Kediri (beritajatim.com) – Relawan Prabowo Budiman Bersatu (Prabu) Jawa Timur menggelar pertemuan persiapan deklarasi di Resto Keboen Rodjo Jalan Mayor Bismo Semampr Kota Kediri.
Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Prabu Jawa Timur Evi Christina,SH, MH , Sekretaris A Zainal Abidin SIP serta sejumlah pengurus Ali Subekan SH ,Agus tompel bersama ketua Prabu Kota Kediri Budi Harjo,SH , Edi Priambidi SH.
“Persiapan deklarasi Prabu Jatim rencana di Kediri dengan mendatangkan Budiman Sudjatmiko beserta rombongan pusat termasuk ketum Prabu Arvindo,” kata Evi Christina,SH, MH, Jumat (22/9/2023).
Dalam deklarasi nanti akan mengambil tema urgensi Persatuan Nasional dalam NKRI yang masyarakatnya heterogen, pluralisme , beragam budaya dan keyakinan beragama ditengah tantangan global.
“Jadi butuh kepemimpinan yang kuat tangguh dan strategis. Kriteria tersebut hanya di sosok Prabowo Subianto bersama Budiman Sudjatmiko,” tambah Evi.

Sementara Sekretaris Prabu Jawa Timur A Zainal Abidin menyatakan dua politisi nasional yang pernah berseberangan di masa lalu yaitu Prabowo dan Budiman Sudjatmiko bertemu dengan mengangkat “Persatuan Nasional” sebagai bagian dari tema peristiwa.
Gagasan “Persatuan Nasional” yang terutarakan itu sangat sedikit didiskusikan. Celakanya, terlepas apapun alasan atau motifnya, sebagian kalangan justru menjadikan gagasan itu sebagai bahan ejekan belaka.
“Kami terus mengkampanyekan Persatuan Nasional di tengah situsiasi Internasional yang berubah,” kata Zainal .
Eks Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jatim ini menambahkan pada sebuah pidatonya di tahun 1956, Bung Karno menyampaikan kutipan dari Presiden Abraham Lincoln yang berbunyi “Kita lebih dahulu harus mengetahui apakah kita ini, di manakah kita ini, dan ke manakah kita ini, sebelum berkata apa yang harus kita perbuat dan bagaimana kita harus berbuat.”
“Gagasan Persatuan Nasional sesungguhnya berjangkar pada pertanyaan-pertanyaan di atas. Paling tidak pada pertanyaan “di mana kita” dan “ke mana kita” seharusnya menjadi topik diskusi yang lebih serius,”ujarnya.
Dalam konteks bernegara kita (bangsa Indonesia) adalah bangsa merdeka yang memiliki cita-cita sesuai dengan untaian kalimat sakral pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. (ted)






