Jombang (beritajatim.com) – Kesedihan yang mendalam menghampiri Sujari (51) ketika dia mengingat kembali tragedi kecelakaan yang menimpa keluarganya. Peristiwa itu terjadi ketika KA Dhoho bertabrakan dengan mobil Luxio di perlintasan tak berpalang Dusun Gondekan, Desa Jabon, Kecamatan/Kabupaten Jombang.
Setiap kali Sujari menceritakan insiden mengerikan itu, matanya terasa sembab, bibirnya tercekat, air matanya meleleh menggarisi pipi.
Tak kurang dari enam anggota keluarganya meninggal dunia karena tabrakan mematikan dengan kereta api, sementara dua lainnya mengalami luka berat. Salah satunya adalah anak sulungnya, Fikri (22), yang hingga kini masih berada dalam kondisi koma. “Anak saya masih koma,” ucap Sujari pada Senin (31/7/2023).
BACA JUGA:
Kecelakaan Kereta Api di Jombang: 6 Orang Meninggal, 2 Luka Berat
Dalam dua hari terakhir, Sujari bersama istrinya terus menunggui Fikri di ruang Yudhistira RSUD Jombang. Saat diwawancarai oleh beberapa wartawan, Sujari awalnya bisa berbicara dengan lancar, tetapi begitu menyentuh cerita tentang kecelakaan yang menyebabkan enam kerabatnya meninggal, suaranya langsung serak dan matanya berkaca-kaca.
Sujari menceritakan bahwa dia mendapatkan kabar duka itu pada dini hari Minggu (30/7/2023) dari seorang tetangga. Tetangga itu mendapatkan kabar tersebut dari anggota Polsek Perak melalui telepon seluler. Di ponsel tersebut terpampang KTP milik Fikri dan gambar-gambar mayat.
“Saya mendapatkan kabar bahwa mereka mengalami kecelakaan. Tapi tidak ada rincian detail bahwa mobil keluarga kami telah ditabrak oleh KA Dhoho di perlintasan Dusun Gondekan, Desa Jabon, Jombang,” ungkap Sujari.
Lebih lanjut, Sujari menjelaskan bahwa dalam mobil tersebut berisi anggota keluarganya, termasuk kakak kandungnya, Sumiyowati (60), keponakan, dan cucu-cucunya. Bahkan Fikri, anak sulung Sujari, juga ikut serta dalam perjalanan itu.

Fikri biasanya bekerja di Sidoarjo, tetapi tinggal di rumah Sumiyowati di Dusun Ciro Wetan, Desa Bakung Temenggungan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo. Pada malam itu, rencananya Fikri akan pulang ke Dusun Bangi, Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, dengan menumpang bus umum.
Namun, rencana itu berubah karena keluarga besar di Desa Bakung Temenggungan ingin memberikan kejutan bagi nenek mereka, Sriminah (85). “Pergi ke Kediri ingin menjenguk nenek. Hanya ingin memberi kejutan. Oleh karena itu, semua anggota keluarga, termasuk anak-anak, keponakan, menantu, dan cucu, ikut serta,” jelas Sujari.
Namun, apa yang seharusnya menjadi momen kejutan bahagia berubah menjadi bencana mengerikan. Mobil Daihatsu Luxio L 1009 XD yang membawa satu keluarga itu tertabrak KA Dhoho di perlintasan tak berpalang pintu Dusun Gondekan, Desa Jabon, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (29/7/2023) sekitar pukul 23.14 WIB.
BACA JUGA:
Identitas Lengkap 8 Korban Kecelakaan Kereta Api Vs Mobil di Jombang
“Sebenarnya, biasanya rombongan keluarga Balongbendo selalu melewati jalur di Mojoagung untuk menuju rumah nenek di Dusun Bangi, Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Namun, entah mengapa malam itu mereka melewati jalur perlintasan kereta api itu,” ujar Sujari.
Kecelakaan yang tragis tersebut telah merenggut enam nyawa, termasuk sopir mobil, Wahyu Kuspoyo (42), dan warga Dusun Ciro Wetan, Desa Bakung Temenggungan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, yaitu Sumiyowati (60), Alinsya Mareta Mingkana (17), Sutria Mingsih (38), dan Az Zahra Rohima Khoirunnisa (13).
Satu korban lainnya, Adelia (19) dari Kedungpadang, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, juga menjadi korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Sementara itu, Fikri (22) dari Dusun Bangi, Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, dan Arimbi (11) dari Dusun Ciro Wetan, Desa Bakung Temenggungan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, mengalami luka berat. [suf]






