Kediri (beritajatim.com) – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dan Wakilnya Dewi Maria Ulfa menandaskan komitmennya yang kuat terhadap pelestarian budaya dan adat istiadat.
Pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam program pemerintahannya di Kabupaten Kediri untuk bersatu menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur.
Sepanjang tahun 2023 ini, Mas Dhito dan Mbak Dewi melakukan berbagai upaya dalam pelestarian seni budaya Kabupaten Kediri, mulai dari mematenkan Jaranan Jowo hingga Wayang Krucil.
Beritajatim.com menyajikan edisi khusus tentang perhatian Mas Dhito dan Mbak Dewi terhadap pelestarian seni budaya di Kabupaten Kediri pada tahun 2023 ini.
Jaranan Jowo Sah Milik Kabupaten Kediri

Awal tahun 2023 lalu Bupati Kediri memastikan bahwa Jaranan Jowo resmi milik Kabupaten Kediri. Hal itu setelah Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia menerbitkan Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional.
Kabar bahagia dalam dunia seni budaya itu datang dari
Komite Tari dan Jaranan Dekky S didampingi Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Imam Mubarok. Rabu 4 Januari 2023 mereka membenarkan Jaranan Jowo telah di HAKI-kan dan sah milik Kabupaten Kediri.
HAKI yang diterima ini untuk perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), hal itu mengacu pada UU nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta. Maka, jaranan jowo telah di dokumentasi dan di arsipkan dalam Pusat Data Nasional Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Indonesia.
“Jaranan itu secara umum memang semua wilayah memiliki jaranan, tetapi jaranan jowo kita, memiliki karakter sendiri dan khas kediren,” ujarnya waktu itu.
DK4 sejak awal berkomitmen menjaga budaya khas Kediri, dengan cara mengawalnya ke Balibangda untuk kemudiam di HAKI kam agar diakui secara resmi. DK4 bersama Komite Tari dan Jaranan akan terus mengawal ini ke Balitbangda, agar budaya Kabupaten Kediri diakui.
Wayang Krucil Dipatenkan

Satu demi satu kekayaan budaya di Kabupaten Kediri terus dipatenkan. Usai jaranan jowo, kini wayang krucil juga berhasil mendapatkan HAKI menjadi kesenian khas Kabupaten Kediri.
Pematenan wayang krucil ini tertuang dalam surat pencatatan inventarisasi kekayaan intelektual komunal ekspresi budaya tradisional kementerian hukum dan HAM Republik Indonesia.
Pematenan wayang krucil dan kekayaan budaya di Bumi Panjalu ini menurut Bupati Hanindito, adalah upaya pemerintah Kabupaten Kediri agar tidak ada klaim-klaim dari pihak-pihak luar.
“Apapun bentuk kebudayaan yang asli Kabupaten Kediri tentu akan kita HAKI-kan, berproses satu persatu agar tidak ada klaim pihak manapun,” kata Mas Dhito, pada Selasa (10/1/2023) lalu.
Melalui upaya pematenan seni budaya asli Kabupaten Kediri ini diharapkan dapat memunculkan kembali gairah budayawan dan seniman untuk mementaskan wayang krucil dan jaranan jowo.
Usai pematenan dan kesiapan pementasan tersebut dapat menyambut hadirnya bandara Kediri. Menurutnya, dengan budaya yang mencirikhaskan Kabupaten Kediri dapat mendorong wisatawan tertarik untuk datang.
“Dengan kemudahan adanya bandara, pementasan-pementasan harus sering dilakukan oleh pegiat seni budaya. Harapannya, setelah bandara beroperasi kita sudah siap dengan suguhan-suguhan asli Kabupaten Kediri,” ujar Mas Dhito.
pematenan ini harus disambut oleh pelaku seni dan budaya. Di-HAKI-kannya wayang jowo ini telah diambil manfaatnya oleh seniman dan budayawan di Kabupaten Kediri. DK4 menargetkan ke depan akan lebih banyak lagi objek budaya dan seni yang akan dipatenkan.
