Mojokerto (beritajatim.com) – Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Budha yang didirikan Raden Wijaya pada 12 November tahun 1293 yang merupakan kerajaan terbesar dan terluas di Indonesia. Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Hayam Wuruk.
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit punya Maha Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Kemegahan Majapahit pada masa lalu membuat kerajaan ini meninggalkan berbagai peninggalan mulai dari candi, prasasti, hingga kitab-kitab.
Peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit tersebar di berbagai tempat, khususnya di wilayah Mojokerto. Berikut sejumlah candi yang masih bisa ditemui di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang diyakini sebagai Ibu Kota Kerajaan Majapahit.
1. Candi Brahu
Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Candi Brahu terbuat dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan system gosok dengah bangunan bujur sangkar dan arah hadapnya ke barat dengan azimuth 2270.
Candi ini mempunyai ukuran panjang 22,5 meter, lebar 20,70 meter dan tinggi 20,70 meter. Struktur bangunan candi terdiri dari kaki, tubuh, dan atap.
Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa. Di sekitar Candi Brahu ditemukan temuan lepas seperti genta dan arca perunggu, para ahli menduga bahwa Candi Brahu bersifat Buddhis.
2. Candi Gentong
Candi Gentong terletaknya di sebelah timur Candi Brahu atau 950 meter dari Simpang 4 Trowulan. Candi ini ditemukan tahun 1889 dan dinamakan Gentong karena banyak ditemukan fragmen gentong di situs ini.
Dalam rangkaian penelitian untuk merekonstruksi kota Kerajaan Majapahit, Maclaine Pont menyebutkan bahwa Candi Gentong merupakan salah satu dari tiga Candi yang berderet dengan arah bujur Barat ke Timur yaitu Candi Gedong, Candi Tengah dan Candi Gentong.
3. Candi Bajangratu
Candi Bajangratu terletak di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Bentuk gapuranya mengadaptasi model Paduraksa atau gapura dengan pintu tengah dan memiliki atap.
Diperkirakan Candi Bajangratu dibangun untuk menghormati Jayanegara, raja kedua Majapahit tahun 1309-1328 Masehi. Menurut Maclaine Pont maupun Sutterheim Gapura Bajangratu ini dianggap sebagai pintu masuk keraton Majapahit.
Candi Tikus terletak di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Bangunan pemandian suci atau petirtaan ini ditemukan tahun 1914 dan dipugar tahun 1984-1989. Petirtaan ini mempunyai 46 pancuran berbahan batu andesit.
Struktur purbakala ini merupakan petirtaan suci bagi umat Hindu dan Budha serta dibangun sebagai replika Gunung Mahameru. Candi Tikus ditemukan pada tahun 1914 oleh Bupati Mojokerto saat itu yaitu R.A.A. Kromodjojo Adinegoro secara tidak sengaja.
5. Candi Wringin Lawang
Gapura Wringin Lawang yang terletak di Dusun Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan. Fungsi gapura Wringin Lawang adalah untuk memasuki suatu kompleks bangunan suci, tetapi bangunan suci apa atau untuk siapa sampai saat ini masih dalam penelitian para ahli.
Muhammad Yamin di tempat ini menemukan wajah patung tanah liat yang diinterpretasikan sebagai wajah Gajahmada. Menurut Sutterheim maupun Maclaine Pont berpendapat bahwa gapura Wringinlawang ini diduga sebagai salah satu gapura masuk kota Majapahit.
6. Kolam Segaran
Kolam Segaran merupakan salah satu dari 32 waduk atau kolam kuna Majapahit yang masih dapat disaksikan sekarang ini. Letak kolam di depan Museum Trowulan agak bergeser ke utara yang secara sdministratif termasuk wilayah Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan.
Bentuk denah kolam empat persegi panjang, berukuran panjang 375 meter, lebar 125 meter, dinding kolam setinggi 3,16 meter dan lebar 1,6 meter. Kolam Segaran ditemukan oleh Henry Mclain Pont, salah seorang pendiri Museum Trowulan pada tahun 1926.
Menurut cerita rakyat, Kolam Segaran digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Diceritakan apabila perjamuan telah usai, maka peralatan perjamuan seperti piring, mangkuk, dan sendok yang terbuat dari emas dibuang di kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit.
7. Museum Trowulan
Pada tanggal 24 April 1924, Bupati Mojokerto R.A.A Kromodjojo Adinegoro bekerjasama dengan Ir. Henry Maclain Pont, seorang arsitek kebangsaan Belanda, mendirikan Oidheeidkundige Vereeniging Majapahit (OVM). Untuk digunakan meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit.
OVM menempati sebuah rumah di Situs Trowulan yang trletak di Jalan Raya jurusan Mojokerto-Jombang KM 13 untuk menyimpan artefak-artefak yang diperoleh. Karena banyaknya artefak yang layak untuk dipamerkan, maka direncanakan untuk membangun sebuah museum yang terealisasi pada tahun 1926 dan dikenal dengan nama Museum Trowulan. [tin/ted]







