Kediri (beritajatim.com) – Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor untuk mengukur kemajuan pembangunan di suatu daerah termasuk di Kabupaten Kediri.
Sepanjang tahun 2023 ini, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dan Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa melakukan berbagai sepak terjang dalam meningkatkan perekonomian di Kabupaten Kediri.
Beritajatim.com menyajikan informasi tentang kalaidoskop 2023 tentang sepak terjang pasangan Mas Dhito dan Mbak Dewi dalam upaya meningkatkan perekonomian di Kabupaten Kediri pada tahun ini.
Sejak awal menjabat sebagai Bupati Kediri, Mas Dhito langsung tancap gas dalam menggarap sektor perekonomian, terutama yang menyentuh masyarakat bawah. Berbagai upaya dilakukan bahwa pembangunan proyek mercusuar mengusung konsep peningatan perekonomian.
Stadion Kediri Usung Konsep Sport Bussines Entertainment

Stadion Gelora Daha Jayati Kediri kini memasuki tahap final dalam pembangunannya. Stadion yang diproyeksikan menjadi pusat kegiatan baru bagi masyarakat Kabupaten Kediri ini berkonsep stadion baru berkonsep Sport, Bussiness and Entertainment (SBE).
Berdiri di atas lahan seluas 10 hektar, stadion yang namanya disayembarakan itu tidak hanya sebagai kawasan olahraga. Melainkan juga sebagai kawasan bisnis dan hiburan.
“Artinya stadion ini tidak hanya sebagai ajang olahraga. Jadi, juga event-event besar yang secara otomatis perputaran ekonomi akan jalan sendiri,” kata Mas Dhito, Jumat (6/1/2023) lalu.
Masyarakat Kabupaten Kediri diharapkan bisa mengambil manfaat secara ekonomi dari keberadaan stadion yang dibangun dengan dana APBD sekitar Rp150 miliar itu. Stadion Gelola Daha Jayati bakal menjadi fasilitas publik yang dapat mewadahi aktivitas warga.
Kawasan stadion akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti lapangan voli, lapangan basket, lapangan tenis, panjat dinding dan area jogging track yang terintegrasi dengan taman di sekitar bangunan stadion.
Stadion Kediri ini akan menjadi ruang rekreasi yang mengangkat aspek entertainment. Artinya, stadion itu juga dapat sebagai tempat penyelenggaraan konser, pameran atau expo, maupun acara komonitas.
Pembangunan stadion juga disediakan kawasan bisnis, karena terdapat area yang didesain secara khusus untuk disewakan menjadi lounge atau ruang pertemuan. Sedangkan toko retail direncanakan akan dibangun di luar stadion.
Sesuai instruksi Bupati Kediri, stadion di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri itu menyediakan ruang untuk UMKM lokal. Disana akan ada retail shop yang menjual kerajinan dan hasil karya lokal serta zona terpisah di luar stadion untuk area food court UMKM (usaha kuliner).
Memetik Manfaat Ekonomi dari Pengembangan Alpukat Kelud sebagai Komoditas Unggulan

Dalam menggarap sektor perekonomian, Bupati Kediri juga memperhatikan pertanian dan perkebunan. Banyak komoditas holtikultura dari Kabupaten Kediri berpotensi dalam peningkatan perekonomian masyarakat.
Salah satunya adalah buah Alpukat Kelud. Sebuah tanaman holtikultura unggulan baru di Kabupaten Kediri yang dikembangkan secara serius.
Saat ini, Alpukat Kelud dikembangkan oleh Desa Wisata Jambu Kediri. Alpukat Kelud memiliki ciri khusus yang membedakan dengan alpukat jenis lain. Buah alpukat yang satu ini memiliki ciri khas berbentuk oval seperti pepaya itu.
“Kita akan pikirkan bagaimana industrialisasi (Alpukat Kelud)nya, karena kita sekarang lagi fokus industrialisasi nanas kelud (Pasir Kelud 1),” terang Mas Dhito, pada Senin (23/1/2023) lalu.
Alpukat Kelud akan menjadi primadona baru Kabupaten Kediri, setelah sebelumnya buah Nanas Pasir Kelud (PK-1). Buah yang satu ini diklaim menjadi salah satu jenis alpukat dengan daging buah terbesar di Indonesia.
Menurutnya, dengan faktor inilah pihaknya akan menjadikan Alpukat Kelud menjadi salah satu komoditas unggulan di wilayahnya.
Selain ukurannya yang besar dan teksturnya yang lembut, pohon alpukat ini juga dinilai bebas dari hama ulat sehingga memungkinkan pesatnya pembudidayaan. Pohon tidak ada ulatnya dan salah satu buah dengan daging terbesar di Indonesia.
Mas Dhito mendukung penuh mengembangkan Alpukat Kelud. Buah dengan kualitas premium ini menjadi komoditas unggulan akan berdampak besar pada sektor hortikultura Kabupaten Kediri. Yang mana, dengan pengembangan buah-buah lokal Kabupaten Kediri akan meningkatkan ekonomi.
“Alpukat Kelud (namanya) identik dengan gunung yang ada di Kediri. Saya dan masyarakat sangat bangga karena kualitasnya beda,” tutur Agus, Kepal Desa Jambu saat bersama Bupati Kediri.
Lebih lanjut Agus menuturkan penjualan Alpukat Kelud berbeda dengan alpukat pada umumnya. Jika alpukat biasa dijual per kilogram, namun untuk alpukat tersebut dijual bijian.
Sedangkan, berat Alpukat Kelud ini sendiri berada pada kisaran 1 hingga 2 kilogram per buahnya. “Kita alpukat lain kita jual per kilo dengan harga Rp 40- Rp 50 ribu. Alpukat Kelud ini kita jual beda. Satu buah Rp100 ribu,” pungkasnya.
Hilirisasi dan Industrialisasi Nanas Kabupaten Kediri

