Bojonegoro (beritajatim.com) – Harga telur ayam di pasaran masih tinggi. Tingginya harga telur ayam itu mulai naik dan bertahan sejak sepekan terakhir. Tingginya harga telur menjadi berkah tersendiri bagi peternak ayam petelur di Kabupaten Bojonegoro.
Salah satunya, karang taruna (kartar) Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Kartar yang berada di sekitar kawasan ring satu industri minyak dan gas bumi (migas) itu meraup untung lebih karena kenaikan harga telur ayam.
Menurut Kepala Unit Usaha Peternakan Ayam Petelur, Karang Taruna Bandungrejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, Dedik Dian Winandra, produksi telur saat ini di atas rata-rata, yakni 145-150 kilogram telur. Produksi tersebut dari populasi ayam sebanyak 2.675 ekor.
“Dari jumlah produksi tersebut, keuntungan bersih perhari rata-rata Rp1 juta. Keuntungan itu sudah kepotong biaya listrik, pakan, dan lain-lain,” ujar Dedik, Jumat (14/07/2023).
Karang taruna yang memulai usahanya melalui Program Pengembangan Masyarakat dari operator lapangan migas Pertamina EP Cepu (PEPC) itu kini mampu memenuhi kebutuhan telur masyarakat sekitar. Sehingga untuk distribusi penjualan tidak kesulitan. Apalagi kini sudah ada sekitar 10 pelanggan tetap.
“Kadang juga dari warga sekitar yang membeli langsung ke kandang. Ternak ayam petelur itu mulai dikembangkan karang taruna sejak Januari 2023,” lanjutnya.
Sementara untuk harga per kilogram sendiri ditingkat grosir per kilogram dijual Rp28.500 dengan pembelian minimal 15 kg. Sementara untuk harga eceran dipatok sebesar Rp30.500 per kilogram.
Diketahui, sesuai data di laman website Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro, harga telur ayam ras mengalami penurunan. Dari sebelumnya Rp30 ribu per kilogram menjadi Rp29 ribu per kilogram. Sedangkan untuk telur ayam kampung harganya stabil diangka Rp2.500 per biji. [lus/kun]
BACA JUGA:






