Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) mengadakan moral camp tahun 2023 di desa Ngadas Poncokusumo Malang. Melalui kegiatan ini mahasiswa UB diharapkan dapat dapat belajar mengenai toleransi secara langsung dengan masyarakat.
Moral Camp sendiri adalah akronim dari Merawat Religiusitas, Rasionalitas dan Literasi. Acara ini diadakan melalui Pusat Kajian Karakter dan Kebhinekaan di bawah Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (UPT PKM) dengan diikuti 30 mahasiswa yang diseleksi dari total 285 mahasiswa yang mendaftar.
Kegiatan ini dilakukan dengan live-in di rumah penduduk untuk desa Ngadas. Ada beberapa persyaratan untuk menjadi peserta, salah satunya telah mengikuti diutamakan yang sedang atau telah menempuh empat mata kuliah wajib kurikulum (Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia).
BACA JUGA:PPRO Hadirkan Westown View Apartement di Surabaya Barat
Ketua Program Moral Camp 2023 Destriana Saraswati, M. Phil., menjelaskan bahwa sebelum live in, peserta mendapatkan pembekalan dari pemateri yang menjelaskan tentang keberagaman. Pada materi tersebut diajarkan teknik membuat luaran yang berupa infografis, video dan artikel, serta materi pengelolaan media sosial.
“Moral Camp 2023 ini mengusung tema ‘Menyelami Keberagaman, Menjadi Inklusif bagi Semesta’. Tema ini punya misi strategis untuk menjadikan masyarakat beragam dan toleran sebagai laboratorium masyarakat untuk diserap nilai toleransi dan inklusif yang sudah dipraktekkan di masyarakat,” ujar Destriana melalui rilis yang diterima beritajatim.com, Selasa (21/11/2023).
Setelah menyelami keberagaman, peserta Moral Camp didorong untuk mampu menjadi pribadi dan duta mengkampanyekan nilai inklusif juga perdamaian. Kegiatan ini dimulai Jumat (17/11/2023) dengan penyambutan, perkenalan, dan persiapan menuju rumah warga dengan didampingi tuan rumah tinggal peserta (panitia lokal), sharing dan refleksi toleransi.
BACA JUGA:KAI Pidanakan Penemper KA Turangga di Jatipelem Jombang
Hari kedua, peserta diajak berdiskusi dengan tokoh lintas agama, Islam, Hindu, dan Budha. Dilakukan juga sharing praktik belajar seni budaya lokal di desa Ngadas. Hari terakhir mahasiswa diajak explore panorama Bromo outbound, refleksi program, dan penyampaian RTL (pelaporan Kemajuan Program Berbasis Project).

Destriana mengharap mahasiswa yang ikut program dapat menyelami khasanah dan kearifan praktik toleransi yang tak kunjung habis untuk diselami dan dapat menjadi modal berharga. “Semoga para peserta Moral Camp 2023 dapat meneguhkan diri menjadi pribadi yang mempunyai sikap toleran dan moderat serta mampu mewujudkan nilai inklusif bagi semesta,” tutupnya.
Kepala UPT PKM, Dr. Mohamad Anas, M.Phil mengatakan, bahwa desa Ngadas, Poncokusumo menjadi lokasi yang tepat untuk kegiatan Moral Camp karena adanya masyarakat yang beragam, toleran, moderat, dan sekaligus inklusif. Desa ini punya keragaman agama Budha, Islam, dan Hindu.
BACA JUGA:Ini Susunan Pemain Timnas Indonesia Kontra Filipina di Manila
Praktik toleransi agama di desa ini tercermin dari berbagai bentuk. Salah satunya tradisi unjung-unjung (tradisi mengunjungi warga setelah hari raya besar keagamaan), makam inklusif, dan kerjasama dalam pendirian rumah ibadah, dan lain-lain.
“Desa ini menarik karena menjadikan adat sebagai simpul perekat antar agama. Beberapa tradisi dan upacara adat wajib diikuti oleh semua warga Desa Ngadas dan tidak bertentangan dengan agama, akan tetapi justru menopang satu sama lain,” ujarnya. (Dan/Aje)






