Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejak memasuki tahun ajaran baru 2023-2024 sejumlah siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Sumberrejo hingga sekarang tidak bisa menikmati belajar di kelas. Hal itu karena orang tua murid menolak kebijakan merger yang dinilai dilakukan sepihak oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) setempat.
Sejumlah anak-anak yang masih belajar dan bermain di lorong kelas itu dipastikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro Sukur Priyanto. Saat berkunjung ke sekolah SDN 3 Sumberrejo, ia masih melihat sejumlah siswa harus belajar di lorong kelas tanpa ada guru. Hal itu sudah bertahan sepekan lebih dan tidak ada solusi dari Pemkab Bojonegoro.
“Kedatangan saya ke sini memastikan persoalan ini sudah clear atau belum. Kalau anak-anak masih bersekolah di luar kelas tanpa guru ini saya anggap persoalan yang belum selesai,” ujarnya, Selasa (25/07/2023).
Seharusnya, kata dia, Pemkab Bojonegoro harus mencarikan solusi. Sehingga tidak sampai berlama-lama menghadapi persoalan penolakan merger tanpa ada kepastian. Salah satunya dengan mencabut SK Bupati tentang merger.
“Proses merger yang dilakukan Disdik belum clear dan harus diberikan kepastian, dimana mereka belajar, dan siapa gurunya,” ungkap politisi Partai Demokrat.
Ketua DPC Partai Demokrat itu memberikan solusi sementara dengan merekrut dua orang guru. Dua guru swasta itu digaji dari uang pribadi untuk mengajar anak-anak sembari menunggu proses merger selesai.
Sementara Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah sebelumnya menyatakan bahwa proses merger yang dilakukan kepada 13 lembaga SDN di Bojonegoro itu sudah final. Masyarakat diminta untuk patuh terhadap aturan yang sudah ditetapkan.
“Ini sudah keputusan final, jadi mohon kepada masyarakat membantu anaknya dibawa ke sekolah induk. Kasihan anak kalau dibawa kesana-kemari. Saya yakin anaknya pasti mau bersekolah di sekolah yang dimerger,” ujarnya usai berkunjung di DPRD Bojonegoro. [lus/kun]
BACA JUGA:
Kadisdik Bojonegoro: Lembaga Pendidikan SDN Terlalu Banyak






