Jember (beritajatim.com) – Sholeh, Kepala Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, terkejut warganya bernama Rahmad Kurniawan Abadi disekap di Rusia. Ia baru tahu ada warga Ampel yang pergi ke Rusia.
“Ini rumahnya (rumah Rahmad) di Dusun Kepel difoto oleh Bhabinkamtibmas dan keluarganya ditanya soal ceritanya dari awal. Saya sendiri kurang paham,” kata Sholeh.
Menurut Sholeh, pihak-pihak yang tahu dan ikut serta dalam proses pemberangkatan Rahmad ke Rusia masih dilacak. Pemerintah Desa Ampel sendiri siap memberikan bantuan kepada keluarga Rahmad.
Sholeh berharap kejadian yang dialami Rahmad menjadi pelajaran bagi semua orang. “Saya ingin ke depan kalau mau berangkat ke luar negeri harus diketahui siapa yang membawa dan siapa yang mengarahkan di sana. Kalau sekarang tidak tahu, tahu-tahunya sudah ada kejadian,” katanya.
“Sebetulnya sudah saya sarankan kalau mau berangkat ke luar negeri, datang ke balai desa untuk saya ambil foto. Siapa yang memberangkatkan dan dari PT apa. Kalau ada masalah seperti ini kan tinggal mendatangi PT mana, dan terus (pekerja migran) ditempatkan di mana. Tapi dari masyarakat kalau mau pergi ketika ditanya kadang mbulet,” kata Sholeh.
Kabar penyekapan di Rusia ini tersiar setelah beredar sebuah video berisi pengakuan dari Rahmad Kurniawan Abadi. Dalam video berdurasi satu menit itu, Rahmad mengaku diberangkatkan ke Rusia oleh seorang perempuan awal Banyuwangi bernama Vera. “Di Rusia saya ditampung agen bernama Yesenia,” katanya.
Rahmad mengaku berada di Rusia hampir satu tahun dan tidak memperoleh gaji. “Posisi sekarang di apartemen, di penampungan, dan saya dikunci dari luar. Logistik disediakan,” katanya.
Saya mohon bantuan kepada pihak-pihak terkait pemerintah Indonesia untuk bisa memulangkan saya. Terima kasih. Assalamualaikum,” kata Rahmad.
Direktur Migran Aid Indonesia Moch. Cholily mengaku mendapat video itu dari seorang kawan pekan lalu. Setelah ditelusuri, ternyata Rahman adalah warga Dusun Kepel, RT 001/RW 014, Desa Kepel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Dia lahir pada 30 April 1986.
“Semalam saya berkomunikasi dengan istrinya Bu Lailatul Muazizah. Intinya ada dua persoalan. Satu, Rahmad terjebak sindikat perdagangan orang. Kedua, dia ditempatkan di negara yang tengah dalam situasi perang. Ini pelanggaran undang-undang,” kata Cholily, Rabu (6/9/2023). [wir]






