Surabaya (beritajatim.com) – Musabaqah Qira’atil Kutub tingkat Nasional (MQKN) tahun 2023 telah secara resmi dimulai. Sebanyak 2.195 santri pondok pesantren (ponpes) dan mahasantri Ma’had Aly dari 35 provinsi di Indonesia berpartisipasi dalam acara ini, yang mengusung tema ‘Rekontekstualisasi Turats untuk Peradaban dan Kerukunan Indonesia’.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, hadir dalam acara tersebut. Dalam pidatonya, Emil menyatakan bahwa Indonesia, termasuk Jawa Timur, memainkan peran penting sebagai salah satu pusat dan rujukan intelektualitas Islam. Santri merupakan tonggak penerus yang memiliki peran kunci dalam hal ini.
“Kami merasa bersyukur, harapannya pesantren akan terus menjadi pusat dan pusat gravitasi peradaban dan pengetahuan di Indonesia. Kami berharap melihat generasi muda yang berilmu dan berakhlak, memiliki etos kerja yang baik, budi pekerti yang luhur, dan mampu bersaing secara global, dan salah satu contohnya adalah santri yang berpartisipasi dalam MQKN ini,” kata Wagub Emil di Ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan, Selasa (11/7/2023).
Emil juga menyampaikan rasa syukurnya atas penyelenggaraan kembali MQKN ini. Ini merupakan kesempatan bagi santri pria dan santriwati, serta mahasantri dari seluruh Indonesia, untuk berprestasi.
“Setelah vakum selama 6 tahun, acara ini diselenggarakan kembali, dan merupakan suatu kehormatan bisa diselenggarakan di tempat yang luar biasa ini (Ponpes Sunan Drajat), di mana kita dapat mengenang jejak perjalanan salah satu Wali Songo, yakni Sunan Drajat,” ujarnya.
BACA JUGA:
Pemenang MQKN 2023 Digelontor Dana Rp 2,7 Miliar oleh Kemenag
“Ponpes Sunan Drajat adalah salah satu pondok pesantren yang ingin menekankan bahwa santri adalah individu yang hebat dan mampu berkontribusi dalam pembangunan negeri di berbagai bidang pengabdian,” tambahnya.
Terkait dengan tema MQKN yang diangkat, Emil mengatakan bahwa baru-baru ini dia menyambut delegasi dari Organization Islamic Cooperation-Cultural Activity (OIC-CA) 2023, pada 7 Juli 2023 di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, dan bertemu dengan delegasi dari 55 negara Islam di dunia.
“Di sana, kita menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Islamic scholarship, intelektualitas Islam, dan kemajuan ilmu agama di dunia sangat penting, dan bahwa Indonesia memainkan peran penting dalam hal ini, dengan peranan penting para kyai dan ulama Nusantara,” ungkapnya.
BACA JUGA:
MQKN 2023 di Lamongan Resmi Dibuka, Kemenag RI : Sportifitas Harus, Juara Bonus
Oleh karena itu, menurut Emil, semangat rekontekstualisasi Turats yang diusung dalam acara ini merupakan upaya untuk menjaga karya-karya para Kyai dan Ulama Nusantara agar dapat dikenal oleh seluruh dunia.
“Kami juga telah melakukan digitalisasi Turats tersebut. Bahkan, Ibu Gubernur telah membawanya ke Saudi Arabia dan Mesir. Di sana, juga diadakan seminar tentang intelektualitas Islam di Indonesia,” jelasnya.
Terakhir, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah di Jatim ini berharap bahwa MQKN tidak hanya menjadi ajang untuk berlatih dan bersaing dalam membaca Kutubul Turats, tetapi juga menjadi ajang pendidikan bagi umat.
“Saya berharap acara ini menjadi sarana pendidikan bagi umat untuk semakin mencintai dan membumikan model literasi peradaban Islam yang merupakan warisan dari para ulama terdahulu. Dengan harapan mereka juga dapat menghasilkan karya-karya besar seperti itu,” tutupnya. [tok/beq]






