Jember (beritajatim.com) – Akhir pertandingan Liga 3 Grup H Jawa Timur di Stadion Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, Kamis (7/12/2023), antara Kresna Unesa Surabaya melawan Persema Malang sempat diwarnai kericuhan. Sejumlah pemain dua tim nyaris berkelahi jika tidak dicegah oleh ofisial masing-masing dan steward atau penjaga pertandingan.
Pertandingan memang berjalan keras dan penuh tensi tinggi. Benturan keras terjadi berkali-kali yang membuat wasit mengeluarkan tiga kartu kuning masing-masing untuk pemain Persema dan Kresna. Yan Bayu Saputra, kapten Persema, berkali-kali mempertanyakan keputusan wasit Ardy Nur Fauzi di lapangan.
Protes keras dilakukan Persema karena wasit tidak memberikan hadiah penalti, setelah Aditya Aura Mahreza dan Deny Aryanto dilanggar keras di kotak penalti. “Pertandingan sejak awal dirusak wasit. Wasit tidak fair, tidak layak memimpin Liga 3,” kata Dwi Karyawanto, pelatih Persema.
Buruknya kepemimpinan wasit, menurut Karyawanto, memhuat strategi berubah dan mental pemain Persema turun. “Kami lebih menguasai bola di babak pertama. Banyak peluang yang gagal dimanfaatkan, karena mental pemain sudah dirusak wasit. Bukan saya beralasan. Tapi kenyataannya seperti itu. Kami banyak sekali dirugikan,” katanya.
Tak hanya Persema yang tak puas dengan kepemimpinan wasit. Riko Heru Prasetyo, kapten Kresna Unesa, juga melihat keputusan wasit juga merugikan timnya. “Kami bersyukur bisa dapat tiga poin,” katanya.
Sejak menit awal, Kresna dan Persema bermain trengginas karena sama-sama ingin mencari kompensasi atas kekalahan masing-masing pada pertandingan pertama. Keputusan David Agus Prianto, pelatih Kresna Unesa, memasukkan Muhammad Jawahiril Arzaq menggantikan Muhammad Iqbal Baihaqi pada menit 30 mengubah pertandingan. Enam menit kemudian Jawahiril berhasil mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut.
Kresna Unesa sebenarnya berpeluang menambah gol. Namun dua kali eksekusi Ahmad Khisni Daro Ini yang masuk di menit 59 menggantikan Bagas Dwi Prayoga mengenai mistar gawang. Prtama saat ia menyambut bola tendangan bebas Jawahiril, dan berikutnya saat menyundul bola operan dari Ahmad Dheni.
Peluang terakhir ini menjadi kontroversi, karena bola terpental ke bawah. Pemain-pemain Kresna Unesa meyakini bola sudah melewati garis gawang. “Saya melihat bola jatuh miring ke dalam, dan memang (wasit) sering terlambat melihat garis terakhir pertahanan lawan,” kata David Agus Prianto, pelatih Kresna Unesa.
Namun wasit menyatakan bola belum gol. Ini yang membuat David tidak puas dengan asisten wasit Rahmat Teguh Putro Pratama yang tak melihat bola melintasi garis gawang Persema. “Kalau kita lihat, dia terlambat berlari sehingga tidak disahkannya gol tersebut merugikan kami,” katanya.
Persema nyaris mencetak gol dengan memanfaatkan serangan balik dari pantulan bola tandukan Khisni Daro yang mengenai mistar gawang Abdullah Thoriqul Anwar. Namun ketidaktenangan pemain-pemain Persema menjadi kendala.
“Kami memang berfokus lebih menyerang pada babak kedua, bergerak lebih cepat dengan penguasaan bola. Babak pertama kami lebih banyak mengandalkan long ball, tapi gagal di lini depan. Alhamdulillah pada babak kedua, kami lebih intens dan lebih bagus bermain bola-bola pendek,” kata Karyawanto.
Karyawanto memuji performa dua bek tengah Kresna Unesa. Ia akhirnya menginstruksikan anak-anak asuhnya untuk lebih menyerang dari sisi sayap kiri dan kanan. “Sebenarnya anak-anak dalam latihan, penyelesaian akhirnya bagus. Tapi mental mereka goyah karena kepemimpinan wasit yang kurang bagus,” katanya.
Gagal memetik poin di dua pertandingan awal, Karyawanto berharap bisa bangkit pada pertandingan ketiga menghadapi Pasuruan United. “Harapan kami, wasit lebih fair lagi. Kami akan tetap berfokusi menyerang. Ini ada putaran kedua. Kami harus ambil poin di empat pertandingan tersisa,” katanya. [wir]