ASN Kenakan Pakaian khas Wdihan Kadiri dan Ken Kadiri

Mas Dhito menjadi kepala daerah di Kabupaten Kediri yang berhasil membuka lebar kran seni dan budaya. Sejauh ini, berbagai terobosan baru dilakukan oleh bupati muda itu.
Paling baru, Mas Dhito mengeluarkan Surat Edaran Bupati yang mewajibkan ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri untuk mengenakan pakaian khas Wdihan Kadiri dan Ken Kadiri di Kamis minggu pertama setiap bulannya.
Diketahui pakaian khas itu telah dirilis Mas Dhito setahun lalu saat HUT Kabupaten Kediri ke-1218. Pakaian tersebut dirilisnya usai melalui proses kajian yang dilakukan oleh kalangan akademisi, arkeolog, desainer dan pembatik, budayawan, maupun tim internal dari Pemkab Kediri.
Pemerhati budaya Kediri, Imam Mubarok berpendapat langkah-langkah yang dilakukan oleh Mas Dhito dalam pengembangan kebudayaan di wilayahnya terbilang cepat dan merata.
“Mas Dhito mampu mengangkat, memberdayakan, dan bersinergi dengan banyak pihak untuk bersama-sama memajukan kebudayaan di Kediri. Peluang-peluang (kebudayaan) telah di berikan, ruang-ruang di berikan” ungkap awal 2023 lalu.
Kelanggengan seni budaya di Bumi Panjalu ini juga tergambar jelas dengan upaya pematenan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) 4 produk budaya asli daerah tersebut.
Produk kebudayaan yang dimaksud adalah Jaranan Jowo, Wayang Krucil, Tiban, serta Tiwul. Dari pematenan itu dipastikan keempatnya menjadi milik Kabupaten Kediri.
Dari bidang purbakala, suami Eriani Annisa Hanindhito itu mendorong percepatan dalam proses ekskavasi Situs Adan-adan, Kecamatan Gurah.
Hasilnya, pihaknya mengambil kebijakan untuk tetap menampilkan beberapa item hasil ekskavasi untuk keperluan edukasi hingga wisata kebudayaan berbasis desa wisata budaya.
Disinyalir situs tersebut luasnya melebihi Candi Borobudur karena terindikasi melintasi 3 desa yakni Desa Adan-Adan, Semanding serta Gayam, Kecamatan Gurah.
Selesaikan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah

Dewasa ini Pemerintah Kabupaten Kediri juga telah menyelesaikan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Hal ini juga dibenarkan Imam Mubarok, Selaku Ketua DK4.
Menurutnya PPKD ini sangat penting demi kemajuan kebudayaan di Kabupaten Kediri. Diharapkan, dengan terselesaikannya PPKD ini dapat memberikan imbas langsung pada masyarakat.
Kemajuan dan potensi kebudayaan di Kabupaten Kediri ini juga diakui seniman sekaligus budayawan, Butet Kartaredjasa saat mengisi Focus Group Discussion (FGD) di Sendang Tirto Kamandanu pada Agustus 2022 lalu.
Butet menyebutkan Kediri memiliki harta karun yang juga harta karunnya Indonesia. Dari risetnya, didapat jejak sejarah bahwa pertama kali merah putih dikibarkan di Kediri oleh Jayakatwang. Puncaknya ada di cerita Panji yang juga dikembangkan di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand.
“Jadi ibu kota cerita-cerita tentang Panji itu di sini, puncak kebudayaan yang tidak hanya mempengaruhi Indonesia, tapi mempengaruhi ASIA, ” tegas Butet.
Mas Dhito Gelar Festival 1000 Barong

Bagi masyarakat Kediri, Kesenian Barong sudah mendarah daging. Selain jaranan, barongan adalah pertunjukkan yang tidak pernah dilewatkan, terlebih saat bulan Suro atau bulan muharram dalam penanggalan Jawa.
Bupati Kediri menepati janjinya menggelar festival 1000 barong sebbagai rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri Ke-1219 tahun 2023.
Festival 1000 barong yang sempat absen karena pandemi Covid-19 ini kembali digelar di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) pada Minggu awal bulan Maret 2023 lalu.
