Banyuwangi (beritajatim.com) – Aliran sungai menjadi sarana penting bagi kehidupan sehari-hari. Di Banyuwangi, aliran sungai tidak hanya menjadi sarana pengairan tetapi juga tempat publik sekaligus wahana pendidikan.
Salah satu inovasi lingkungan hidup itu adalah Sekardadu (Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai). Inovasi ini diprakarsai oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Banyuwangi.
Tujuannya, sebagai langkah untuk menjaga dan merawat kebersihan sungai mulai daerah tangkapan air (catchment area/hulu) hingga hilir. Gerakan ini berjalan lintas sektoral, termasuk sekolah dan kampus untuk bersama-sama merawat kebersihan sungai yang ada di sekitar lingkungannya.
“Ini merupakan gerakan massif untuk membudayakan warga menjaga aliran sungai. Sungai dengan mata airnya sangat berperan dalam kehidupan,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Sementara itu, Kepala Dinas PU Pengairan, Guntur Priambodo menyebut, inovasi ini berjalan sekitar dua tahun. Bahkan, selama ini telah memberikan dampak yang positif.
BACA JUGA:
Banyuwangi Borong Penghargaan dari Pemprov Jatim
Hasil monev hingga September 2023, Sekardadu telah merawat sebanyak 65 sungai dan saluran air sepanjang 29.700 meter.
“Ke depan, ini akan terus dimasifkan hingga mencapai target 70.300 meter sungai yang akan dirawat,” kata Guntur Priambodo.
Inovasi ini, kata Guntur, ke depan juga akan terus dikembangkan cakupannya, baik secara kualitas dan kuantitas.
BACA JUGA:
PLN Bangun ‘Jalan Tol Listrik’ Perkuat Industri Banyuwangi
“Kita juga akan buat sistem digital untuk monitoringnya. Kolaboratif dengan OPD, dunia pendidikan dan masyarakat akan kita upgrade dengan membangun raw model sistem manajemen sumber daya air yang terpadu,” jelas Guntur.
Berkat inovasi merawat aliran sungai ini, mengantarkan Banyuwangi kembali meraih penghargaan dari Provinsi Jawa Timur. Inovasi tersebut masuk Top 30 Inovasi Terpuji Kovablik diberikan atas inovasi lingkungan hidup Sekardadu (Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai). [rin/beq]






