang dilakukan FKUB Kabupaten Kediri adalah melakukan sosialisasi tentang Peraturan Pendirian Rumah Ibadah dan Moderasi Beragama serta Kerukunan Beragama dalam Bingkai Keragaman Masyarakat.
Meskipun Peraturan Pendirian Rumah Ibadah sudah lama disahkan, tapi perlu disampaikan kembali kepada masyarakat supaya lebih memahami ketika akan mendirikan rumah ibadah.
Menurut Dafid, pada prinsipnya pemerintah sangat mendukung masyarakat untuk mendirikan rumah ibadah. Namun harus memenuhi koridor-koridor dalam rangka menjaga kondusifitas dan kenyamanan masyarakat di tengah kemajemukan kehidupan.
Gus Dafid menambahkan, hal yang perlu diperhatikan dalam pendirian rumah ibadah adalah selain memenuhi syarat administrasi, ada prinsip lain yang juga arus tetap terjaga kerukunannya.
Untuk menghindari permasalahan pendirian rumah ibadah, FKUB Kabupaten Kediri selalu mengajak berdialog dan bermusyawarah berbagai tokoh agama dan pemuka penghayat kepercayaan.
Tokoh Agama Kabupaten Kediri KH. Harun Al Rosyid mengaku, keberadaan dan perkembangan kerukunan antar utama beragama di Kabupaten Kediri berjalan dengan baik dan sangatlah bagus.
Mantan Sekretaris PCNU Kabupaten Kediri ini hanya mengingatkan tentang hal yang perlu diwaspadai saat ini adalah pemahaman ajaran ekstrem.
Golongan-golongan radikal kerap membuat narasi-narasi yang membenturkan antar umat beragama, dengan tujuan mendapatkan pengikut karena dianggap sebagai golongan paling benar.
Bahkan, mereka juga selalu berusaha menanamkan kebencian terhadap golongan lain. Maka yang harus ditangkal dan diantisipasi adalah hal tersebut, khususnya terhadap generasi muda.
Demikian peranan Mas Dhito dan Mbak Dewi dalam upaya menggerakan moderasi beragama di Kabupaten Kediri. Artikel ini sekaligus mengakhiri edisi kaleidoskop Pemkab Kediri 2023. [ADV PKP/nm/ted]






