Banyuwangi (beritajatim.com) – Petani Banyuwangi punya cara sendiri dalam meningkatkan produksi hasil panen. Sebagai daerah penghasil bawang merah di Jawa Timur, tentunya inovasi menjadi hal yang sangat penting di dunia pertanian.
Salah satunya, inovasi terkait cara menangkal hama guna meningkatkan hasil produksi. Contohnya, inovasi dari Kelompok Tani Joyo dari Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo.
Kelompok ini menerapkan light trap sebagai penangkal hama. Cara tersebut terbukti manjur, pasalnya produksi bawah merah meningkat menghasilkan rata-rata 13 ton, dari sebelumnya 10 ton per hektar.
Caranya, para petani memasang light trap berupa lampu LED berwarna hijau di areal tanaman bawang merah. Lampu ini dinyalakan setiap malam hari untuk menangkal kupu-kupu putih (kaper/grayak) yang menjadi hama utama tanaman bawang merah.
BACA JUGA:
Ribuan Guru Ngaji di Banyuwangi Dapat Insentif Total Rp9,8 M
Petani setempat menyebut teknik ini dengan Lautan Merah (Lampu Meningkatkan Produksi Bawang Merah). Sebanyak 30 petani melakukan teknik ini di lahan seluas 7 hektar.
Menurut petani, menggunakan teknologi light trap, produksi Poktan Tani Joyo meningkat pesat. Selain itu, mengurangi penggunaan pestisida hingga 40 persen sehingga mampu menekan biaya produksi petani.
“Dengan menggunakan lampu, ternyata bukan hanya produksinya yang meningkat, tapi penggunaan bahan kimianya juga berkurang sehingga lebih ramah lingkungan,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani,
Menurut Ketua Poktan Tani Joyo, Hendro Kurniawan, para petani menggunakan light trap sejak 2020. Awalnya, diilhami dari banyaknya petani yang mengeluhkan serangan hama kaper.
BACA JUGA:
Menkominfo Resmikan Pemancar Digital TVRI di Banyuwangi
Petani hanya bisa menggunakan bahan pestisida untuk mengatasinya. Selain harganya sangat mahal, pestisida ternyata juga berbahaya bagi lingkungan jika digunakan dalam jangka panjang. Akhirnya mereka berinisiatif memasang lampu untuk menangkal serangan kaper.
“Lampu ini sebagai repellent yang dipercaya dapat menarik perhatian kupu-kupu (kaper) sehingga mereka tidak hinggap dan bertelur di daun bawang,” kata Hendro. [rin/beq]






