Blitar (beritajatim.com) – Monumen Potlot di Blitar adalah tempat yang sangat bersejarah. Betapa tidak, sebelum Indonesia Merdeka tanggal 17 Agustus 1945, bendera merah putih ternyata sudah terlebih dahulu berkibar di monumen tersebut. Pengibaran bendera merah putih itu berlangsung pada tanggal 14 Februari 1945 pukul 03.30 WIB.
Sang pengibar bendera merah putih itu adalah anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air) Blitar bernama Sudanco Parto Hardjono. Dengan gagah berani Sudanco Parto Hardjono mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada tiang panjang di tengah lapangan yang digunakan untuk berlatih tentara pelajar bentukan Jepang.
Namun perjuangan bendera merah putih hanya bisa berkibar di langit bumi pertiwi selama 3 jam. Pasalnya tepat pada pukul 06.30 WIB, Sang Saka Merah putih diturunkan paksa oleh tentara Jepang dan diganti dengan bendera Hinomaru Jepang.
Tidak hanya menurunkan secara paksa Sang Saka Merah Putih, tentara Jepang juga menangkap semua pemberontak PETA.
BACA JUGA:
Sudah 17 Tugu Silat Dibongkar di 13 Daerah di Jawa Timur, Mana Saja?
“Namun hari itu, 14 Februari 1945 pukul 03.30 WIB Sang Saka Merah Putih bisa dikibarkan dengan gagah oleh tentara PETA Sudanco Parto Hardjono. Ini lah pertama kalinya bendera Merah Putih sempat berkibar di Bumi Pertiwi jauh sebelum Indonesia merdeka. Walaupun hanya tiga jam saja. Karena setelah itu, tentara Jepang menangkap semua pemberontak PETA,” cerita Sejarawan Blitar, Bambang In Mardiono.
Kini tempat pertama kali pengibaran bendera merah putih itu dibangun menjadi sebuah monumen yang diberi nama Potlot. Monumen Potlot saat ini berdiri kokoh sebagai center of interest Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya, Jalan Sudanco Supriyadi, Kota Blitar.
Bambang In Mardiono seorang sejarawan asal Blitar dalam bukunya berjudul Bunga Rampai Sejarah Blitar membeberkan alasan monumen tersebut diberikan nama Potlot. Menurutnya nama itu diambil dari latarbelakang para pejuang PETA yang didominasi oleh pelajar berusia 14 hingga 16 tahun.

Nama potlot atau pulpen, diidentikkan dengan alat menulis para pelajar tersebut. Meski masih belia, mereka harus berjuang untuk merebut kemerdekaan.
Cerita perjuangan kemerdekaan dan pengibaran bendera merah putih pertama kali di Bumi Pertiwi pun masih tertulis jelas di Monumen Potlot ini. Dalam monumen ini ada 2 pahatan yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh para pemuda PETA.
1. Tugu Peringatan Pemberontakan PETA Blitar Melawan Penjajah Jepang yang Diresmikan 16 Juli 1946 oleh Bapak TNI Jenderal Soedirman.
2. Di tempat ini pula Bendera Sang Merah Putih untuk pertama kali dikibarkan oleh Sudanco Parto Hardjono dalam detik-detik pemberontakan sedang bergolak pada 14 Feb 1945.
BACA JUGA:
Dipecat PBNU, Cucu Pendiri NU Gus Salam Angkat Bicara
Monumen itu pun, menjadi pengingat atas perjuangan tentara perjuangan PETA Blitar saat pemberontakan terjadi. Dituliskan oleh Bambang dalam bukunya, sebanyak 163 tentara atau sepertiga batalion PETA Blitar melakukan pemberontakan.
Dari 163 orang, sebanyak 60 tentara ditangkap. Lalu, 15 orang dalam pengadilan divonis bervariasi masa tahanannya, sedangkan enam orang lainnya divonis dengan hukuman mati, sisanya dibebaskan.
Enam tentara yang dihukum mati itu adalah Sudanco Muradi, Sudanco Sunanto dan Sudanco Suparyono. Lalu, Budanco Sudarmo, Budanco Halir Mangkuprojo dan dr Ismangil.
Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang anak muda bernama Sudanco Supriyadi, namun pemberontakan dipadamkan oleh masyarakat yang tidak pro dengan aksi ini. [owi/suf]






