Yogyakarta (beritajatim.com) – Menjaga stabilitas ketahanan pangan di era saat ini bagi sebagian wilayah terasa berat. Usai dihantam pandemi COVID -19 dilanjut El Nino yang menyebabkan gagal panen, menjadi kenyataan pahit yang harus dilalui.
Solusi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) ataupun Pemerintah Kota (Pemkot) masing-masing kawasan dengan menyelenggarakan pasar murah tak 100 persen menjadi solusi ampuh. Lalu bagaimana solusinya?
Pakar ekonomi dan juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Widarta SE, MM kepada beritajatim.com, Minggu (17/9/2023), menegaskan kaitan ketahanan pangan di DIY )Daerah Istimewa Yogyakarta) tak lepas dari bahan konsumsi utama yakni beras.
“Jika pemerintah hanya gitu-gitu saja dalam menyikapi seperti melakukan operasi pasar, mengguyur pasar dengan harga pangan murah ini cuma sementara dan penanganan cuma di kawasan hilir saja,” tegasnya.
Widarta kemudian meminta pemerintah untuk meniru model negara India. Yang melakukan eksport beras terbesar di dunia yakni 21.5 juta ton.
BACA JUGA:
Rencana Kenaikan Gaji PNS di 2024, Pengamat Ekonomi Khawatirkan Lonjakan Inflasi
“Dengan penduduk India mencapai 2.4 miliar mereka bisa mengekspor beras. Hal ini berbanding terbalik dengan di Indonesia dengan terus melakukan impor beras sejak tahun 1980 meski Indonesia pernah mengalami swasembada pangan,” tegasnya.
Sebagai solusi, Widarta menambahkan dengan model merangsang petani menjadi hal yang penting dan krusial. Widarta kemudian memberikan contoh misalnya memberi bantuan pupuk atau melakukan subsidi pupuk bagi petani.
Subsidi dan insentif tak hanya dilakukan untuk kategori BBM saja namun juga perlu merangsang dari sisi lain pupuk misalnya. Hal lain yang harus dilakukan seperti memberikan insentif untuk petani petani muda sehingga mereka bersemangat menjadi petani dan tidak mencari pekerjaan lain.
BACA JUGA:
SKK Migas dan Kementerian Pertanian Sinergikan Ketahanan Energi dan Pangan
“Jadikan petani muda petani Milenial adalah pekerjaan yang menyenangkan dan menjanjikan sehingga mereka enggan untuk mencari pekerjaan lain,” bebernya.
Ditanya mengenai El Nino yang bersamaan dengan musim kemarau, Widarta menegaskan kondisi ini memang berpengaruh pada kestabilan pangan dunia saat ini. Pada akhirnya terjadi kekeringan panjang. “Itu juga sebab internal menurutnya produksi padi nasional,” tegasnya. [aje/suf]






