Jember (beritajatim.com) – Jember Fashion Carnaval (JFC) tahun ini akan menyampaikan pesan demokrasi kepada publik. Rencananya, karnaval fashion jalanan terbesar di dunia ini akan digelar pada 4 – 6 Agustus 2023 di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Tahun ini ada konten JFC for Democracy. Kami memasukkan agenda Pemilu 2024 karena menjadi tanggung jawab kita bersama agar pesta demokrasi mendatang benar-benar menjadi sebuah pesta demokrasi yang membuat orang bisa bersatu, bergembira, menikmati kebhinnekaan,” kata Presiden JFC Budi Setiawan, Rabu (5/7/2023).
Tema besar Timelapse: Journey of The Earth menampilkan defile busana yang bercerita tentang perjalanan bumi sejak awal penciptaan hingga hari ini. Setiap defile disebut dengan Chapter atau Bab untuk menunjukkan babakan demi babakan sejarah tersebut.
Tema ini sangat berkesesuaian dengan konten demokrasi sebagai satu dari sekian babakan sejarah umat manusia. Setiawan menyebut, demokrasi adalah rangkaian dari perjalanan sejarah umat manusia.
JFC ingin menyampaikan pesan bahwa dalam demokrasi, perbedaan seharusnya bisa menjadi dinamika yang bisa dinikmati bersama. “Guyub bersatu. Itu akan kami munculkan dalam konteks JFC For Democracy. Seharusnya pesta demokrasi ini adalah bagian dari upaya kita memilih untuk Indonesia, bukan memilih untuk partai,” kata Setiawan.
“Ke mana pun kita berpihak, sebenarnya kita memilih untuk Indonesia. Jadi semua harus mengarah pada apa yang kita yakini bahwa (pilihan) itu akan membawa yang terbaik bagi Indonesia. Pesta demokrasi mempertemukan itu semua dalam kebersamaan. Kita mempersiapkan diri menyambut Pemilu 2024 dengan gembira,” kata Setiawan.
Selain demokrasi, ada beberapa pesan kuat yang ingin disampaikan JFC tahun ini. “(Sub) tema yang paling kami kuatkan adalah Nusantara. Kami mengangkat inspirasinya dari Ibu Kota Nusantara. Puncaknya ada di tema tersebut dengan kostum nuansa IKN,” kata Setiawan.
Melalui sub tema World War (Perang Dunia), JFC ingin menyampaikan pesan kemanusiaan. “Dalam koreografinya ada adegan peperangan, dengan closing adegan kemanusiaan,” kata Setiawan.
Sub tema Religic sarat dengan pesan untuk saling menghargai perbedaan. “Kebersamaan itu sesuatu yang indah. Pesan-pesan itu yang ingin kami sampaikan dalam konteks Time Lapse. Ini saatnya bagi kita untuk menyampaikan pesan-pesan itu,” kata Setiawan.
JFC digagas Dynand Fariz dan mulai digelar pada 1 Januari 2003. Ini sebuah karnaval fesyen tak biasa yang melibatkan ratusan warga biasa yang tak selalu akrab dengan dunia yang identik dengan keglamoran tersebut. Catwalk-nya adalah jalan raya pusat kota Kabupaten Jember sepanjang 3,6 kilometer.
Setiap tema tahunan yang ditampilkan dalam JFC didasarkan pada sebuah riset untuk memastikan akurasi pernik-pernik yang hendak ditampilkan. Saat masih hidup, Dynand pernah mengatakan, riset JFC tidak melulu soal tematis, tapi juga koreografi dan dampaknya di media.
“Ini bukan hanya karnaval datang ke tempat sewa baju. Ini karnaval karakter yang muncul sarat dengan pesan. Setiap model yang tampil menampilkan seribu pesan,” katanya. Kekuatan pesan itu yang dijaga oleh para penerus Dynand. [wir]






