Jember (beritajatim.com) – Ganjarian Spartan Teritorial Jawa Timur menyebut Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri sosok penentu kepemimpinan nasional atau kingmaker. Kelompok pendukung Ganjar Pranowo ini berharap kenegarawanan Mega dalam berpolitik bisa menjadi teladan.
Komandan Ganjarian Teritorial Jatim Agus Hadi Santoso mengatakan, kenegarawanan Megawati tampak dari kepatuhannya terhadap konstitusi. “Pada saat ada isu Jokowi tiga periode, publik tidak setuju, dan yang paling keras adalah PDI Perjuangan. Padahal Jokowi adalah kader PDI Perjuangan. Tapi Bu Mega tidak mau seperti itu. Jangan ubah konstitusi. Kalau dua periode ya dua periode. Selesai,” katanya, Kamis (19/10/2023).
“Kemudian ada isu perpanjangan masa jabatan presiden selama tiga tahun. Ditentang juga oleh PDI Perjuangan, karena Bu Mega adalah orang yang patuh kepada konstitusi,” kata Agus.
Agus berharap Joko Widodo bisa meneladani Megawati dengan tidak menyetujui Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto, setelah Mahkamah Konstitusi membuka peluang. “Hari ini Jokowi dicintai rakyatnya sampai 86 persen. Tapi karena persoalan ini, bisa turun di bawah 40 persen,” katanya.
Saat jadi presiden, Megawati tidak memanfaatkan jabatan itu untuk menempatkan sanak-kerabatnya di posisi-posisi pucuk eksekutif. “Dari trah Soekarno, Bu Mega punya banyak saudara. Tapi mereka tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Padahal kalau mau seperti itu, mereka sudah teruji luar biasa. Mengalami penderitaan luar biasa (di bawah represi rezim Orde Baru),” kata Agus.
“Jadi politisi murni dan kingmaker adalah Bu Mega. Bu Mega kalau memang ingin putra-putrinya jadi wakil presiden, cukup memasangkan anak kandungnya Puan Maharani dengan Prabowo. Lawannya adalah Anies Baswedan. Pasti menang. Tapi kan tidak seperti itu yang diambil Bu Mega,” kata Agus.
“Bu Mega mencoba melihat apa yang diinginkan rakyat, melalui pengurus dan mantan pengurus PDI Perjuangan. Semua jadi acuan Bu Mega untuk tahu yang diinginkan rakyat dan kader-kader PDI Perjuangan. Akhirnya Ganjar Pranowo yang dipilih jadi calon presiden. Bukan Puan. Ini luar biasa. Kalau tidak berjiwa besar, tidak akan bisa seperti itu. Yang dipikirkan Bu Mega adalah bangsa dan negara, bukan keluarga,” kata Agus.
Ganjarian Jatim berharap Jokowi bisa mengakhiri masa pemerintahan dengan manis dengan tak menyetujui pencalonan Gibran menjadi wapres. “Selama sembilan tahun, Pak Jokowi melakukan hal luar biasa. Jangan sampai di ending-nya kurang bagus. Ini harapan pendukung Pak Jokowi yang sekarang mendukung Ganjar Pranowo. Jangan sampai panas setahun hilang oleh hujan sehari,” kata Agus. [wir]






