Malang (beritajatim.com) – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim sedang menyiapkan konsep baru dalam dunia pendidikan. Ide tersebut bernama marketplace guru.
Marketplace guru merupakan upaya Kemdikbudristek untuk memenuhi kebutuhan guru. Menurut Nadiem saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI dengan Mendikbudristek beberapa waktu lalu, marketplace guru menjadi wadah agar semua guru yang boleh mengajar masuk ke dalam satu database yang bisa mudah diakses semua sekolah.
Lewat wadah tersebut diharapkan setiap sekolah mampu dengan mudah mencari guru yang dibutuhkan sehingga menyelesaikan masalah perekrutan. Menurut Mendikbudristek, ada tiga masalah yang diselesaikan lewat marketplace guru ini.
Pertama, kebutuhan guru secara realtime sehingga tidak perlu menunggu rekrutmen terpusat yang membutuhkan waktu lama. Kedua, perekrutan bisa dilakukan sesuai kebutuhan karena selama ini masih ada siklus yang tidak sinkron antara sekolah dengan pemerintah pusat. Ketiga, pemerintah daerah selama ini tidak mengajukan formasi ASN sesuai dengan kebutuhan.
Ada dua golongan yang masuk dalam marketplace guru, yaitu guru honorer yang lulus seleksi dan lulusan PPG prajabatan. Guru honorer yang lulus seleksi adalah guru honorer yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus seleksi untuk menjadi calon guru ASN. Nantinya, frekuensi seleksi guru ini ditingkatkan lebih dari dari satu kali dalam setahun.
Kedua, lulusan PPG prajabatan adalah mereka yang lulus dari pendidikan profesi guru (PPG) dan dinyatakan memenuhi syarat sebagai calon guru ASN. Program PPG dan mahasiswa PPG pun ditingkatkan.
Dari konsep Nadiem Makarim tersebut, kira-kira bagaimanakah pandangan dari mahasiswa PPG dan para guru? beritajatim.com melakukan wawancara dengan sejumlah guru di Malang Raya.
Miftahul Afifatur, guru Biologi di SMA Negeri 9 Malang memandang, terobosan marketplace dapat dikatakan sebagai salah satu solusi untuk guru honorer. Untuk menyelesaikan hal tersebut, guru honorer yang sudah lulus seleksi bisa masuk marketplace sehingga dapat memutus rantai terciptanya guru honorer baru.
“Tetapi sekaligus berpotensi menyebabkan masalah baru Apabila guru yang lulus seleksi dan masuk market place tidak diseimbangkan dengan guru pensiun. Artinya, saat seorang guru sudah bisa masuk market place tetapi masih belum mendapat pinangan dari kepala sekolah yang diakibatkan karena belum ada posisi yang sesuai, maka guru tersebut tidak langsung mendapat posisi,” ujar mahasiswa PPG Universitas Negeri Malang (UM) ini saat diwawancara, Senin (19/6/2023).
Menurutnya, guru berpotensi masih harus menganggur sampai dipanggil oleh kepala sekolah. Hal ini berbeda ketika guru yang masuk marketplace sesuai atau diseimbangkan dengan jumlah guru pensiun. Cara itu, kata Mimif, dapat menghindari adanya masalah baru bahwa guru marketplace masih menganggur.
Pendapat lain disampaikan oleh Firdausya Lana, pengajar bahasa Indonesia di SMA Negeri 10 Malang. Menurutnya guru yang berada di marketplace belum tentu cukup dan tepat sasaran. Bahkan bisa jadi tolak ukurnya berdasarkan pada kecantikan atau ketampanan saja.
“Apakah di situ sudah sesuai dengan kebutuhan sekolahnya atau memang sesuai dengan zonasinya dan lain sebagainya. Itu kan terasa bagi pihak sekolah perlu ada edukasi terlebih dulu agar tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar mahasiswa PPG Prajabatan Unisma tahun 2022 gelombang 1 tersebut.
Sebagai calon guru, Lana merasa adanya marketplace guru bukan tantangan sekaligus bukan harapan, tetapi sebagai bentuk objektifikasi. “Pertanyaannya apakah masyarakat kita sudah cukup bijak dan tetap sasaran dalam memilih guru tersebut?” Katanya.
BACA JUGA:
Ketua Dharma Wanita Kabupaten Kediri : Ibu Adalah Guru Nomor Satu Bagi Anak
Secara pribadi ia merasa tidak sepakat dengan adanya marketplace. Saat ini guru lebih membutuhkan keadilan dalam hal kenaikan jenjang karir. Misalnya PNS dan P3K yang proses tesnya melalui tes wawasan kebangsaan. Hal itu dirasa kurang sesuai dengan beberapa guru mata pelajaran. Misalnya guru bahasa Indonesia atau guru sejarah.
“Jadi yang perlu di tes sesuai kemampuan mata pelajaran terkait. Terus cara rekruitmentnya bisa lewat jenjang karir. Ada masukan dari beberapa yang lama di dunia pendidikan. Menurut mereka masih banyak guru tidak tetap yang lama mengajar tetapi belum menjadi ASN akibat kalah cepat akibat test,” ujar perempuan yang menempuh S1 di UM ini.
Padahal guru dengan pengalaman lebih lama, lebih mampu untuk memanajemen kelas dan siswa. “Saya rasa rekrutmen lebih baik lewat jenjang karir, daripada marketplace itu,” tutupnya.
Seorang pengajar di Kota Batu yang tidak berkenan disebut namanya merasa sepakat dengan ide marketplace guru dengan beberapa catatan. Pertama, proses seleksi perlu diatur dengan baik agar persaingan terjadi secara alami. “Kedua, pertimbangkan kesejahteraan guru-guru yang profesional agar tidak mudah berpaling dari dunia Pendidikan. Ketiga, kecurangan struktural yang laten perlu ditelusuri dan diperbaiki agar sistem tidak menjauh jadi semangat pendidikan. Keempat, berikan tindak lanjut pada guru-guru yang kurang berkompeten dalam mengajar,” ucapnya. (dan/kun)






