Surabaya (beritajatim.com) – Prestasi demi prestasi diraih Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Usai menerima akreditasi unggul dari BAN-PT, kali ini dosen Unusa diangkat menjadi profesor kehormatan di India.
Dia adalah Achmad Syafiuddin, S.Si, M.Phil, Ph.D. Dosen muda Unusa ini diangkat sebagai Distinguished Adjunct Professor (Profesor Kehormatan) oleh Saveetha Institute of Medical and Technical Sciences (SIMATS), India.
Gelar prestisius ini sebagai pengakuan atas kontribusi luar biasa Syaifuddin di dunia akademis. Selain itu juga sebagai bukti dirinya dianggap sebagai seorang profesor terhormat yang memiliki keistimewaan dalam bidangnya.
Dengan disematkannya penghargaan tersebut, maka Syafiuddin berkewajiban untuk mengajar dan datang sebanyak dua kali dalam setahun. Ia bakal berfokus pada pengembangan penelitian dan inovasi di bidang material alam untuk aplikasinya di kesehatan dan lingkungan.
Ia menyebut, pengajaran di luar negeri memerlukan dedikasi tinggi, dan kebanyakan yang mendapat kesempatan tersebut adalah mereka yang telah diakui secara global, seperti pemenang Nobel.
“Sangat sulit, khususnya diberikan gelar Distinguished Adjunct Professor. Hanya saintis yang diakui dunia saja biasanya yang diangkat,” ujar Syafiuddin, Selasa (19/12/2023).
Meskipun menghadapi perbedaan budaya, ia optimistis dapat mengatasi kendala bahasa karena kemampuan berbahasa Inggris mereka di atas rata-rata. “Mungkin hanya perbedaan budaya saja yang menjadi tantangan,” tambahnya.
Berbagi tips untuk para dosen yang bercita-cita mengajar di luar negeri, Syafiuddin menekankan pentingnya fokus pada kualitas riset dan karya tanpa mengharapkan penghargaan.
“Para peraih Nobel tidak pernah berharap diberikan Nobel karena mereka hanya melakukan riset dengan serius dan diuji oleh para saintis dari seluruh dunia,” ungkapnya.
Bagi Syafiuddin, penghargaan hanyalah bonus dari dedikasi dan kerja keras yang dilakukan. Dalam konteks pencapaiannya sebagai salah satu dari 2% scientists dunia, Syafiuddin menyampaikan bahwa jumlah publikasi penelitian yang berkualitas dan manfaatnya bagi ilmu pengetahuan menjadi kriteria penting.
“Jumlah banyak dan harus menjadi rujukan dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, itu pentingnya. Melaksanakan secara sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan adalah kuncinya,” ujarnya.
Ketua LPPM Unusa tersebut juga menilai bahwa prestasinya di institusi bergengsi ini adalah bukti kesejatian dan pengakuan dunia pada Unusa.
“Ini juga pertanggungjawaban kepada masyarakat yang telah menitipkan putra-putrinya untuk kuliah di Unusa. Prestasi ini diharapkan menjadi momentum bagi PTNU untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan dan penelitian global,” pungkasnya. [ipl/ian]