Jumlah peserta yang mengikuti festival ini sebanyak 2400 barong dimana sebagian berasal dari luar kota. Ada dari Tangerang, Bandung, Jakarta, Sumatera bahkan Ambon juga mendaftarkan diri.
Adi Suwignyo, selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri itu menyebut, meski target peserta telah terpenuhi dan pendaftaran telah ditutup, namun yang ingin berperan serta meramaikan kegiatan itu cukup banyak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin membumikan kesenian tradisional warisan leluhur yang telah menjadi kekayaan daerah ini kepada masyarakat terutama generasi muda. Apalagi kesenian jaranan jowo kini telah diakui menjadi kesenian daerah asli Kabupaten Kediri.
Dalam pelaksanaannya kegiatan festival 1000 barong ini, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri menggandeng paguyuban seni jaranan Kabupaten Kediri.
Menurut Mas Dhito barong dan kesenian jaranan merupakan kesenian tradisional Kabupaten Kediri yang harus tetap dilestarikan. Dia bakal terus menggandeng teman-teman seni jaranan se-Kabupaten Kediri untuk mengadakan pementasan seni barong.
Ganti Tagline Menjadi Kediri Berbudaya

Tagline Kediri Berbudaya yang diluncurkan Bupati Hanindhito Himawan Pramana di hari jadi Kabupaten Kediri ke-1219 tahun 2023.
Melalui tagline Kediri Berbudaya, Mas Dhito, mengharapkan masyarakat khususnya generasi muda untuk selalu melestarikan budaya warisan leluhur.
Pelaksanaan kegiatan budaya di tiap pedesaan pun tidak berbarengan, melainkan berdasarkan perhitungan hari masyarakat setempat sebagaimana dilakukan para leluhur.
Adapun lokasi pelaksanaan puncak kegiatan budaya diadakan di tempat yang diyakini memiliki nilai historis atau spiritual bagi masyarakat setempat.
Seperti Desa Menang Kecamatan Pagu, setiap tahun diperingati dengan kirab ritual 1 Suro di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Kirab ini dilakukan untuk mengenang kebesaran Prabu Sri Aji Joyoboyo yang membawa kejayaan Kerajaan Kediri.
Kemudian, upacara ritual larung sesaji di kawah Gunung Kelud yang biasanya dilakukan di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngancar. Ritual ini dimaknai sebagai bentuk syukur warga atas hasil bumi yang melimpah.
Kedua kegiatan budaya itu memiliki entitas yang berbeda menjadikan kekayaan wisata budaya di Kabupaten Kediri yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Begitu pula kegiatan budaya yang dilakukan pedesaan lain. Keunikan yang menjadi ciri khas daerah setempat ditonjolkan dan membedakan dengan daerah lain.
Misalnya, masyarakat Desa Keling, Kecamatan Kepung, salah satu desa wisata menggelar prosesi budaya dikemas dengan menonjolkan potensi yang menjadikan entitas Desa Keling.
Hal itu diakui Pengurus Pokdarwis Desa Wisata Keling, Didin Saputro. Disampaikan, kirab budaya di desa Keling diikuti warga dari tiap pedusunan untuk mempererat kebersamaan warga desa.
Selain membawa hasil bumi, peserta kirab juga membawa air suci yang diambil dari tiap dusun untuk disatukan di area makam Mbah Wahab, tokoh yang memiliki nilai sejarah bagi daerah Keling.
Adapun kesenian yang menjadi potensi lokal Desa Keling seperti jaranan Jowo ikut tampil meramaikan jalannya kirab budaya.
Pun begitu, dari rangkaian kirab budaya itu ada satu prosesi yang dinilai memiliki entitas yang membedakan dengan daerah lain yakni adanya prosesi jamasan.
Seminar Lintas Masa, Efek Menular Pelestarian Budaya Kediri

Kabupaten Kediri memiliki sejarah, budaya dan peradaban yang sangat besar. Efek menular pelestarian pada dua aspek tersebut mulai dimunculkan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri di Hari Jadi Kabupaten di tahun ini.
Sejarah Kediri dikupas tuntas pada Seminar Nasional Lintas masa edisi pertama yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kediri di Auditorium Simpang Lima Gumul, Sabtu (11/3/2023) lalu.