Selain alpukat kelud, masih ada satu lagi produk holtikultura di Kabupaten Kediri yaitu buah nanas. Berbicara tentang buah dengan kulit berduri ini paling terkenal dari lereng Gunung Kelud.
Tidak ingin menyia-nyiakan potensi Nanas Kelud, Bupati Kediri melakukan sebuah festival untuk produk unggulan Kabupaten Kediri ini.
Acara itu bertajuk Pineapple Festival 2023. Dalam event tahunan itu ada berbagai lomba pameran olahan dan edukasi terkait budidaya nanas dan pawai tumpeng nanas, fashion pineapple carnival, dan gerebek nanas.
Mas Bup Dhito mengakui, bahwa Kabupaten Kediri memiliki potensi budidaya nanas yang cukup besar. Tahun 2022 luasan budidaya nanas Kabupaten Kediri sebesar 2.578 hektar. Terdiri dari empat varietas yakni queen, simplex, pasir kelud dan semut kayen.
Mas Dhito fokus pada hilirisasi dan industrialisasi nanas. Tujuannya supaya Nanas Kabupaten Kediri selain dijual dalam bentuk buah, harus dioptimalkan dalam bentuk produk turunan olahan nanas. Sehingga memberi nilai tambah bagi warga masyarakat.
Selain menjadi sarana hiburan event ini sekaligus menggali kreatifitas potensi khususnya produk varian nanas. Lewat pameran, diharapkan muncul kreatifitas hasil olahan dan muncul potensi baru terkait produk turunan buah nanas. Ada pie nanas,dodol, jenang natadepinas, bolunanas, sari nanas madumongso nanas, juga produk fashion serat nanas.
Tumbuhkan Ekomomi Melalui Infraktrutur Jalan

Mas Dhito menyadari bahwa konektifitas antar suatu wilayah sangatlah penting dalam upaya meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Kediri. Itu sebabnya, Mas Dhito konsisten dalam penyediaan infrakstur jalan.
Ada dua akses jalan penghubung berupa jembatan yang diresmikan Mas Dhito pada tahun 2023 ini. Yaitu, Jembatan Ngadi dan Jembatan Gantung.
Jembatan Ngadi merupakan akses penghubung antara Kabupaten Kediri dengan Kabupaten Tulungagung. Sedangkan Jembatan Jantung desa Ngetrep merupakan akses penghubung antar desa yang ada di wilayah Kecamatan Mojo.
Bupati berharap jembatan ini bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi baik itu masyarakat Kabupaten Kediri dan masyarakat Kabupaten Tulungagung.
Diketahui, Jembatan Ngadi mengalami kerusakan akibat diterjang banjir pada Februari 2017 dan baru diperbaiki pada pemerintahan Bupati Hanindhito Himawan Pramana.
Pembangunan Jembatan Ngadi menggunakan APBD Kabupaten Kediri dengan nilai Rp7,7 miliar. Jembatan Ngadi dibangun dengan panjang 47 meter dan lebar 9 meter, dengan rincian 7 meter untuk jalan, 2 meter untuk trotoar kanan dan kiri.
“Kita tidak melihat ini kepemilikannya siapa dan bagaimana-bagaimananya yang terpenting jembatan ini bisa dipergunakan baik itu dari masyarakat Kabupaten Kediri maupun masyarakat Kabupaten Tulungagung,” tutur Mas Dhito.
Jembatan Ngadi yang dibangun sejak Juni 2022 itu mulai beroperasi pada 27 Desember 2022 lalu. Mas Dhito berharap dengan bisa dilewati jembatan itu, ke depan tidak ada lagi kemacetan terutama menjelang lebaran.
Kemudian, Jembatan Gantung di Desa Ngetrep yang diresmikan merupakan reward dari Kementerian PUPR pada peringatan Hari Jalan Tahun 2021.
Hadiah itu diberikan karena Pemerintah Kabupaten Kediri dibawah kepemimpinan Mas Dhito memperoleh juara dua atas kinerja bidang kebinamargaan dalam penyelenggaraan jalan. Kepala Desa Ngetrep Marli menuturkan, jembatan gantung itu menjadi penghubung antara warga RT 04 dan RT 05 Dusun Puhluwang.
Adanya jembatan gantung itu warga RT 05 yang berbatasan dengan Desa Ngadi dan sebelumnya terpencil karena tidak ada akses jembatan dapat terhubung dengan RT 04. “Lokasi RT 05 itu memang di perbatasan, sebelumnya kalau mau lewat nyeberang lewat kali, tapi kalau banjir tidak bisa lewat,” ungkapnya saat meresmikan.
Ketika terjadi banjir, warga RT 05 untuk melintas menuju RT 04 maupun sebaliknya harus memutar arah melewati Desa Ngadi. Mewakili warga, Marli mengungkapkan terimakasih kepada Mas Dhito dengan dibangunnya jembatan gantung itu.
Wajibkan ASN Kenapakan Pakaian Khas Untuk Mendukung Pelaku UMKM

