Jombang (beritajatim.com) – Anak-anak dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Panglungan 2, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, terlibat dalam kegiatan pemantauan kualitas Sungai Sranten yang sangat mengkhawatirkan.
Dalam pemantauan kualitas air ini, para siswa diajak untuk mengidentifikasi adanya mikroplastik di Sungai Sranten. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sungai ini positif mengandung mikroplastik, dengan penemuan 5 partikel mikroplastik berbentuk serat dan busa.
Selain temuan mikroplastik, murid-murid dari SDN Panglungan 2 juga menemukan dua lokasi timbunan sampah di sepanjang sungai. Titik pertama terletak di belakang sebuah warung, sementara titik kedua berada tepat di bawah jembatan. Kondisi ini sangat memprihatinkan mereka.
Chio, seorang siswa kelas 5 di SDN Panglungan 2, mengungkapkan perasaannya, “Saya juga melihat bangkai ayam terbuang di sungai, jika didekati baunya tidak enak. Saya prihatin banyak sampah. Saya lebih senang kalau sungai bersih tidak ada sampah dibandingkan sungai yang banyak sampah.”
Kegiatan edukasi ini diselenggarakan oleh Tim Gerbang Desa Universitas Airlangga (Unair) dan ECOTON, Selasa (5/9/2023), bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bahaya mikroplastik dan pemantauan kualitas air kepada generasi muda. Sebanyak 68 murid dari SDN Panglungan 2 aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini.
BACA JUGA:
Anakan Sungai Brantas di Blitar Tercemar Limbah Rumah Tangga
Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep mikroplastik dan bahayanya di lingkungan sekolah, lalu dilanjutkan dengan pemantauan kualitas air di Sungai Sranten. Gerbang desa adalah program pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga – Surabaya.
Tahun ini, kegiatan Gerbang Desa diadakan di Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Tema kegiatan ini adalah menjaga kondisi lingkungan dan mengajak generasi muda untuk mengubah perilaku mereka menjadi lebih proaktif dalam menjaga lingkungan.
Tsabitah Rif’ah Nur Rahmah, Koordinator Pengajar Gerbang Desa Jilid 8, mengungkapkan, “Sebelum Gerbang Desa diadakan, kami sering datang ke Wonosalam untuk memahami kondisi di sini. Kami menemukan masalah serius terkait sampah, seperti kurangnya pemilahan sampah dan pembakaran sampah. Ini adalah masalah yang harus diatasi, dan kami datang sebagai bagian dari solusi.”

Tsabitah juga menyatakan keprihatinannya terhadap jumlah sampah yang terakumulasi di Sungai Santren. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Kecamatan Wonosalam, terutama di Desa Mendiro, belum menjadi prioritas pemerintah, yang mendorong masyarakat untuk membuang sampah sembarangan ke sungai karena tidak ada layanan pengelolaan sampah yang memadai.
Firly Mas’ulatul Janah, Koordinator Zero Waste Cities ECOTON, menambahkan bahwa pemerintah desa perlu menyediakan fasilitas pengelolaan sampah di wilayah mereka. Hal ini dapat bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang untuk menyediakan layanan pengambilan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
BACA JUGA:
Sungai Brantas Mojokerto Berwarna Coklat, Pemicunya Limbah dari Jombang
Firly menyimpulkan, “Setelah kegiatan ini, kami bersama Tim Gerbang Desa akan melaporkan temuan sampah di sungai kepada Kepala SDN Panglungan 2. Kami juga akan mendorong sekolah untuk memulai upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, yang dimulai dari kantin sekolah.”
Kedepan, sekolah ini berkomitmen untuk membangun lingkungan sekolah yang bebas dari sampah. Setelah selesai dengan kegiatan Gerbang Desa Jilid 8 ini, sekolah akan terus berupaya aktif dalam pengelolaan sampah. [suf]






