Malang (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat angka inflasi sebesar 0,7 persen saja. Angka tersebut merupakan yang terendah di Jawa Timur. Lantas, apakah hal tersebut berdampak pada perekonomian kota Malang?
Menurut Pakar Keuangan Negara Universitas Brawijaya (UB) Malang, Nugroho Suryo Bintoro, SE., M.Ec.Dev., Ph.D., Indonesia saat ini berada dalam kondisi normal. Sehingga inflasi yang terjaga akan lebih dibutuhkan.
Besaran inflasi sebesar 0,07 akan berdampak pada terjaganya daya beli masyarakat di Kota Malang. Terlebih, kontributor terbesar berasal dari transportasi, mengindikasikan terjadinya peningkatan mobilitas penduduk yang tentu berdampak pada pertumbuhan positif perekonomian.
“Selain itu, sektor makanan, minuman, dan tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kontributor inflasi berikutnya yang berarti bahwa kondisi perekonomian di kota Malang menuju pada kondisi normal (sebagaimana sebelum covid) dan dalam kondisi yang terkendali,” ujar sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB ini, Jumat (7/7/2023).
Menurut Nugroho, inflasi berarti terjadinya kenaikan harga secara umum (tidak hanya 1 komoditas) sehingga akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Jika inflasi terjadi secara signifikan, maka daya beli masyarakat akan terganggu.
BACA JUGA:
Tingkat Pengangguran Tinggi, Disnaker Malang Gencarkan Pelatihan Entrepreneur
“Namun jika inflasi terjadi karena banyaknya permintaan, maka dapat dikatakan Kota Malang memiliki daya tarik (magnet) untuk berniaga dan tentu saja hal ini adalah hal positif yang harus ditangkap oleh berbagai pihak,” lanjut pria yang pernah menempuh School of Public Administration di Huazhong University of Science and Technology, Wuhan, China.
Inflasi, kata Nugroho, dapat bersumber dari dua hal. Pertama, dipicu oleh kenaikan permintaan, dan kedua, karena kenaikan harga dari produsen. Jika permintaan terus mengalami peningkatan, maka tidak menutup kemungkinan inflasi akan terjadi lagi pada bulan berikutnya.
“Namun jika permintaan secara umum mengalami penurunan, maka deflasi (lawan dari inflasi) yang akan terjadi. Dan hal ini adalah normal dalam perekonomian. Akumulasi inflasi dan deflasi akan menjadi inflasi tahunan Daerah yang kemudian akan dihitung secara rata-rata,” tuturnya.
Dosen FEB UB ini menerangkan bahwa operasi pasar menjadi salah satu instrumen untuk menurunkan harga di pasar. Namun, tidak selamanya deflasi menjadi baik karena deflasi yang dipicu oleh menurunnya permintaan dapat bermakna banyak.
“Bisa jadi bermakna apakah masyarakat memiliki pilihan terhadap produk lainnya, ataukah daya beli masyarakat sedang turun, atau sebab-sebab lainnya. Hal yang sangat penting untuk dijaga adalah stabilnya nilai inflasi,” kata Nugroho.
Menurutnya, secara umum pemerintah Kota Malang sudah menjalankan tugasnya dengan baik melalui TPID-nya. besaran inflasi 0,07 dihitung month to month (m to m) menunjukkan kinerja dari tim TPID dan OPD yang bersinergi. Namun, kenaikan harga pada komoditas tertentu yang mengalami peningkatan secara signifikan harus menjadi perhatian Pemerintah.
BACA JUGA:
Dianggap Visioner, Milenial Malang Raya Dukung Cak Imin Presiden 2024
“Terlebih, akhir bulan Juli dan september adalah bulan yang harus diwaspadai mengingat kegiatan belajar mengajar sekolah dan perkuliahan akan dimulai,” kata dia.
Di samping itu, Nugroho memandang kenaikan harga yang dipicu oleh sektor pangan memang sangat rawan terjadi karena tingginya ketergantungan terhadap musim. Perubahan cuaca, tentu akan mengganggu hasil panen dan hal ini berdampak pada ketersediaan pasokan di pasar.
Hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan sinergitas pada Dinas Perdagangan dan Pertanian agar pasokan selalu stabil sehingga lonjakan harga tidak terjadi setiap tahun. Hal ini tidak berarti bahwa kedua dinas tersebut tidak melakukan apa-apa.
“Tetapi karena sifat dari produk pertanian yang mudah rusak dan ketergantungan terhadap cuaca yang tinggi menjadikan tuntutan terhadap rekayasa tanaman pangan menjadi tinggi juga agar produk pertanian mampu dihasilkan ketika masyarakat membutuhkan,” pungkas dosen yang sering menjadi informan di sejumlah ini. [dan/beq]






