Banyuwangi (beritajatim.com) – Momen Hari Anak Nasional (HAN) di Banyuwangi dirayakan dengan cukup meriah. Ribuan anak berkumpul di Taman Blambangan, Banyuwangi untuk bermain atau dalam bahasa Osing berarti memengan.
Panitia sengaja mengambil tajuk acara ini adalah Festival Permainan Tradisional. Sehingga, hampir semua isi dalam acara tersebut adalah bertema permainan tradisional. Di antaranya enggrang bambu, enggrang batok, balap karung, congklak, gobak sodor, dan lain sebagainya.
Kegiatan ini menjadi langkah untuk turut melestarikan warisan budaya. Termasuk menjadi menjadi medium edukasi yang efektif untuk melatih kebersamaan dan kebahagiaan. “Esensi pendidikan adalah mewujudkan kebahagiaan. Sisi ini tak boleh diabaikan. Untuk itu, perlu anak-anak diajak bermain dan diajarkan filosofi di balik permainan tersebut. Seperti halnya kebersamaan, gotong royong dan lain sebagainya,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Minggu (23/7/2023).
Permainan tradisional, kata Ipuk, juga menjadi salah satu alternatif permainan anak yang didominasi oleh aneka mainan modern dan gadget. Padahal, dalam beberapa riset mainan modern memberikan akses negatif. “Ini membuat anak lebih sehat. Saraf motoriknya terlatih. Juga harus kompak dan disiplin kalau mau menang,” terangnya.
Pada festival ini, juga diisi oleh kirab defile dari masing-masing kontingen yang berasal dari Unit Pembantu Teknis Dinas (UPTD) Dispendik se-Kabupaten Banyuwangi. Ada 25 defile yang menyajikan aneka permainan dan kekhasan dari masing-masing kecamatan.
Defile itu di antaranya, jaran kepang, engklek, bedil-bedilan, congklak, tarik tambang dan lain sebagainya. Dipadu dengan gerak teatrikal dan musik dari beragam tetabuhan sederhana. Tak pelak penampilan mereka banyak mengundang tawa para penonton.
“Kegiatan ini saya kira sangat tepat dalam mengkampanyekan tentang kesehatan pada anak. Mereka bisa bermain sekaligus bisa didorong mengasah kreativitas,” ujar Plt. Direktur PAUD Kemendikbud RI Komalasari yang turut menyaksikan acara tersebut.
Penampilan yang unik dan berbeda ini justru disukai oleh sejumlah anak. Setidaknya, melupakan sejenak kesibukan bermain dengan permainan di gawai mereka. “Ternyata memang asyik bisa membuat mainan sendiri lalu dimainkan bareng-bareng. Tidak hanya handphone saja yang asyik,” kata siswa yang bermain serompetan (terompet). (rin/kun)
BACA JUGA:






