Surabaya (beritajatim.com) – Faktor dana membuat PSSI Jatim memutuskan untuk tidak mengirimkan tim di PON Sumatera-Aceh 2024 mendatang. Alhasil, keputusan itu memantik beberapa reaksi dari berbagai kalangan.
Salah satunya, M Zaenuri, mantan pemain Pra PON Jatim 2016. Sebab menurut Zaenuri, dari ajang itu, Jatim menelurkan banyak pemain berbakat yang hingga kini bisa berkancah di Liga profesional.
“Sayang sekali karena banyak sekali pemain jebolan Pra PON maupun PON yang sukses saat ini dari sana. Contohnya juga banyak dan rata-rata lepas dari PON, mereka ditarik di klub besar karena memang kualitas dari PON ini bagus-bagus,” ungkap Zaenuri.
Tak menampik, meski di era 2016, Zaenury dkk gagal melaju di PON Jabar pasca tersisih di pra PON melawan Jawa Tengah dan Yogjakarta. Tapi, ia menyadari jika tim ini tidak diikuti otomatis terputus generasi penerus sepak bola Jawa Timur yang dilahirkan dari PON.
“Saya tidak mengerti apa alasan tidak ikut, jika permasalahan adalah dana mungkin saja bisa dikoordinasikan, karena sayang jika regenerasi ini harus terputus,” ungkapnya.
Sama halnya dengan Rizky Dwiyan, pemain Persebaya yang juga jebolan PON Papua, ia merasa sayang jika sepak bola Jawa Timur harus berhenti pada tim angkatannya. Karena tim sepak bola Jatim 2021 lalu sudah berhasil menunjukkan kualitas walau sebelumnya sempat terpuruk karena gagal melaju di PON Jawa Barat.
Tim Jawa Timur dibawah besutan Rudy Ketjles berhasil membawa medali Perunggu usai menundukkan tim sepak bola Aceh. “Regenerasi kita butuh wadah untuk bisa melaju ke tim kasta tertinggi, salah satu jalannya lewat PON. Jadi jika ditiadakan sangat disayangkan,” ungkap Risky.
Prestasi Jawa Timur di ajang lima tahunan memang cukup berliku, di tahun 2012 tim sepak bola Jatim berhasil mendapat medali emas di PON Riau menundukkan Papua.
Sementara di PON Jawa Barat tahun 2016, di tangan pelatih Hanafing, gagal karena harus menyerah di babak kualifikasi di Stadion Jalak Harupan, Bandung. Di PON Papus 2021 lalu tepatnya di PON XX, Jawa TImur kembali bangkit dengan sentuhan keras pelatih berketurunan Belanda Rudy Ketjles, yang mampu membawa Jawa Timur mendapatkan medali Perunggu usai tundukkan Aceh.(way/kun)
BACA JUGA: Wushu Jatim Siap Tempur di Pra PON 2023, La Nyalla Dorong Pertahankan Juara Umum






