Hanya menang satu kali, tiga kali kalah, dan satu kali imbang. Itulah rekor Josep Gombau dalam lima pertandingan awalnya melatih Persebaya Surabaya dalam Liga 1 2023-24. Kekalahan terakhir Persebaya diderita di Stadion I Wayan Dipta pada pekan ke-16, saat menghadapi Bali United, Jumat (20/10/2023).
Gawang Andhika Ramadani digelontor dua gol Privat Mbarga pada menit 41 dan 54, dan gol Jefferson dari titik putih penalti pada menit 77. Satu-satunya gol Persebaya dicetak Dusan Stevanovic pada menit 48 setelah menerima bola tendangan bebas dari Ze Valente.
Gombau belum bisa menyelesaikan pekerjaan rumah sebagaimana Aji Santoso dan Uston Nawawi. Menyaksikan lini belakang Persebaya sama seramnya dengan nonton film horor. Dari lima pertandingan terakhir, Persebaya kebobolan sebelas gol dan hanya mencetak tujuh gol.
Rapuhnya tembok pertahanan Persebaya terlihat dalam pertandingan melawan Bali United. Privat mencetak gol pertamanya melalui skema bola mati sepak pojok. Ada tujuh pemain Persebaya di kotak penalti sendiri. Namun tidak ada yang mengantisipasi pergerakan Privat yang menerima bola sepak pojok dari Eber Bessa.
Gol kedua pun diakibatkan kecerobohan lini belakang Persebaya yang memasang garis pertahanan tinggi. Hanya menyisakan Reva Adi dan Riswan Lauhin, sebuah bola lambung dari kotak penalti Bali United ke daerah pertahanan Persebaya gagal diantisipasi. Reva gagal menghalau bola dengan kepala. Begitu juga Riswan yang gagal menyapu bola.
Bola berhasil dicuri Privat yang menggiringnya ke dalam kotak penalti Persebaya. Mudah bagi Privat untuk memperdaya Andhika dalam skema duel satu lawan satu.\
Privat benar-benar menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Persebaya sore itu. Ze Valente yang menjadi sutradara gol satu-satunya Persebaya dalam skema tendangan bebas, menekel Privat. Tak ada ampun. Titik putih. Jefferson yang masuk menggantikan Ilija Spasojevic pada menit 64 berhasil mengeksekusi bola dengan sempurna ke gawang Persebaya 13 menit kemudian.
Kekalahan ini menjadi sinyal perlunya Persebaya melakukan cuci gudang setelah putaran pertama berakhir. Barisan pertahanan Persebaya menjadi titik evaluasi. Sejauh ini performa barisan pemain belakang Persebaya jauh dari standar tim yang memasang target juara.
Tercatat 23 gol masuk ke gawang Persebaya dalam 16 pertandingan. Jumlah kebobolan ini sama buruknya dengan Persita Tangerang yang berada di peringkat 15 alias satu setrip di atas zona degradasi. Dengan 22 poin yang sudah dikepul, Persebaya terpaut enam poin lebih sedikit dari zona empat besar. Butuh perjuangan berat bagi Persebaya untuk bisa menembus empat besar yang menjadi tiket awal memasuki pintu juara.
Parah di pertahanan, kinerja lini depan Persebaya sama payahnya. Tim Bajul Ijo hanya mencetak 20 gol dalam 16 pertandingan. Persik Kediri, Persis Solo, dan PSS Sleman yang berada di posisi klasemen lebih bawah memiliki rekor gol lebih bagus daripada Persebaya. Paulo Victor yang diharapkan menjadi monster di depan gawang ternyata jauh dari harapan saat didatangkan. Satu gol dalam 16 pertandingan tentu sangat buruk.
Kukuh Ismoyo, analis sepak bola dari Bonek Writers Forum, menilai, Yohanis Kandaimu dan Dusan stevanovic layak dilepas. “Persebaya cukup banyak kebobolan dan jarang clean-sheet. Kalau toh harus berbenah total, ya sekalian saja,” katanya, Minggu (22/10/2023).
Kukuh juga setuju pemain belakang yang minim kontribusi seperti George brown dan Nuri Fasya sebaiknya dilepas. Sementara di lini tengah, Alwi Slamat, M. Iqbal, Deny Agus, Risky Dwiyan hanya akan membebani finansial Persebaya jika tak segera dilepas. Mereka selama ini minim mendapatkan menit bermain.
Selain Victor, Kukuh menilai Song Ui Yong layak dilepas. “Skillnya tidaklah lebih istimewa dari pemain lokal. Namun sepertinya manajemen Persebaya memandang Song cukup penting perannya sekaligus memanfaatkan slot pemain asing ASEAN di tim,” katanya.
Ze Valente dan Sho Yamamoto dinilai Kukuh masih layak dipertahankan. Mengganti keduanya tanpa jaminan mendapatkan pemain dengan kemampuan sepadan, hanya akan menjadi mimpi buruk baru bagi Persebaya. Namun cedera yang dialami Sho Yamamoto saat melawan Bali United berpotensi memunculkan dilema, jika ternyata masa perawatan yang dijalani pemain asal Jepang itu membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan.
Taktik high pressing dan high defensive line yang diterapkan Gombau juga harus mulai disesuaikan dengan potensi dan stamina pemain Persebaya. Garis pertahanan yang tinggi menjadi makanan empuk tim yang memiliki pemain-pemain dengan kecepatan lari bagus. Sementara terlalu riskan jika lini depan Persebaya hanya mengandalkan Bruno Moreira.
Cuci gudang menjadi awal bagi Gombau untuk memilih pemain-pemain yang benar-benar sesuai dengan filosofi bermainnya. Kuncinya tentu saja ada pada tim pemandu bakat yang jeli.
Persebaya tidak membutuhkan pemain terkenal dengan gaji mahal. Hal terpenting adalah mencari pemain yang sesuai dengan kebutuhan Gombau. Strategi moneyball yang berpatokan pada statistik pemain sebenarnya bisa digunakan. Dengan taktik moneyball, Persebaya tak selamanya mengarahkan buruan hanya di Liga 1, tapi juga di Liga 2 dan bahkan Liga 3.
Sebenarnya tak semua pemain lokal Persebaya direkrut dari sesama klub Liga 1. Nuri Fasya direkrut dari Bekasi FC, sebuah klub Liga 2 dari Kota Bekasi. Begitu juga Januar Eka yang ditransfer dari Badak Lampung, klub Liga 2 dari Lampung.
Namun, sebagaimana umumnya klub sepak bola di Indonesia, perburuan pemain lebih menggunakan cara konvensional dan tidak memanfaatkan statistik pemain sepenuhnya. Ini tak lepas dari kondisi sepak bola di Indonesia yang tak akrab dengan statistik. Statistik di sini tak hanya riwayat gol dan assist maupun kemampuan teknis lainnya, tapi juga riwayat cedera.
Membangun basis data statistik tak murah dan bukan prioritas mayoritas klub di Indonesia, sekalipun dengan label profesional. Namun tanpa berbasis sains, sulit untuk mengamati konsistensi pemain dalam jangka waktu tertentu. Ujung-ujungnya membeli pemain yang masih belum punya nama besar lebih sering untung-untungan, untuk tidak mengatakan seperti beli kucing dalam karung.
Persebaya sebenarnya bisa menggunakan model Brighton and Hove Albion yang mengombinasikan riset data dengan pengamatan konvensional. Tim pencari bakat Brighton bersafari mencari pemain di tempat-tempat yang jauh dari pantauan klub-klub besar. Dalam artikelnya di majalah Four Four Two, Chris Evans mengatakan, data membantu misi mereka agar lebih membuahkan hasil.
Namun tentu saja tak semua tempat menyediakan data statistik pemain. Maka Brighton memadukan riset dengan pengamatan dan acuan karakter sang pemain. Maka datanglah pemain-pemain yang sebelumnya tak pernah diperhitungkan, langsung dari negara masing-masing seperti Alexis Mac Allister dari Argentina, Moises Caicedo dari Ekuador, Kaoru Mitoma dari Jepang, dan Julio Enciso dari Paraguay. Semuanya dengan harga sangat murah, namun memenuhi kebutuhan tim.
Model Brighton ini mirip dengan yang dilakukan Indra Sjafri saat mencari pemain bagi tim sepak bola Indonesia U19. Beberapa pemain diambil dari pelosok-pelosok nusantara dan benar-benar merepresentasikan wajah Indonesia. Sukses di tim Indonesia U19 melambungkan nama mereka, sehingga diminati klub-klub level tertinggi dalam kompetisi sepak bola nasional.
Persebaya sebetulnya punya modal bagus berupa kompetisi amatir Liga Persebaya yang bisa memasok pemain-pemain muda. Toni Firmansyah adalah salah satu contoh produk kompetisi itu. Saat ini Liga Persebaya tak hanya dipantau Persebaya, tapi juga pemandu bakat klub-klub sepak bola lain.
Sementara untuk pemain asing, perputaran transfer berputar di antara sesama klub Liga 1. Rekrutmen model Brighton mengharuskan klub untuk membuka mata lebih lebar untuk mencari di negara lain. Persebaya pernah punya pengalaman merekrut pemain sekelas Mahmoud Eid langsung dari Kalmar FF, klub kasta pertama Liga Swedia, atay Zeng Cheng, penjaga gawang asal China.
Direktur Teknik Brighton David Weir menerapkan filosofi: rekrut pemain sebelum dibutuhkan. Brighton juga tak memakai cara Liverpool, yakni membeli pemain setelah menjual pemain. Cara Liverpool membuat harga pemain mengalami inflasi, karena klub lain tahu berapa duit di kocek calon pembeli.
Namun yang terpenting Brighton menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pemain untuk berkembang. “Kami punya pelatih, manajer, dan staf teknis yang ingin memberikan orang kesempatan. Seorang pemain bisa jadi sangat berbakat atay menjanjikan, tapi jika mereka tidak memperoleh kesempatan untuk menunjukkan dan berkembang, tentu susah,” kata Weir.
Mungkin itu yang perlu dilakukan Persebaya. Menciptakan lingkungan yang sehat untuk memberikan kesempatan kepada pemain berkembang dan menjadi opsi pelatih di lapangan. Opsi melepas seorang pemain akan benar-benar menjadi opsi terakhir jika memang tak bisa memenuhi harapan dan skema pelatih.
Persebaya sebenarnya mengalami problem yang sama dengan Brighton. Mereka harus melepas banyak pemain yang sedang tumbuh berkembang bersama klub karena datangnya tawaran menggiurkan dari klub-klub yang lebih besar. Bedanya, setiap kali kehilangan pemain-pemain inti seperti Marukawa, Syamsul Arif, atau Rizky Ridho, permainan Persebaya seperti disetel ulang dari nol. Bonek bilang kembali ke setelan pabrik.
Brighton pernah dipreteli oleh Todd Boehly, boss Chelsea. Boehly mengangkut pelatih Graham Potter dan sejumlah staf kunci hanya sepekan setelah menggaet pemain andalan Brighton Cucurella. Kepala Departemen Pemandu Bakat Birghton Paul Winstanley pun ikut boyongan ke Stamford Bridge.
Semua memperkirakan Brighton akan tenggelam. Namun keberuntungan tak lari ke mana-mana. Gara-gara perang Rusia-Ukraina percah, mereka bisa merekrut pelatih Shakhtar Donetsk, Roberto De Zerbi. Cerita selanjutnya sudah diketahui semua orang: Brighton menjadi kekuatan baru di Liga Inggris di bawah De Zerbi.
Bersama Gombau, bisakah Persebaya menggunakan model Brighton? Jawabannya bukan pada Gombau saja, tapi pada seluruh pemangku kepentingan dan kewenangan di Persebaya. [wir]






