Blitar (beritajatim.com) – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Blitar menyebut ada 20 TPS (tempat pemungutan suara) yang masuk dalam kategori rawan geografi. Puluhan TPS tersebut masuk dalam kategori rawan geografi lantaran berada di wilayah rawan bencana serta berada di desa terpencil.
Bawaslu Kabupaten Blitar menyebut 20 TPS yang masuk kategori rawan bencana dan berada di desa terpencil itu tersebar di beberapa Kecamatan mulai dari Gandusari, Bakung, Panggungrejo, Nglegok, Kesamben, Doko, Srengat hingga Wlingi. TPS yang masuk kategori rawan geografi ini pun dinilai kurang aman dan representatif untuk dijadikan tempat pencoblosan pada Pemilu 2024 mendatang.
“Sementara pemetaan yang sudah jadi rawan geografi. Karena ada rawan geografi, rawan soal penyelenggara ada netralitas penyelenggara rawan konteks politik soal hak pilih keamanan dan rawan kontestasi politik persaingan antar caleg dan orang bisa dipilih atau ditolak masyarakat karena gender atau suku. Kerawanan yang sudah selesai soal tps terpencil atau tersulit,” kata Jaka Wandira, Komisioner Bawaslu Kabupaten Blitar Divisi Parmas dan Humas, Rabu (13/12/23).
Dari beberapa wilayah tersebut, Desa Ngadirenggo Kecamatan Wlingi menjadi yang terbanyak memiliki TPS kategori rawan geografi. Pasalnya di desa Ngadirenggo terdapat 3 TPS yang lokasi terpencil dan harus melewati hutan.
Selama ini proses pengiriman logistik Pemilu ke 3 TPS itu pun harus dilakukan sehari sebelum pencoblosan. Medan yang ditempuh pun cukup sulit dan melewati hutan sehingga hal itu menjadi kerawanan tersendiri.
“Wlingi paling banyak satu desa ngadirenggo paling banyak. Karena faktor dia terpisah dari hamparan atau geografi desa induk. Ngadirenggo itu pisah tiga ada di Sirah Kencong, Wiji Ombo Sengon dan Ringin telu. Distribusi logistik biasanya satu hari sebelumnya. Melewati kebun desa lain sama dengan di Kesamben, Sukoanyar untuk ke TPS lewat desa Pohgajih Selorejo,” terang Jaka.
Sementara untuk wilayah Blitar Selatan, potensi bencana ada di Kecamatan Panggungrejo dan Sutojayan. Di dua kecamatan tersebut ada beberapa TPS yang masuk dalam kategori rawan bencana tanah bergerak dan banjir.
“Potensi bencana ada di panggungrejo gunung jingklong rawan banjir, di lodoyo Sutojayan Gondanglegi dan Bacem rawan banjir. Februari curah hujan tinggi. Di binangun juga rawan. Bisa saja sebelum pemilihan terjadi banjir tidak bisa pemungutan suara karena harus pindah TPS,” imbuhnya.
Kerawanan geografis itu ialah terpisah dari desa terpencil serta memiliki akses jalan sulit. Distribusi logistik lebih sulit. Secara logistik Pemilu juga rawan tidak dikawal. Karena lokasi terpencil maka akan muncul lagi kerawanan di kontestasi, karena di lokasi terpencil lebih mudah pengkondisian secara pemungutan suara.
“Jadi orang bisa menutup kampung, salah satu peserta pemilu bisa menutup kampung untuk memilihnya,” tutupnya. (Owi/ian)






