Ponorogo (beritajatim.com) – Salah satu momen penting yang dianggap sebagai legacy dalam pembukaan peringatan 100 tahun Pondok Gontor ialah penulisan mushaf Gontor. Khattath Maroko Syeikh Belaid Hamidi secara langsung meresmikan dimulainya penulisan mushaf Gontor dengan penulisan lafaz Basmalah. Nantinya penulisan mushaf Gontor ini, akan dilakukan oleh ustaz Muhammad Nur, yang telah mendapat sanad dari Syeikh Belaid Hamidi. Kemudian, ada juga tim IT yang beranggotakan 10 orang, yang akan berperan dalam proses digitalisasi.
Menurut informasi yang dihimpun oleh beritajatim.com, penulisan mushaf ini bukan lah yang pertama kalinya dilakukan oleh Pondok Gontor. Mushaf pertama ditulis pada tanggal 16 April 1989, bertepatan dengan 10 Ramadhan 1409. Mushaf ini dinamakan Al-Mushaf As-Syarif Al-Gontory. Ini merupakan mushaf gontor pertama ditulis oleh ustaz Syamsudin Arif. Akan tetapi, mushaf ini tidak dicetak dan disebarluaskan ke khalayak umum. Sebab, pertimbangannya karena masih minimnya pengetahuan mengenai percetakan mushaf Al-Qur’an kala itu.
Ketua umum peringatan 100 tahun Gontor, KH. Hamid Fahmi Zarkasyi mengungkapkan bahwa peringatan ini akan berlangsung sampai tahun 2026 yang merupakan puncak acara. Peringatan 100 tahun Pondok Gontor tahun ini merupakan versi tahun hijriah, puncaknya nanti tahun 2026, 100 tahun Pondok Gontor versi tahun masehi. Mushaf ini, nantinya akan digandakan untuk generasi-generasi yang akan datang. Dalam prosesnya nanti, Pondok Gontor akan meninggalkan warisan atau legacy untuk 100 tahun ke duanya. Salah satunya warisan yang pertama ini, ialah penulisan mushaf Gontor.
“Jadi warisan atau legacy yang akan kita berikan yakni melahirkan mushaf untuk generasi yang akan datang,” kata KH Hamid Fahmi Zarkasyi, Rabu (27/09/2023).
BACA JUGA:
Ada 6 Poli Yankes di Hospitel Bantarangin Ponorogo
Semenyara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, mengingatkan semua yang hadir dalam peringatan 100 tahun Pondok Gontor, bahwa merekalah yang bertanggungjawab untuk menjaga dan memajukan Gontor. Sebab, Pondok Gontor merupakan warisan umat Islam seluruh dunia.
“Gontor bukan punya Trimurti, bukan punya Jawa Timur, bukan punya Indonesia. Tetapi punya umat Islam seluruh dunia,” ujar K.H. Hasan Abdullah Sahal dengan nada yang tegas. [end/but]






