Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto menghendaki pabrik pupuk organik milik pemerintah daerah harus berdiri di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tahun ini. Ini bagian dari program kemandirian pangan yang dicanangkan jauh-jauh hari.
“Harus selesai. Kontraknya selesai tahun ini. Mudah-mudahan selesai, dan pupuknya juga kalau bisa berproduksi tahun ini sekalian kita uji coba. Mudah-mudahan bisa langsung berhasil, karena pupuk organik harus terus dicoba sesuai dengan kondisi tanah masing-masing,” kata Hendy, Jumat (18/8/2023).
Sebelumnya, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember Imam Sudarmadji mengatakan, pabrik itu akan didirikan di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jember mengalokasikan dana Rp 4,2 miliar. Namun pemenang lelangnya, PT Ervita Lestari, sanggup membangun dengan dana Rp 3,2 miliar.
“Areal yang dimiliki Pemkab Jember seluas 7,3 hektare. Tapi untuk pabriknya kemungkinan membutuhkan tiga ribu meter persegi atau seperempat hektare,” kata Imam.
Sisa areal akan digunakan untuk uji coba pertanian, peternakan, dan perikanan. “Kami akan menanam di sana dengan menggunakan aplikasi pupuk organik yang dibuat kelompok tani,” kata Imam.
Pembangunan pabrik itu diperkirakan memakan waktu lima bulan dan selesai pada November 2023. “Harapan kami bisa langsung launching dan beroperasi. Kapasitas produksinya 8 ton per jam. Jadi sehari bisa 80 ton,” kata Imam.
Namun produksi pupuk organik itu tidak bisa langsung dijual dan hanya dibagikan gratis kepada petani selama dua tahun. “Selama belum terdaftar tidak bisa dijual,” kata Imam.
Imam sudah mendata kelompok tani yang siap menggunakan pupuk organik. Dari 1.723 kelompok tani, hanya beberapa yang siap. “Di Jember sudah kami klaster, sesuai pemetaan yang kami lakukan. Yang siap adalah kelompok tani di daerah Kecamatan Umbulsari, Ajung, Ambulu, Gumukmas, dan Kencong,” jelasnya.
Menurut Imam, sebagian besar belum siap. “Kemarin waktu kami latih membuat pupuk organik., yang menggunakan hanya ketua kelompoknya. Padahal kami sudah melatih 400 kelompok tani. Namun yang membuat pupuk organik 83 kelompok tani. Produknya kurang lebih 183 jenis pupuk organik dan agensi hayati,” katanya.
Imam berharap kelompok tani yang sudah mau dan berhasil memakai pupuk organik bisa memberikan masukan kepada pemerintah. Bahan pupuk organik yang diproduksi pabrik tersebut berasal dari kotoran hewan. “Kita siapkan dan kita ambil kotoran hewannya. Mikroenzimnya juga bisa dibuat petani. Itu yang kami ambil dari petani,” katanya.
Imam menyadari tak mudah untuk membuat petani tertarik menggunakan pupuk organik setelah bertahun-tahun nyaman dengan penggunaan pupuk kimia. “Memang perlu sosialisasi terus, bahwa pertanian organik ini yang kita galakkan, karena kondisi tanah di Jember sudah rusak. Rata-rata unsur haranya dua persen. Padahal normalnya lima persen. Kita harus mengembalikan kesuburan tanah dalam dua atau tiga tahun,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember siap memberikan bantuan jika produksi padi yang dipanen tidak sesuai dengan harapan. “Tapi rata-rata dari uji coba pupuk organik, ada peningkatan produksi. Kemarin di Kencong, ada petani yang sudah dua tiga tahun menggunakan pupuk organik, hasilnya 8-10 ton padi per hektare. Ini murni organik,” kata Imam. [wir]






