Jember (beritajatim.com) – Kelompok Petinju (Peternak Inovatif dan Maju) yang beranggotakan petani dan peternak di Desa Babatan, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, bersama empat orang mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Jember mengubah kotoran sapi menjadi kompos dengan perantara cacing tanah berjenis Eudrilus eugeniae atau yang lebih dikenal sebagai cacing merah.
Cacing ini bisa menghabiskan kotoran sapi lebih cepat yang menjadi bahan kompos yang bisa dipakai sebagai pupuk organik bagi petani. “Untuk menghasilkan 300 kilogram kompos, kami menggunakan 300 kilogram kotoran sapi yang kemudian dicampur dengan 150 kilogram tanah,” kata Dyah Retno Anggraini, Indah Setyowati, seorang mahasiswi Program Studi Proteksi Tanaman, sebagaimana dilansir Humas
Campuran itu kemudian disiram dengan cairan EM4 menjadi bed vermicompost. “Setelah siap, kami sebarkan cacing merah seberat 5 kilogram di atasnya,” kata Retno.
Cacing-cacing merah itu diberi makan ampas tahu secara berkala agar berkembangbiak dengan baik. “Setelah sebulan, maka kompos siap digunakan,” kata Retno.
Cacing dan kompos itu kemudian dipisahkan dengan alat earthworm. Alat ini mereka desain sendiri berdasarkan referensi yang ada. {embuatannya dibantu mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember.
Butiran kompos yang disaring dengan earthworm separator lebih halus, sehingga memudahkan pemakaian kompos pada tanaman. “Saat ini hasil kompos masih dipakai di kalangan internal. Namun selanjutnya kami berharap bisa dipasarkan setelah mendapatkan izin edar,” kata Damaita Afriani, mahasiswi Program Studi Proteksi Tanaman.
Kompos bisa dijual Rp 4 ribu per kilogram. Sementara bibit cacing merah dihargai Rp 40 ribu per kilogram.
Program pembuatan kompos ini bertema ‘BES: Bed Vermicompost dan Earthworm Separator Sebagai Inovasi Pengelolaan Limbah Kotoran Sapi Pada Kelompok Peternak Di Desa Babatan Jember’. “Petinju dibentuk karena kami ingin membentuk ekosistem ternak dan tani agar keberlanjutan program ini bisa terjamin,” kata Deviana Fitria Astuti, pemimpin tim mahasiswi tersebut.
Ketua Petinju Hermanto menyebut program itu salah satu solusi penanganan limbah kotoran ternak di desanya. “Selama ini kotoran lebih banyak dibiarkan saja atau dibuang sembarangan. Pembuatan kompos dan ternak cacing merah juga menjadi potensi menambah pendapatan warga,” katanya.
Petugas penyuluh pertanian ;apangan M. Shodiq memuji pemakaian sistem bed vermicompost dan alat earthworm separator. “Inovasi ini memudahkan peternak dan petani dalam membuat kompos,” katanya. [wir]






