Peringkat Persikabo 1973 di klasemen sementara Liga 1 2023-2024 berada di bawah Persebaya Surabaya, sebelum pertandingan di Stadion Wibawa Mukti, Bogor, Minggu (17/12/2023). Persikabo berada di peringkat 17 alias zona degradasi, sementara Persebaya berada di peringkat 13.
Di atas kertas, tak ada alasan bagi Persebaya untuk tidak meraih hasil sempurna dalam pertandingan ini. Jika kerepotan mencuri poin dari tim yang lebih kuat, tentu Persebaya harus bisa mengalahkan tim yang lebih lemah agar bisa menjauhi zona degradasi.
Tapi tidak demikian rupanya. Lagi-lagi Persebaya memetik hasil imbang 1-1. Setelah sempat unggul lebih dulu melalui Robson Duarte pada menit 30, gawang Persebaya yang dijaga Andhika Ramadhani dibobol dengan tandukan kepala Andy Setyo pada menit 65.
Hasil imbang ini memperpanjang rekor kegagalan Persebaya untuk mencatatkan kemenangan musim ini menjadi sembilan pertandingan. Persebaya terakhir menikmati kemenangan pada 23 September 2023, setelah mengalahkan Arema 3-1 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya.
Kegagalan meraih kemenangan ini membuat jarak Persebaya dengan zona degradasi hanya terpaut lima angka dengan satu pertandingan ekstra di tangan. Masih ada 12 pertandingan lagi. Jika tak hati-hati, Bajul Ijo bisa terpeleset, menggantikan Arema yang saat ini mengemas 21 angka, Persikabo (16 angka), dan Bhayangkara (15 angka).
Persebaya masih harus bertandang ke kandang Arema pada 27 Maret 2024 dan menjamu Bhayangkara pada 4 Februari 2024. Berkaca dari kegagalan mengalahkan Persikabo, bukan jaminan bagi Persebaya untuk meraih masing-masing tiga angka dari dua tim tersebut. Tak semudah itu. Apalagi Bhayangkara saat ini diperkuat mantan pemain AS Roma Radja Nainggolan.
Berdasarkan statistik sejak Liga 1 musim 2018, musim pertama Persebaya, ada syarat bagi sebuah tim agar terhindar dari degradasi: memiliki nilai minimal 40 angka. Saat ini Persebaya sudah mengemas 26 angka. Masih ada 14 angka minimal lagi yang harus dipungut dari 12 pertandingan tersisa.
Sebuah klub Liga 1 akan meraih poin maksimal 102 jika memenangi semua pertandingan. Klub yang berada pada zona degradasi pada akhir musim kompetisi maksimal hanya meraih 38,23 persen dari poin maksimal yang mungkin diraih.
Persentase poin Persebaya saat ini baru 25,49 persen. Masih jauh dari persentase aman. Maka tak ada opsi lain. Persebaya harus memaksimalkan 12 pertandingan sisa. Menyapu bersih semua laga tentu akan lebih baik. Namun, jika menengok tren statistik di kandang dan tandang saat ini, maka Persebaya diperkirakan hanya akan memperoleh 41 angka di akhir musim.
Persebaya menyisakan tujuh pertandingan kandang, yakni menghadapi PSIS, Bhayangkara, PSS Sleman, Madura United, Dewa United, Bali United, dan Persik Kediri. Lima pertandingan tandang menghadapi Persita Tangerang, PSM Makassar, Borneo FC, Arema, dan Persib Bandung.
Normalnya, jika semua laga kandang dimenangi dan pada semua laga tandang mengalami kekalahan, maka ada tambahan 21 poin untuk Persebaya, yang berarti total angka pada akhir musim adalah 47. Dengan raihan 46 persen poin, Persebaya selamat dari zona degradasi.
Masalahnya dengan performa Persebaya saat ini, Gelora Bung Tomo bukan lagi neraka bagi tim lawan. Dari 10 pertandingan kandang, Persebaya hanya mengumpulkan 16 angka dari maksimal 30 angka yang tersedia. Bajul Ijo hanya 4 kali menang, 4 kali imbang, dan 2 kali kalah. Selisih golnya pun buruk 15 -12. Rata-rata angka yang diraih hanya 1,6 poin per pertandingan.
Jika rata-rata poin ini stabil selama tujuh pertandingan kandang sisa, maka Persebaya akan memperoleh 11,2 atau 11 angka tambahan. Ini berarti setidaknya Persebaya harus memenangi minimal tiga pertandingan dan imbang di dua pertandingan.
Persebaya hanya punya jatah kalah dua kali di kandang. Tidak lebih, karena hanya dibutuhkan tiga angka lagi dari laga tandang agar bisa meraih 40 angka yang menjadi titik aman dari zona degradasi.
Jika skenario statistik ini tidak tercapai, Persebaya harus bekerja keras dalam lima pertandingan tandang. Ada 15 angka maksimal yang bisa diperoleh. Masalahnya tren Persebaya di luar kandang sangat buruk.
Dari 12 laga tandang, mereka hanya mampu mengemas 2 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 6 kekalahan, dengan rata-rata poin 0,83 setiap pertandingan. Dengan lima laga tersisa, Persebaya diperkirakan hanya bisa meraih 4,15 poin atau 4 angka dari satu kemenangan dan satu hasil imbang.
Tentu saja, semua itu hanya kalkulasi statistik di atas kertas. Namun Persebaya harus mengubah tren performa saat ini. Dari 22 pertandingan, Persebaya hanya mampu mengumpulkan 1,18 poin per pertandingan. Jumlah ini jauh jika dibandingkan musim 2022-2023 (1,53), 2021-2022 (1,85), 2019 (1,59), dan 2018 (1,47).
Uston Nawawi harus membuat anak-anak asuhnya lebih haus gol sembari rapat dalam bertahan. Ingat: hanya ada jatah dua kali kalah di kandang sendiri dalam 12 pertandingan sisa. [wir]






