Banyuwangi (beritajatim.com) – Tahun ini, Banyuwangi panen raya bawang merah di sejumlah wilayah. Sentra tanaman bawang ini berada di Kecamatan Wongsorejo, Tegaldlimo, Muncar dan Srono.
Tapi, ada satu sentra yang memiliki pola tanam bawang yang berbeda. Seperti di Kecamatan Wongsorejo yang mengembangkan bawang merah semiorganik.
Hasilnya lumayan dibandingkan dengan bawang merah dengan pola tanam biasa. Jika, hal ini dapat dipertahankan ataupun diperluas bisa jadi bawang merah yang biasa menjadi pemicu inflasi dapat dikendalikan.
Ya, komoditi ini merupakan salah satu komoditas pangan strategis bahkan pemicu inflasi. Hal ini dapat diantisipasi, jika pengembangan dan pasokan di Banyuwangi bisa tercukupi.
“Ini juga sebagai cara untuk mengendalikan inflasi,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Sementara itu, Kepala BI Jember Gunawan sangat mendukung mengenai program tanam bawang merah tersebut. Pihaknya mengatakan akan memfasilitasi dan membantu petani untuk meningkatkan produksi di Banyuwangi.
“Kami juga siap memfasilitasi. Kami akan berkoordinasi dengan kantor perwakilan yang lain untuk menjalin kerjasama antar daerah, sehingga produk surplus dari Banyuwangi bisa dipasok ke daerah lain,” kata Gunawan.
Menurut Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ilham Juanda, total luas tanam bawang merah di Banyuwangi (2022) mencapai 1.178 hektar. Dari jumlah itu rata-rata produksi mencapai 7.538,4 ton.
Jika dihitung sesuai jumlah kebutuhan masyarakat, maka tercipta angka sebesar 4.891,38 ton. Sehingga, saat ini masih terjadi surplus 2.647,02 ton.
“Kami berikan bantuan khusus pengembangan bawang merah, antara lain pupuk organik cair, NPK, mulsa, dolomit, dan pencegahan hama/penyakit,” pungkas Ilham. (rin/ian)






