Banyuwangi (beritajatim.com) – Kunjungan kerja Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman di Kabupaten Banyuwangi, mengunjungi Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari. Daerah ini dikenal sebagai Kampung Pancasila, karena memiliki toleransi tinggi antar warga.
Meski berlatar belakang berbeda, mulai dari agama mupun suku namun masyarakatnya tetap berdiri rukun dan harmonis. Bahkan, hal itu ditunjukkan saat menyambut kedatangan Jenderal Dudung. Warga menampilkan ragam sambutan lintas suku dan agama.
Dari dulu, Desa Patoman tumbuh dengan keragaman. Ada sekitar 5000 jiwa yang menghuni daerah itu.
Latar belakang mereka ada dari suku Osing, Jawa, Madura, dan Bali. Begitupun dengan agama yang mereka anut juga ikut beragam, mulai dari Islam, Kristen, Budha, dan Hindu.
“Luar biasa. Di desa ini ada banyak agama tapi bisa hidup rukun. Inilah cerminan sila-sila Pancasila dalam kehidupan nyata,” kata Jenderal Dudung saat di Kampung Pancasila bersama Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf, Danrem 083/Baladhika Jaya Kol Inf Jamaludin, dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Baca Juga: Kabakaran Rumah di Jombang Dipicu Elpiji Ngowos, 4 Orang Terluka
Menurutnya, keberagaman dan perbedaan menjadi indah jika dibalut dengan kesatuan dan gotong-royong. Pihaknya berharap, kerukunan yang ada di Kampung Pancasila Desa Patoman menjadi contoh daerah-daerah lain di Indonesia.
Kampung Pancasila di Banyuwangi menjadi pengingat saat dirinya masih menjabat sebagai Pangdam Jaya tahun 2020-2021. Saat itu, Jenderal Dudung memiliki gagasan penerapan Kampung Pancasila di wilayahnya.
“Ketika menjadi KASAD, saya sosialisasikan ke seluruh jajaran di wilayah harus ada Kampung Pancasila,” katanya.
Terlebih, kata Dudung, pihaknya teringat perjuangan masa lalu saat membangun negara ini. Perbedaan bukan lantas sendiri-sendiri, namun menjadi penguat kesatuan dan kebersamaan.
“Republik ini diperjuangkan dan merdeka karena oleh banyak agama, suku, dan golongan, bukan hasil satu gilongan saja. Pondasinya negara kita kebhinnekaan, tiangnya persatuan, atapnya NKRI. Ini yang bkin negara kita kokoh,” ujar KSAD.
Baca Juga: Relawan Persatuan Nasional PraBu Banyuwangi Siap Usung Gagasan Budiman Sudjatmiko
Sementara Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan, Kampung Pancasila adalah desa yang heterogen. Walaupun dihuni oleh warga dari berbagai latar belakang berbeda, masyarakat hidup tenang, damai, dan kondusif.
“Secara alami, seluruh warga hidup bersama-sama baik dari hal keagamaan, sosial, dan budaya,” katanya.
Warga, kata dia, juga saling membantu saat acara satu keagamaan digelar. Ia mencontohkan, saat warga muslim merayakan Idul Fitri dan menggelar pengajian, umat Hindu turut menjaga keamanan di desa.
“Apa yang dilakukan oleh warga Desa Patoman merupakan cerminan dari pelaksanaan sila-sila dalam Pancasila,” pungkas Ipuk. (rin/ian)