Sejak awal datang ke Kabupaten Kediri, Mas Dhito membawa misi pembangunan untuk semua masyarakatnya, terlebih bagi para pelaku UMKM. Banyak terobosan yang dilakukan untuk mereka.
Salah satunya dengan mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPK) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri untuk memakai pakaian khas.
Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Bupati Nomor OT.09_1/418.07/I/2023 tentang Peraturan Bupati Kediri Nomor 61 Tahun 2022 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Kediri Nomor 29 Tahun 2021 tentang Pedoman Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri
Penggunaan pakaian khas Wdihan Kadiri dan Ken Kadiri ini diwajibkan bagi ASN dan PPPK di Kamis pertama setiap bulannya. Jelas hal ini menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM di Kabupaten Kediri yang bergerak para sektor konveksi.
Terkait pengadaan pakaian khas bagi ASN dan PPPK, lanjut Solikin, dibebankan pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) masing-masing. Dengan ASN menggunakan pakaian khas, otomatis akan menjadi peluang emas bagi pelaku UMKM di Kabupaten Kediri.
Disisi lain, para pegawai mengaku bangga dengan mengenakan pakaian khas tersebut. Asmi Hanifah, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik salah satunya.
Perempuan berusia 52 tahun itu juga mengaku senang dengan diwajibkannya penggunaan pakaian khas ini. Menurutnya meski masih canggung, namun Ken Kadiri yang dikenakannya itu masih leluasa untuk dipakai saat beraktivitas di kantor.
“Sebenarnya memang agak canggung, tapi asik juga, mungkin belum terbiasa saja. Tapi kita tetap leluasa,” tuturnya.
Saking senangnya, dirinya mengaku menyempatkan waktu untuk mengabadikan momen bersama teman-teman sekantor. Hal serupa juga dirasakan oleh Usahadati, Customer Service Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kediri.
Pihaknya mengaku dapat respon positif dari masyarakat yang melihatnya menggunakan pakaian dengan motif gringsing serta lidah api tersebut saat memberikan pelayanan di meja resepsionis.
Pameran UKKM Jadoel dan Ajakan ASN Pakai Produk Lokal

Masih seputar sektor UMKM. Pada tahun 2023, Bupati Kediri memberikan ruang bagi mereka dalam memasarkan produk-produk unggulan, terlebih dengan kehadiran Bandara Dhoho Kediri.
Maka, Mas Dhito membuka sebuah pameran UMKM Jadoel dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Kediri ke-1219. Dari pameran ini bermunculan embrio-embrio UMKM yang dapat digali potensinya.
Tidak hanya itu, Mas Dhito sengaja mengusung tagline Sahitya Adhikara Budaya atau sinergi membangun kediri berbudaya. Merefleksikan tagline itu, Mas Dhito mengajak semua ASN untuk menggunakan produk UMKM daerah untuk menumbuhkan budaya cinta terhadap produk lokal.
“Saya mengajak semua ASN, khususnya bagi kepala OPD di lingkup Pemerintah Kabupaten Kediri untuk membudayakan beli produk UMKM di Kabupaten Kediri,” tutur bupati muda itu.
Sekitar 84 stand UMKM meramaikan pameran tersebut. Ada dari SKPD pelayanan, lalu dari paguyuban UMKM, kecamatan, perbankan serta instansi vertikal lainnya.
Mas Dhito menginginkan akan ada perluasan pasar bagi pelaku UMKM. Dari pameran ini, lanjutnya, juga merupakan cara Dinas Kopusmik untuk mendata UMKM mana yang siap menghadapi bandara.
Minimarket Sediakan Ruang Bagi Produk UMKM

