Trenggalek (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja terus memantau perkembangan kabar mengenai seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Trenggalek yang dikabarkan meninggal dalam insiden tawuran antar-perguruan silat di Taiwan.
Meskipun kabar tersebut telah tersebar luas di media sosial dan dikonfirmasi oleh beberapa pihak keluarga PMI, pihak berwenang masih menunggu informasi resmi dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Trenggalek, Pujianto, mengungkapkan bahwa mereka belum menerima informasi resmi terkait insiden tersebut.
Meskipun terdapat kabar yang mengindikasikan bahwa PMI yang meninggal berasal dari Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Pujianto memastikan bahwa belum ada konfirmasi resmi terkait identitas korban.
Baca Juga: Dewan Desak PUPR Bangkalan Realisasikan Proyek Pemeliharaan Jalan Socah
“Jadi kami belum bisa memastikan apakah itu warga Trenggalek atau bukan, sebab kita belum dapat informasi resmi dari BP2MI,” ungkapnya.
Pujianto menjelaskan bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan BP2MI untuk mengklarifikasi situasi. Proses informasi biasanya melalui Konsulat Dalam Negeri (KDEI) Taiwan ke BP2MI, kemudian baru diteruskan ke pihak terkait di Trenggalek.
Jika kabar tersebut terbukti benar, pihaknya akan segera mengambil langkah-langkah selanjutnya, termasuk dalam hal pemulangan jenazah korban. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, proses pemulangan jenazah biasanya memakan waktu sekitar dua minggu.
Meskipun begitu, Pujianto berharap bahwa kabar tersebut tidak benar. Saat ini, kasus tersebut masih ditangani oleh pihak berwenang di Taiwan, dan informasi resmi masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Baca Juga: Buntut Kericuhan Konser Happy Asmara di Trenggalek, Tawuran Dua Kubu Perguruan Silat
“Ini katanya BP2MI, masih ditangani polisi sana. Soal jumlah, katanya satu meninggal satu lagi kritis. Soal PMI asal Trenggalek atau bukan itu masih simpang siur,” jelasnya.
Pihaknya juga memahami bahwa isu tawuran antar kelompok tertentu dapat menjadi sensitif, dan mereka berharap agar situasi tersebut tidak berkembang menjadi lebih rumit.
“Jadi saya tidak berani berbicara terlalu jauh sebelum ada informasi resmi, karena katanya soal tawuran antar kelompok tertentu sehingga sensitif,” tutupnya. (ian)






