Jember (beritajatim.com) – Dua puluh orang pelajar disabilitas rungu Sekolah Luar Biasa Negeri Kabupaten Jember, Jawa Timur, berlenggak-lenggok bak model di alun-alun, Sabtu (22/7/2023) sore. Ini pertama kalinya mereka tampil di ruang publik dengan berdandan dengan mengenakan busana bertema Pesona Nusantara dalam acara Jember Trend Mode.
Kendati pertama kali, mereka tidak terlihat canggung sama sekali bergabung dengan sejumlah model sesungguhnya yang diasuh Syam Modeling. Sebelum tampil, pemilik Syam Modeling, Hermawan, menanyakan kesiapan mereka dengan menggunakan bahasa isyarat dengan dibantu Kepala SLB Negeri Jember Umi Salma.
Anak-anak itu setingkat pelajar sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. “Mereka dilatih Syam Modeling. Saya sangat bangga dan senang sekali. Itu sudah lama kami nantikan. Ada pihak yang melirik kemampuan anak-anak kami, karena mereka juga punya potensi dan bakat yang tidak kalah dengan anak-anak reguler,” kata Umi.
“Anak-anak juga senang. Ini pertama kali mereka mengikuti event seperti ini dan baru pertama kali juga tampil di tempat umum. Kalau biasanya tampil khusus di acara-acara tertentu,” kata Umi.
Para pelajar yang tampil sebagai model itu dipilih berdasarkan bakat dan kemampuan mereka dari 170 siswa setingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah. “Sebagai kepala sekolah, saya sudah paham bakat dan kemampuan anak-anak,” kata Umi.
Pemilik Syam Modeling, Hermawan, melatih langsung anak-anak itu dalam empat kali pertemuan. Ia melatih semua aspek modeling, mulai dari cara berjalan dan menghadapi penonton. “Kesulitannya di komunikasi, karena mereka model disabilitas rungu. Awalnya kami mendampingi untuk berkomunikasi dengan mereka. Tapi namanya ilmu katon, bisa dipelajari. Alhamdulillah anak-anak akhirnya tidak menemui kesulitan,” kata Umi.
Sementara itu, Hermawan ingin mengedukasi masyarakat Jember, terutama para pelajar disabilitas, untuk mengenali mode. “Jadi mereka memahami bahwa mode itu seperti ini. Jadi mereka bisa tampil keren seperti anak-anak dari Bandung dan Jakarta,” katanya.
Para pelajar SLB itu dilatih untuk percaya diri untuk berinteraksi dengan masyarakat. “Kami melatih teknik berjalan dan teknik berinteraksi. Aplikasinya sekarang,” kata Hermawan.
Hermawan senang dengan respons para pelajar itu. “Bagus. Mereka tertarik. Orang tua dan kepala sekolah mendukung. Mereka mengenakan pakaian dengan ide pakaian tradisional kazanah nusantara seperti batik, ulos, tenun.,” katanya. [wir]