Selain mengkurasi para pelaku UMKM serta mengeluarkan kebijakan bagi ASN untuk membeli produk UMKM lokal, Bupati Kediri juga berusaha membantu pemasaran produk UMKM melalui ritel modern.
Mas Dhito menggandeng supermarket atau minimarket untuk membantu memasarkan produk UMKM Kabupaten Kediri.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan Tutik Purwaningsih, menindaklanjuti arahan bupati Mas Dhito pihaknya, telah menyurati pihak minimarket yang ada di Kabupaten Kediri.
“Kita nantinya juga akan undang dan pertemukan pihak minimarket dengan UMKM,” katanya, Selasa (8/8/2023) lalu.
Harapan Mas Dhito supaya minimarket menyediakan stand untuk UMKM sekaligus mengingatkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 23 Tahun 2021 yang mewajibkan pusat pembelanjaan dan toko swalayan menyediakan ruang usaha/promosi untuk UMKM.
Setelah pertemuan dan terdapat komitmen antara pihak minimarket dengan pelaku UMKM, lanjut Tutik, dalam jangka pendek diharapkan minimarket harus dapat memasarkan produk UMKM sekitar.
“Untuk jangka menengah dan panjang, produk UMKM bisa masuk minimarket di semua wilayah Kabupaten,” tuturnya.
Menurut Tutik, selama kepemimpinan Mas Dhito, pelaku UMKM mendapatkan perhatian serius. Termasuk pada fasilitasi perijinan dan mengikutkan produk UMKM dalam kurasi.
Dinas Perdagangan dalam hal ini bekerjasama dengan instansi lain termasuk Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Kopusmik) Kabupaten Kediri. Kopusmik memastikan kualitas dan kontinuitas produk UMKM yang akan masuk ke ritel modern.
Menjaga kualitas dan kontinuitas ini penting supaya produk yang dijual nantinya dapat bertahan dan diterima di pasaran. Pelaku UMKM dituntut supaya produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar.
Disisi lain, pelaku UMKM juga memiliki komitmen terhadap penyediaan produk ketika nantinya sudah masuk ke minimarket. Penjaminan keberlangsungan pasokan ini perlu diperhatikan para pelaku UMKM.
Di Kabupaten Kediri sendiri terdapat ribuan pelaku UMKM. Untuk membantu pemasaran, pemerintah daerah pun kerap menggandeng pelaku UMKM dalam setiap event yang diadakan.
Dengan menggandeng UMKM dalam event yang diadakan pemerintah daerah itu, Mas Dhito berharap produk yang dihasilkan pelaku UMKM dapat semakin dikenal luas publik.
Genjot Perekonomian dari Kontes Gede-gedean Lele

Selain UMKM, perkebunan dan kebijakan untuk internal ASN serta PPPK, Mas Dhito juga memperhatikan sektor perikanan dalam upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Pertengahan bulan Maret 2023, Mas Dhito menggelar kontes gede-gedean lele. Kontes ini diklaim baru pertama dilakukan di Indonesia.
Kontes ikan biasa ditemui pada ikan-ikan hias. Namun, ditangan bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu, ikan berkumis yang notabene adalah ikan konsumsi justru dapat diubah menjadi kontes yang unik dan baru pertama kali ditemui di Indonesia.
Alasannya, besarnya potensi lele di Bumi Panjalu. Produksi ikan lele di wilayah ini pada tahun 2022 lalu mencapai 16300 ton.
Peserta yang dikhususkan bagi pembudidaya tersebut dimaksudkan untuk edukasi serta sebagai ajang promosi. Ke Depan, lanjut Nur Hafid, kontes ini akan dibuka untuk umum.
Dalam kontes tersebut ditemukan lele terbesar mencapai 12 kilogram. Selain besarnya, pemenang dinilai dari kondisi morfologinya atau bentuk dari ikan lele.
Selain kontes gede-gedean lele, Pemerintah Kabupaten Kediri juga menggelar kontes betta atau ikan cupang dan kontes channa. Ketiga kontes yang berlangsung bersamaan di basement Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) pada 17-19 Maret 2023.
Kontes tersebut juga menyita perhatian pengunjung. Dimana saat berkunjung ke monumen yang menjadi pusat ekonomi di Kabupaten Kediri itu bisa sekaligus melihat berbagai macam ikan hias.
Itu banyak hal yang sudah diperjuangkan oleh Mas Dhito dan Mbak Dewi dalam upaya peningkatan perekonmian sepanjang tahun 2023 ini. [ADV PKP/nm/ted]






