Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meluncurkan 7 alat kesehatan (alkes) baru buatannya. Inovasi ini sebagai komitmen dalam pengembangan teknologi di bidang kesehatan.
Wakil Rektor IV ITS Bambang Pramujati mengatakan, masih banyaknya barang impor pada alkes serta pesatnya perkembangan teknologi saat ini mendorong ITS untuk menciptakan alkes, khususnya pada produk dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Teknologi digital 3D printing, artificial intelligence (AI), serta augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi sarana kesehatan di Indonesia,” ujar Bambang, Rabu (25/10/2023).
Bambang menambahkan, peluncuran alkes ini sebagai bukti komitmen ITS dalam pengembangan teknologi di bidang kesehatan. Pada inovasi kali ini, pihaknya bekerjasama dengan PT Bina Makmur Abadi.
Menggandeng Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) sebagai tempat penelitian dan uji coba, ia berharap ITS bisa berperan lebih banyak untuk produk kesehatan dalam negeri. “Produk-produk kesehatan yang dibuat ini juga menggunakan komponen produk lokal,” tambahnya.
Sementara Inventor Alkes Djoko Kuswanto menerangkan bahwa dibuatnya 7 produk alkes tersebut sebagai implementasi desain digital 3D yang terintegrasi serta fabrikasi digital yang efektif pada dunia kesehatan.
Lewat teknologi fabrikasi, kata dia, produk bisa dikustomisasi dan dibuat berdasar keinginan konsumen. “Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan kasus medis,” harapnya.
Menurutnya, penerapan teknologi digital 3D ini terlihat pada produk-produk yang telah diluncurkan. Produk tersebut di antaranya AMO3D yakni cetakan implan berbasis data 3D, GUO3D berupa alat penunjang kerja berbasis 3D.
Kemudian PRO3D yang berfungsi sebagai alat pelindung tubuh yang dibuat dari hasil scan 3D tubuh pasien. Alat-alat itu merupakan satu-satunya produk kolaborasi inovasi dan teknologi digital pada fasilitas kesehatan di Indonesia.
Tidak hanya sebagai alat penunjang kesehatan, ITS juga menciptakan produk bernama HUMA3D berupa manekin dan TSM.BONES berupa replika tulang manusia untuk sarana edukasi dan pelatihan klinis bagi calon ahli medis.
Dua produk terakhir yang diluncurkan ialah RiseHand berupa alat bantu pasien amputasi jari untuk menggenggam benda dan Surgical Instrument yang merupakan alat-alat yang digunakan dalam operasi bedah, seperti gunting, pisau dan pinset.
Djoko menyebut produk itu telah dipakai sejumlah rumah sakit dan kampus di Indonesia. Beberapa produk tersebut di antaranya bahkan sudah digunakan dan dipesan ratusan unit. “Jadi, kualitas produk-produk ini tidak kalah saing dengan produk negara-negara maju,” ujarnya.
Sedangkan Direktur PT Tekno Sains Medika Nike Besta Sari menyebut harga produk yang dipasarkan ini lebih murah dibanding produk setipe lainnya. Misalnya HUMA3D yang dijual di bawah Rp50 juta, ini lebih murah ketimbang produk serupa yang harganya mencapai ratusan juta.
Selain karena berbahan komponen lokal, produksi tidak dilakukan berskala besar melainkan dengan sistem pre-order. “Sebisa mungkin harga jual di bawah produk impor, namun tidak mengurangi kualitas produk,” tandasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA: 20 Pendaftar Lolos Seleksi Bakal Calon Rektor ITS Surabaya, Berikut Nama-namanya






