Magetan (beritajatim.com) – Sebuah foto menunjukkan enam santriwati berjilbab biru tua, berbaju merah, dengan rok biru tua membawa senjata api tengah viral di media sosial. Tak hanya itu, mereka juga memakai rompi lengkap. Foto itu diposting oleh Penulis Islah Bahrawi dalam instagram pribadinya pada Jumat (28/7/2023)
“Dari hasil telusuran pencarian gambar di Google, tangkapan gambar ini dari sekolah Baitul Qur’an di Magetan (belum terkonfirmasi)Tampak para siswi memegang senjata laras panjang dan rompi anti peluru kemungkinan replika). Yang menjadi pertanyaan, entah jenis pendidikan apa yang diberikan kepada anak-anak kita. Mungkin saja pelajaran strategi dan kemampuan perang (I’dad) atau latihan fisik dengan senjata pembunuh artifisial. Tapi apa tujuannya?
Pendidikan seperti ini bagi generasi muda hanya akan menanamkar glorifikasi perang. Alih-alih memiliki keinginan untuk memajukan agamanya melalui ilmu pengetahuan, bisa jadi generasi muda kita hanya akan berfikir tentang perang di masa depan mereka. Entah siapa yang bisa mengklarifikasi gambar ini atau yang harus bertanggung jawab atas metode pendidikan seperti ini.
Anak-anakku, agama diturunkan oleh Tuhan bukan untuk berperang, melainkan agar kita saling mengenal satu sama lain dengan segala perbedaan dalam penciptaan Tuhan atas manusia. Senjata dan perang hanya akan memundurkan peradaban. Mari majukan agama kita dengan akhlak, rahmat dan ilmu pengetahuan. Bukan dengan keahlian perang
Jadikan agama kita sebagai bejana untuk membangun rasa kemanusiaan dan menciptakan kedamaian,” tulis Islah Bahrawi dalam caption.
Terkait viralnnya foto tersebut, Pondok Pesantren Baitul Quran Al Jahra di Kelurahan Tawanganom, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan pun angkat bicara. Ketua Harian Yayasan Ponpes Baitul Quran Al Jahra Magetan Isgianto mengatakan, foto itu merupakan foto promosi ekstrakurikuler air soft gun.
“Itu foto eksibisi dalam rangka tahun ajaran baru. Di Al Jahro ini ada eksibisi air soft gun, secara legal formal setelah kami pelajari ya legal. Kami bekerja sama dengan ahli terkait simulasinya. Itu foto ketika simulasi, rencana bakal jadi ekstrakurikuler madrasah aliyah,” kata Isgianto, Sabtu (29/7/2023).
BACA JUGA:
Bus Eka Tertimpa Pohon Tumbang di Magetan, Arus Lalin Ngawi-Maospati Tersendat 1 Jam
Namun, karena ada beragam opini dan pandangan masyarakat, pihaknya bakal mengkaji ulang. Toh, kini ekskul itu belum resmi dibuka.
Selain itu, pihaknya juga tak memiliki peralatan. Sedangkan saat simulasi, semua alat yang dipakai merupakan milik pelatih asal Surakarta itu.
“Ya nanti dikaji ulang ya. Yang jelas kalau kegiatan kami semua ini kami laksanakan sesuai Undang-undang yang berlaku. Kami juga berada di bawah Kementerian Agama yang turut membimbing kami dalam melaksanakan kegiatan apapun,” lanjutnya.
BACA JUGA:
Mantan OB Kantor Panwascam di Magetan Bikin Loker Fiktif
Awalnya, pemilihan ekskul air soft gun itu untuk melatih konsentrasi santri. Karena saat menghafal Al-Qur’an juga butuh konsentrasi yang sama.
“Kalau main air soft gun itu kan butuh konsentrasi. Nah, ini melatih santri untuk konsentrasi saat menghafal Al-Qur’an,” katanya. [fiq/beq]






