Lamongan (beritajatim.com) – Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN) adalah ajang perlombaan tingkat nasional yang diadakan untuk melestarikan warisan pengetahuan keIslaman dari generasi salaf al-shalih melalui pesantren.
Berdasarkan catatan beritajatim.com, MQKN telah diselenggarakan selama 7 tahun. Berikut adalah beberapa pesantren di Indonesia yang pernah menjadi tuan rumah MQKN dalam beberapa tahun terakhir.
1. Pesantren Al Falah Bandung
MQKN pertama kali diadakan di Pesantren Al Falah, Nagrek Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2004. Pada saat itu, setiap provinsi mengutus satu peserta untuk berkompetisi dalam tiga cabang kitab, yaitu fiqh, tafsir, dan hadits.
Pada MQKN tersebut, Kafilan Jawa Barat berhasil meraih juara umum. MQKN ini diadakan oleh Kementerian Agama RI dan dianggap sebagai ajang olimpiade bagi para santri.
2. Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur Tahun 2006
MQKN tingkat nasional ke-2 diadakan selama tiga hari, yakni 4-16 Juni 2006, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Kafilah Jawa Timur berhasil menjadi juara umum dengan meraih sembilan nomor terbaik I dari total 16 nomor yang diperebutkan.
Pada MQKN ini, terdapat 401 peserta dari 30 provinsi yang semula direncanakan 35 provinsi.
BACA JUGA:
Ada Lomba Debat Qanun dan Lalaran Nadhom di MQKN Lamongan
Sistem penilaian pada MQKN ke-2 ini dianggap lebih baik karena transparan dan dapat langsung diketahui melalui layar komputer yang terpasang di setiap sudut arena perlombaan.
3. Pesantren Al Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan Tahun 2008
MQKN ke-3 tingkat nasional pada tahun 2008 diadakan di Pondok Pesantren Al Falah. Pesantren ini diikuti oleh 524 peserta santri dari 32 provinsi di seluruh Indonesia, serta 125 ofisial dan 102 pendamping.
MQKN ini berlangsung selama tiga hari, yakni 2-4 Desember 2008. Terdapat 13 cabang lomba dari 5 bidang keilmuan yang dilombakan, termasuk fiqh, lughah, akhlak tasawuf, tafsir, dan hadits. Juara umum MQKN ke-3 diraih oleh kafilah dari Jawa Timur yang berhasil mempertahankan gelar yang diraih pada MQKN sebelumnya.
4. Pesantren Darunnahdlatain, Nahdlatul Wathan, Pancor, Lombok Timur, NTB
Pada pagelaran di Pesantren Darunnahdlatain, Nahdlatul Wathan, Pancor, Lombok Timur, NTB, MQKN sempat berganti nama menjadi Musabaqah Fahmi Kutubit Turats (Mufakat). Event ini berlangsung pada tanggal 17-23 Juli 2011.
Nama ini diubah karena adanya perubahan orientasi, fokus, dan spesifikasi kitab yang dilombakan. Lomba ini melibatkan delapan bidang keilmuan, seperti Fiqh, Nahwu, Akhlaq, Tarikh, Tafsir, Hadis, dan Balaghah.
Mufakat diikuti oleh 1.060 peserta dari 33 provinsi di seluruh Indonesia, setelah melalui seleksi dari total 1.008 peserta yang memenuhi syarat.
Juara umum MQKN tersebut dipegang oleh para santri dari Jawa Timur, dengan raihan 41 gelar atau piala.
5. Pesantren As’ad, Olak Kemang Danau Teluk, Kota Jambi, Provinsi Jambi
MQKN ke-5 digelar di Pesantren As’ad Olak Kemang Jambi pada tanggal 1-9 September 2014. Perlombaan ini melibatkan 1.807 peserta resmi dari 35 provinsi di Indonesia, ditambah 110 peserta dari Provinsi Jambi. Terdapat 21 cabang lomba, termasuk bacaan, pemahaman kitab kuning, dan debat dalam bahasa Arab.
Dalam rangkaian kegiatan MQKN ini, juga diadakan halaqah yang membahas pemimpin pondok pesantren dengan tema “Pesantren dan Penguatan Pemahaman KeIslaman Rahmatan Lil Alamin”.
BACA JUGA:
MQKN 2023 Akan Digelar di Lamongan, Inilah Kitab Kuning yang Dilombakan dan Kriterianya
Juara umum MQKN 2014 diraih oleh kafilah Jawa Tengah dengan membawa pulang 36 tropi, disusul oleh Jawa Timur dengan 24 tropi, dan Jawa Barat dengan 17 tropi. Acara penutupan dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat kota Jambi dan dimeriahkan oleh penampilan Wali Band.
6. Pesantren Roudlotul Mubtadiin, Balekambang, Jepara, Jawa Tengah
MQKN ke-6 diselenggarakan di Pesantren Roudlotul Mubtadiin, Balekambang, Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 29 November sampai dengan 7 Desember 2017.
Peserta dalam lomba ini mencapai 2.466 orang dari 34 provinsi di Indonesia. Terdapat 92 orang dewan hakim, 29 panitera pusat, dan 28 panitera daerah.
Para peserta berkompetisi dalam membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning. Selain itu, juga terdapat lomba debat konstitusi berbasis kitab kuning menggunakan bahasa Arab dan Inggris, serta lalaran nadhom.
Pada MQKN ini, terdapat 25 bidang yang dikompetisikan dan dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dasar (Ula), menengah (wustha), dan tinggi (Ulya).
BACA JUGA:
500 Ulama se-Indonesia Kumpul di Sunan Drajat Lamongan, Bahas Kebangsaan
Juara umum MQKN 2017 diraih oleh kafilah Jawa Tengah. Dominasi kafilah Jawa Timur yang telah menjadi juara sejak MQKN tahun 2006 berhasil tergeser.
10 besar provinsi yang meraih peringkat tertinggi dalam MQKN 2017 adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Aceh, Kalimantan Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan DI Yogyakarta.
7. Pesantren Sunan Drajad, Paciran, Lamongan, Jawa Timur Tahun 2023
MQKN ke-7 akan diadakan di Pesantren Sunan Drajad Lamongan mulai tanggal 10 Juli sampai dengan 18 Juli 2023. MQKN ini mengusung tema ‘Rekontekstualisasi Turats untuk Peradaban dan Kerukunan Indonesia’.
Pada awalnya, MQKN ke-7 direncanakan pada tahun 2020, namun ditunda karena pandemi Covid-19. Baru pada tahun 2023, MQKN dapat kembali diselenggarakan.
Peserta MQKN ini adalah santri pondok pesantren dan mahasantri Ma’had Aly dari 35 provinsi di Indonesia.
Beberapa lomba yang akan diadakan dalam MQKN 2023 ini meliputi Musabaqah Qira’atil Kutub, Debat Bahasa Arab dan Inggris, Bahtsul Kutub, Debat Qanun, dan Lalaran Nadhom. [riq/beq]