Kayato Hardani, salah satu nara sumber dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyebutkan masyarakat Kabupaten Kediri patut berbangga dengan sejarah yang dimiliki.
Menurutnya, Kediri sendiri layer sejarahnya luar biasa. Mulai klasik sendiri sudah berlayer-layer, masa islam sendiri.
Dengan modal tersebut, kata Kayato, bisa digunakan sebagai pembelajaran. Dimana data-data sejarah dan arkeologi harus diperlakukan ilmiah dengan metode yang tepat. Sehingga diharapkan tidak ada penyelewengan hingga salah interpretasi dalam menelaah sejarah.
Kayato menambahkan, peran pemuda menjadi satu faktor penting dalam pelestarian sejarah. Sungai Serinjing misalnya. Pemuda dapat melestarikan sungai yang ditandai dengan Prasasti Harinjing, dimana pertama kali kata Kediri disebut.
Sungai ini pula sebagai penunjuk jejak Bagawanta Bhari yang merubah irigasi menjadi sistem pengairan yang hingga sekarang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Mereka (pemuda) adalah pewaris langsung Bagawanta Bhari, bagaimana mereka menjaga. Satu kegiatan diposting dan itu nanti akan menularkan efek-efek (pelestarian),” terangnya.
Hal ini juga dibenarkan oleh Dwi Cahyono budayawan sekaligus akademisi. Menurutnya, selama hampir dua abad lebih Kerajaan Kediri mampu membangun peradaban yang tak hanya di Kediri tapi juga nusantara.
Dwi menjelaskan, jika dihitung dari HUT Kabupaten Kediri yang sudah berusia 1219 tahun, perjalanan proses peradaban di Bumi Panjalu ini telah waktunya untuk dipetik.
Terlebih, di masa kepemimpinan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana ini terus diberikan ruang bagi pelestarian kebudayaan.
“Buah dari perjalanan panjang peradaban Kediri sudah saatnya dipetik, oleh karena itu kegiatan (seminar lintas masa) semacam ini adalah ikhtiar untuk menemukan buah dari proses perjalanan panjang itu,” tandasnya.
Buktinya, prasasti-prosasti peninggalan Kabupaten Kediri ditemukan di daerah aliran Sungai Brantas. Dia juga menyebutkan Brantas sebagai urat nadi, sebagai sungai besar sebagai transportasi air, pasokan kebutuhan air pertanian.
Di akhir seminar tersebut, peserta yang mayoritas berasal dari Kabupaten Kediri ini menandatangani petisi untuk memulangkan Prasasti Harinjing yang sekarang berada di Museum Nasional.
Kayato kembali mengatakan, proses pemulangan prasasti ini dikembalikan lagi kepada masyarakat. Seberapa urgensi prasasti yang berada di Desa Siman, Kecamatan Kepung itu untuk dipulangkan.
Pertama Kali, Pagelaran Wayang Kulit Bawakan Cerita dalam Babad Kadhiri Secara Utuh
Sejarah tanah Kediri hingga menjadi kerajaan dalam serat Babad Kadhiri akan ditampilkan dalam perspektif cerita wayang. Pagelaran wayang kulit ini membawakan 10 lakon secara berseri selama tiga hari berturut-turut pada 2-4 Mei 2023 lalu.
Pagelaran wayang kulit yang diinisiasi Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana ini digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri Ke-1219.
Mas Dhito, sapaan akrabnya menyampaikan, untuk menggelar wayang kulit ini, pemerintah daerah bekerjasama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Kediri.
“Melalui cerita yang utuh dan ditampilkan secara berseri ini diharapkan masyarakat khususnya generasi muda menjadi lebih tahu dan paham mengenai sejarah Kediri,” kata Mas Dhito.
Babad Kadhiri yang dibawakan dalam perspektif cerita pewayangan ini menjadi sarana tranformasi pengetahuan sejarah Kediri yang sangat berharga.
Selain sebagai tontonan, pagelaran wayang kulit ini diharapkan dapat menjadi tuntunan. Sebab, banyak nilai-nilai positif yang dapat dipelajari melalui lakon atau cerita yang dibawakan dalang.
“Dengan mengetahui jalannya cerita dengan karakteristik tokoh yang ada dalam tiap lakon, kita berharap ada nilai-nilai positif yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan keseharian,” tutur Mas Dhito.
Ki Didik Wibisono, perwakilan Pepadi Kabupaten Kediri mengungkapkan, cerita-cerita dalam Babad Kadhiri yang dibawakan dalam pagelaran wayang kulit diakui baru pertama kali ini dibawakan secara utuh.
“Pertama kali ini, penampilan secara utuh, mulai dari berdirinya kerajaan Mamenang sampai tenggelamnya (Kerajaan Mamaneng),” terangnya.
10 lakon yang dibawakan dalam pergelaran itu. Pertama, Babad Mamenang yang menceritakan sejarah munculnya Kerajaan Mamenang. Kedua, Sri Aji Joyoboyo Jumeneng menceritakan sejarah Sri Aji Jayabaya menjadi raja di Mamenang.
Tiga, Jongko Jinarwo menceritakan tentang Sri Aji Jayabaya medharake/memaparkan tentang Jangka Jaya Baya. Empat, Mayangkoro yang menceritakan tentang moksanya Resi Mayangkoro/Anoman.
Lima, Angling Dharma, menceritakan kelahiran Angling Dharma cucu dari Sri Aji Jayabaya. Enam, Sang Cakrawartin (Cakrawartin artinya utusan Tuhan) lakon ini menceritakan epos kepahlawanan Angling Dharma membantu Kerajaan Kediri dari marabahaya.
Tujuh, Jaya Amijaya Dadi Ratu yang menceritakan Raden Jaya Amijaya anak dari Prabu Jayabaya menjadi raja. Delapan, Jaya Amisena Dadi Ratu, menceritakan Raden Jaya Amisena anak Prabu Jaya Amijaya menjadi raja.
Sembilan, Sri Aji Pamasa Krama, menceritakan pernikahan anak Prabu Jaya Amisena yang bernama Sri Aji Pamasa. Sepuluh, Sri Aji Pamasa, menceritakan Kerajaan Mamenang yang dilanda banjir bandang, sehingga kerajaan tenggelam, dan Kerajaan Mamenang dipindah ke Pengging.
Keseluruhan ada 12 dalang yang akan membawakan semua lakon-lakon itu secara berseri selama 3 hari. Tak hanya dalang pria, namun juga akan tampil dalang wanita.
“Mudah-mudahan banyak masyarakat yang dapat menonton dan menikmati seluruh cerita dalam pagelaran wayang kulit ini,” pungkas Didik Wibisono yang menjabat bendahara Pepadi Kabupaten Kediri itu.
Hadirkan Suasana Cerita Panji pada Tempat Wisata

Bupati Kediri menyiapkan konsep baru untuk Wisata Ubalan. Pihaknya berencana menghadirkan cerita panji sebagai experience baru bagi pengunjung.
Konsep tersebut didesain layaknya latar cerita pada masa cerita panji. Dengan demikian, harapannya para pengunjung di Ubalan bisa merasakan bagaimana masuk dalam cerita panji di masa lalu.
Orang nomor satu di Kabupaten Kediri tersebut menjelaskan, jika melihat time line pengembangan Ubalan, pihaknya baru akan melakukan rehab pada tahun 2024.
“Jadi prediksi saya, hitungan saya sudah bisa menjadi destinasi wisata atau theme park, Jadi tempat wisata yang punya konsep di 2024,” kata bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu pada Sabtu (21/10/2023) lalu.
Pihaknya mengatakan untuk merealisasikan konsep tersebut, bupati yang gemar bervespa ini akan melakukan survei lapangan untuk memastikan konsep yang dicanangkan cocok dengan kondisi destinasi yang berada di Kecamatan Wates tersebut.
Mas Dhito berharap dengan konsep yang baru ini, akan bisa menarik banyak pengunjung. Terlebih letak Ubalan ini terbilang dekat dengan Gunung Kelud yang juga menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Kediri.
