Mojokerto (beritajatim.com) – Wisata Waduk Windu di Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto resmi dibuka pada akhir tahun 2020 lalu.
Memiliki luas area sekitar 2 hektar, wisata desa di ujung tenggara Kabupaten Mojokerto ini terus bersolek.
Keberadaan Wisata Waduk Windu kini semakin eksis dan berkembang berkat dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintah Desa (Pemdes) Cinandang. Keterlibatan masyarakat yang sadar pariwisata dan gotong-royong pun turut mendukung pengembangan wisata Waduk Windu.
Ini terbukti dengan diraihnya Desa Cinandang sebagai juara 3 tingkat Provinsi Jawa Timur dalam Lomba Gontong-royong. Penyerahan pemenang Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) tingkat Provinsi Jawa Timur ke-XX tahun 2023, diserahkan langsung oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar di Madiun pada bulan Juli lalu.
Wisata Waduk Windu dilengkapi 16 stand kuliner, dimana ada 11 stand pedagang aktif. Stand kuliner tersebut dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang hasilnya menjadi Pendapatan Asli Desa (PADesa) Cinandang. Selain stand kuliner, juga terdapat flying fox, spot foto, permainan anak, perahu bebek, camping ground dan kolam pancing.
Tahun 2024 mendatang, rencananya wisata Waduk Windu akan dikembangkan dengan dilengkapi wahana baru yakni kolam renang dan perahu. Pemdes telah bersiap membuat wisata Waduk Windu bersolek dengan merencana lahan, bahan dan desain serta anggarannya.
Direktur Bumdes Cinta Cinandang, Sukestiawan mengatakan, pihaknya telah melakukan persiapan untuk melengkapi wahana baru di wisata Waduk Windu. “Ada kolam renang di sisi barat Waduk Windu untuk pengembangan tahun 2024, desain sudah siap tinggal menunggu presentasi,” ungkapnya, Sabtu (19/8/2023).
Baca Juga: Rehab Bekas Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto Ditarget Rampung November 2023
Diperkirakan pembangunan kolam renang sekitar Rp500-600 juta. Pemdes berharap Pemda dapat membantu anggaran melalui BK Desa untuk mengembangkan wisata Waduk Windu. Dalam pengembangan wisata Waduk Windu, pihaknya juga menggandeng konsultan.
“Stand kuliner dikelola Bumdes hasilnya merupakan PADesa Cinandang. Dikelola Bumdes untuk sewa standnya dihitung per bulan Rp240 ribu dan dibayarkan selama tiga bulan sekali. Kami terus mengembangkan potensi wisata kuliner dan terus menggali potensi yang minim menjadi maksimal di area Mojokerto sebelah utara,” katanya.
Menurutnya, kendala desa wisata Waduk Windu adalah cuaca lantaran waduk memanfaatkan dari air tadah hujan. Sehingga Pemdes memerlukan bantuan dari OPD terkait untuk solusi mempertahankan air waduk tidak sampai surut. Sehingga diharapkan wisata Waduk Windu menjadi suatu icon baru di titik ujung tenggara Kabupaten Mojokerto.
“Target ke depannya mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke Desa Cinandang,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Cinandang, Agus Siswahyudi mengatakan, Pemdes secara aktif melibatkan Bumdes dan masyarakat dalam pengembangan wisata Waduk Windu. “Langkah awal, kita branding dulu untuk wisata ini agar semakin dikenal. Semangat kegotong-royongan masyarakat sangat luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, Pemdes mulai dari nol membuat icon desa wisata dengan memanfaatkan Waduk Windu sebagai destinasi pariwisata di Desa Cinandang. Waduk Windu Cinandang dirintis sejak awal tahun 2019 dan mulai dibuka melibatkan warga pada akhir 2020 hingga berkembang sampai sekarang.
“Masyarakat sini membentuk desa wisata bukan karena icon wisata tetapi masyarakat itu sendiri termasuk pola hidup sehari-hari, pola pikir dan pemahaman tentang pariwisata. Dampak dengan pengembangan wisata Waduk Windu, secara otomatis turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” tuturnya.
Seiring perkembangannya wisata Waduk Windu juga berdampak terhadap kuliner produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) asli Desa Cinandang. Diantaranya bakpao polo, tenun, kerupuk samiler, peyek, keset dan lainnya. Pemdes terus menggali potensi produk UMKM untuk dipasarkan dengan memanfaatkan desa wisata.
“Sudah banyak UMKM di Desa Cinandang yang memiliki izin usaha untuk dipasarkan produknya. Dampak ekonomi pasti dari adanya desa wisata Waduk Windu yang berpengaruh terhadap masyarakat Desa Cinandang. Kita mengajukan ke Pemkab Mojokerto, Insya Allah diapresiasi Bupati untuk mendapat BK khusus,” tegasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wisata-mojokerto”]
Menurutnya, konsep pengembangan wisata Waduk Windu adalah ruang terbuka hijau ada wisata edukasi anak, termasuk perahu motor. Sarana fisik memerlukan anggaran yang besar sehingga pihaknya juga memaksimalkan anggaran untuk pengembangan wisata Waduk Windu.
“Anggaran kolam renang Rp500-600 juta kalau secara keseluruhan pengembangan wisata Waduk Windu sangat besar sehingga kita menyesuaikan. Fokus utama kami adalah kolam renang, jogging track dan tempat kuliner,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, Desa Cinandang merupakan daerah paling ujung tenggara Kabupaten Mojokerto memiliki jumlah penduduk sekitar 2.732 jiwa atau 781 Kepala Keluarga (KK). Desa Cinandang terdiri dari lima dusun yakni Dusun Cinandang, Dusun Sidobungah, Dusu Sidotangi, Dusun Gangsir dan Dusun Sidorembyong. [tin/ted]






