Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto memaparkan lima tahap pembentukan kawasan wisata edukasi di Kelurahan Tegalboto, Kecamatan Sumbersari, dalam acara dialog publik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia di Hotel Dafam, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (16/10/2023).
Kawasan edukasi ini meliputi empat ruas jalan, yakni Jalan Kalimantan, Jalan Mastrip, Jalan Riau, dan Jalan Jawa yang melewati kampus Universitas Jember, Politeknik Jember, Universitas PGRI Argopuro, SMA Negeri 2, dan SMP Negeri 3.
“Saya tawarkan kampus jadi wilayah zona edukasi, wisata pendidikan. Kalau kampus jadi daerah wisata pendidikan, yang menikmati ekonomi bukan hanya kampus dan sekolah, tapi juga masyarakat sekitar,” kata Hendy.
Hendy terilhami kawasan di kota Utah, Amerika Serikat. “Kami tinggal beberapa bulan di Utah. Di sana, wilayah pendidikan. Semua merata. Kampus di situ kondisinya tidak tertutup, tapi terbuka. Kampus dimasuki semua orang,” katanya.
Hendy ingin memajukan kawasan kampus secara menyeluruh. “Menjadi tempat pendidikan yang kaffah, utuh. Bukan hanya untuk perguruan tinggi, tapi di kampung-kampung. Pembangunan di kampus selama ini hanya perguruan tinggi. masyarakat belum,” katanya.
Hendy mengaku hanya melanjutkan gagasan Bupati Abdul Hadi yang memerintah pada 1968 – 1979. “Bupati Abdul Hadi adalah Bapak Pembangunan Jember. Kampus ini dulu disebut tempat pembuangan anak jin. Harga tanahnya Rp 5 ribu per meter persegi. Lalu beliau membangun jembatan Semanggi dan memperbaiki jembatan Jarwo, sehingga kampus menjadi daerah satelit,” katanya.
Pembangunan yang dilakukan Abdul Hadi berdampak luar biasa, karena mempercepat waktu tempuh dari kawasan Tegalboto menuju alun-alun yang menjadi pusat kota dan pemerintahan Jember. “Pertumbuhan ekonomi sangat dahsyat. Harga tanah di kampus tidak lagi Rp 5 ribu per meter persegi,” kata Hendy.
Wilayah Tegalboto pun tumbuh seiring dengan tumbuhnya Universitas Jember dan Politeknik. Populasi mahasiswanya bertambah besar dan diikuti pertumbuhan pedagang kaki lima yang menguasai trotoar sehingga tak bisa dibuat berjalan kaki.
Hendy menyebut trotoar di kawasan kampus masih belum ramah terhadap pengguna jalan. “Mahasiswa kalau berjalan kaki turun dari trotoar berisiko tinggi mengalami kecelakaan,” katanya.
Langkah pertama yang dilakukan Hendy untuk mewujudkan rencananya itu adalah dengan sistem lalu lintas satu arah di ruas Jalan Jawa, Kalimantan, Mastrip, dan Riau. Uji coba dilakukan pada 10 – 31 Oktober 2023. Arus lalu lintas di sana satu arah pada jam 06.00 – 08.00 dan 16.00 – 18.00 WIB.
Langkah kedua adalah merapikan trotoar. “Jangan sampai muncul sungai baru di jalan karena banyaknya sampah. Kami akan perbaiki trotoar,” kata Hendy.
Tahap ketiga adalah mengatur parkir secara paralel di empat ruas jalan itu. Pasalnya, salah satu yang ditengarai menyebabkan kemacetan adalah parkir kendaraan di tepi jalan yang tidak beraturan.
Berikutnya adalah mempersiapkan relokasi pedagang kaki lima. “Rencananya akan kami jadikan satu seperti di Malioboro Jogja. PKL tidak boleh dipindahkan terlalu jauh dari lokasi kampus sekitar,” kata Hendy. Setelah lahan relokasi diidentifikasi, Pemerintah Kabupaten Jember baru memindahkan PKL di kawasan kampus.
Hendy yakin dengan arus lalu lintas yang lancar, maka ekonomi akan tumbuh. “Bagi kami, potensi kampus ini luar biasa. Tapi itu dinikmati kampus saja, belum sampai merata sampai kampung di belakang kampus. Lihatlah perkampungan di belakang Universitas Jember. Sampai hari ini stagnan, baik nilai tanah maupun pergerakan ekonominya,” katanya.
Hendy menyadari rencananya ini membutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk perguruan tinggi. “Kami Pemkab Jember tidak punya lahan. Ada lahan tapi jauh, tidak mungkin kami pindahkan. Harapan kami adalah mengajak teman-teman perguruan tinggi,” katanya.
Hendy mengingatkan perguruan tinggi bnerkontribusi besar terhadap persoalan yang saat ini dihadapi Jember. “Enam puluh persen mahasiswa memakai kendaraan,” katanya.
Selain itu, konsumen terbesar PKL adalah mahasiswa. “Kita bisa bekerja sama. Mungkin teman Universitas Jember ada lahan yang bisa dipakai PKL,” kata Hendy. Pemkab Jember siap membangun tempat untuk PKL di dalam kampus.
Hendy juga menyiapkan transportasi bus gratis untuk melayani pejalan kaki, terutama di kampus. “Dalam pikiran kami, mahasiswa tidak memakai kendaraan, cukup berjalan kaki. Kami akan buat stopper-stopper, sehingga mahasiswa bisa berhenti dan belajar di tepi jalan,” katanya.
Hendy percaya, jika rencananya terwujud, maka tingkat polusi dan kebisingan bisa terjaga, dan lingkungan kampus tetap baik. “Ini perlu dukungan semua pihak,” katanya. [wir]