Selain Ubalan di tahun 2024, pihaknya juga akan melakukan rehab pada destinasi Sumber Corah yang berada di Kecamatan Pare.
“Memang Ubalan dan Corah sedang kita bahas, dalam hitungan time line yang sekarang ada, akan mulai direhab tahun depan,” jelas Mas Dhito.
Untuk membuat konsep baru di Ubalan tersebut, Mas Dhito rencananya akan menggandeng Provaliant Group yang juga telah berhasil membuat theme park di kota-kota besar.
Salah satu pimpinan Provaliant Group, Chandra Sugiono mengungkapkan konsep cerita panji ini merupakan konsep berlatar kearifan lokal pertama yang dibuat.
Hal ini menurutnya, bakal menjadi daya tarik tersendiri. Pasalnya cerita panji yang akan dipamerkan tersebut merupakan legenda asli dari Kediri yang telah dikenal oleh masyarakat.
“Rencananya semua pekerja akan menggunakan baju pada jamannya, seperti menjadi casting atau aktor aktris di dalam dunia (yang dibuat) itu,” katanya.
Dari berbagai cerita panji yang ada, seperti cerita timun mas dan ande-ande lumut, pihaknya akan melakukan pergantian tema sesuai cerita yang diangkat secara periodik.
“Rencananya sih kita akan punya tematik-tematik yang akan berganti secara periodik,” terangnya.
Tumbuhkan Ekosistem Bermusik Melalui Keroncong Svaranusa 2023

Keroncong Svaranusa 2023 digelar di Kabupaten Kediri dengan menghadirkan 3 artis papan atas. Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan konser ini sebagai wadah temu karya bagi musisi keroncong nasional dan lokal.
Mas Dhito mengatakan, dengan digelarnya konser ini ekosistem musik di Kabupaten Kediri bisa bertumbuh. Seiring dengan hal tersebut, pihaknya menilai peminat keroncong di wilayahnya bisa meningkat.
“Sebagai ruang karya dan berkreasi bagi pelaku seni keroncong papan atas maupun lokal agar bisa sejajar,” kata Mas Dhito melalui wakilnya Dewi Mariya Ulfa.
Tak hanya musisi lokal yang muncul, Pihaknya juga mengatakan konser tersebut juga ditujukan sebagai media promosi agar keroncong bisa dikenal utamanta bagi generasi milenial.
Terlebih menurutnya event musik semacam ini akan menjadi daya tarik tersendiri ketika nantinya bandara baru telah beroperasi.
“Semoga bermanfaat bagi masyrakat dan memberikan semangat tersendiri bagi Kediri Berbudaya,” jelasnya.
Adapun event tersebut adalah kerjasama antara Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Pemerintah Kabupaten Kediri, dan Yayasan Svaranusa.
Sedangkan hadirnya tiga artis papan atas yakni Okky Kumala Sari yang dikenal sebagai penyanyi keroncong di kanal Youtube, Hendra Kumbara pelantun lagu balungan kere, serta Donie Sibarani mantan vokalis Ada Band mampu menyita perhatian masyarakat.
Hal ini dibuktikan dengan padatnya venue acara dengan hadirnya ribuan penonton yang memadati perempatan tugu Simpang Lima Gumul (SLG) tersebut.
Sementara penasehat Yayasan Svaranusa, Ade Bhakti mengatakan konser tersebut merupakan puncak acara Keroncong Svaranusa 2023. Beberapa hari sebelumnya telah digelar workshop dan pelestarian keroncong di beberapa wilayah di Jawa Timur.
Pihaknya juga mengatakan konser tersebut merupakan konser kedua setelah di tahun 2022 lalu sukses digelar di Kota Semarang. Dengan rutin digelar setiap tahun Ade berharap keroncong bisa disukai oleh anak muda.
“Supaya musik keroncong bisa dinikmati anakmuda. Adik-adik ini mulai didengarkan musik keroncong dengan irama-irama khas keroncong, supaya keroncong ini bisa lestari,” pungkasnya.
Demikian rangkaian kegiatan dan perhatian Mas Dhito dan Mbak Dewi selama kurun waktu 2023. [ADV PKP/nm/ted]






