Surabaya (beritajatim.com) – George Orwell merupakan penulis yang sudah tidak asing bagi penggemar buku sastra, terutama sastra luar. Penulis yang terkenal dengan gaya sinis dan tragis pada kondisi politik. Orwell sudah menelurkan banyak karya, namun diantara karyanya tersebut ada tiga novel terbaik yang mesti dibaca.
Keep The Aspidistra Flying
Melalui buku berjudul Keep the Aspidistra Flying, George Orwell menyajikan kisah klasik nan epik. George Orwell menulis buku ini sebelum dua karya besarnya Animal Farm dan 1984.
Karya ini menyuguhkan rangkaian kritik dan sinisme terhadap sistem kapitalisme melalui sudut pandang penyair miskin, yang mungkin saja merupakan kepingan masa muda dan kenangan dari sang penulis sendiri. Kisah dalam buku ini menjadi menarik sebab Orwell menuliskannya dengan ekstrim.
Kejadian-kejadian yang disajikan Orwell akan membuat pembaca merasa greget dengan mengikuti kuatnya karakter Gordon dan jalan hidupnya yang kompleks. Banyak adegan dalam buku ini yang seolah sangat mirip dengan keadaan masyarakat zaman sekarang.
1984
Novel 1984 adalah sebuah karya klasik yang dianggap masih sangat relevan dari zaman ke zaman. Novel ini menggambarkan wajah suram kekuasaan. Bahkan majalah Time menobatkannya sebagai novel berbahasa Inggris terbaik selama beberapa dekade.
Orwel membawa pembaca pada hal tragis tentang pemerintahan yang semena-mena. Hadirnya polisi pikiran menyedot pembaca merasakan ketidakbebasan dari para tokoh yang ada.
Dalam buku fenomenal ini digambarkan Negara yang punya kuasa mutlak atas rakyatnya. Rakyat yang berbeda atau bahkan bertentangan akan segera dihilangkan. 1984 sebagai novel satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan.
Masyarakat yang setiap gerak geriknya dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, juga setiap pemikiran dikendalikan. Hingga saat, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkan namanya banyak dikenal khalayak.
Animal Farm
Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia Kedua. Masih dengan gaya satire khasnya, novel ini sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet yang tergambar dalam sebuah perkebunan hewan ternak.
Kekuasaan manusia dalam novel ini telah digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas bernama Snowball dan Napoleon. Orwell menyentil soal demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar.
Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan walau harus dengan kekerasan. Sindiran Orwell pada novel ini membawanya dianugerahi Retro Hugo Award untuk novela terbaik (1996) dan Prometheus Hall of Fame Award (2011).
Penggemar sastra harusnya tidak melewatkan karya sastra luar biasa dari sastrawan kenamaan Inggris tersebut. Ceritanya yang epik, dengan gaya khas cukup memuaskan para pembaca. [dan/tur]






