Batu (beritajatim.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu menghelat pelatihan dan sosialisasi pengolahan sampah. Hal itu dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Kota Batu, terutama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlengkung.
Suparman, sekretaris DLH Batu menguraikan, TPA Tlekung memiliki luas 1 hektar. Luasan tersebut belum bisa menampung sepenuhnya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Batu. Oleh sebab itu, perlu ada upaya pengurangan dan pengelolaan yang tepat, seperti di Desa Sumbergondo.
“Desa Sumbergondo merupakan satu-satunya desa yang tidak mengirimkan sampahnya ke TPA. Masyarakatnya sudah mampu mengelola sendiri, sehingga upaya ini perlu diperluas dan dicontoh desa lain,” ujar Suparman.
Pelatihan diikuti oleh 50 peserta dari komunitas bank sampah, pegiat lingkungan dan pemerintah desa Sumbergondo, Kota Batu. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu menggandeng DLH Kota Batu.
BACA JUGA: Ambil Uang Rp 100 Ribu di Jalan, Rombong Pedagang Bebek Tercebur Sungai
Penyampaian materi pada acara ini adalah Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton). Mereka menjelaskan soal konsep Zero Waste City melalui kegiatan komposting. Pemateri lainnya adalah perwakilan pengurus TPST3R kabupaten Ngantang untuk penyampaian cara menjalankan operasional menjalankan TPST3R.
Menurut Suparman, masalah sampah di Kota Batu, tidak lepas dari menumpuknya beban sampah yang berakhir ke TPA. Sebanyak 130 ton/hari sampah yang di kirim di TPA Kota Batu, telah berdampak bau pada masyarakat sekitar, saat ini di kawasan perkotaan pengangkutan sampah dilakukan pada jam 12 malam hingga ke pagi hari.
“Terdapat kewajiban di Kota Batu agar menyelesaikan permasalahan sampah di desa desa. Tidak hanya kelurahan dan desa, pelaku usaha baik wisata, hotel juga mempunyai kewajiban untuk penyelesaian sampah termasuk di wilayah pariwisata,” jelasnya setelah acara yang berlangsung pada Rabu (14/6/2023).
BACA JUGA: Belum Lama Dibangun, Taman di HOS Cokroaminoto Ponorogo Dibongkar
Hadir saat kegiatan Wakil Ketua DPRD Kota Batu Heli Suyanto.,SH.,MH. Ia menyampaikan bahwa masalah sampah sejatinya bisa menjadi ekonomi. Di kota batu ada beberapa yang sudah memiliki TPS3R, agar di rumah tangga bisa diawali untuk melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.
“Saya berharap kegiatan hari ini dilakukan secara berkelanjutan, untuk meminimalisir sampah yang akan dikirim ke TPA. Penting juga bagaimana kita menyediakan fasilitas persampahan seperti tong sampah dan komposter,” ujar Heli Suyanto.
Wilayah Batu, kata dia, memiliki banyak lokasi dengan potensi menjadi lokasi pariwisata sehingga dapat mengusung konsep bebas sampah. Hal tersebut menjadi peluang untuk masyarakat agar mengembangkan wilayahnya untuk menjadi wilayah yang Zero Waste.
BACA JUGA: Jaksa KPK Sebut Zaenal Afif Sosok Istimewa dalam Dana Hibah Pokir
“Zero Waste merupakan upaya konservasi sumberdaya alam dengan cara produksi, penggunaan kembali dan pemilahan semua produk, kemasan dan bahan yang bertanggung jawab tanpa membakarnya dan pembuangan yang dapat menyebabkan pencemaran ke tanah, air atau udara yang dapat mengancam lingkungan dan kesehatan manusia,” tegas wakil ketua DPRD kota Batu.
Mohammad Alaika Rahmatullah, divisi Edukasi Ecoton menyampaikan permasalahan sampah yang dihadapi masyarakat sebagian besar memakai paradigma lama, yaitu sistem konvensional hanya kumpul, angkut, buang. Seharusnya mulai menerapkan pola zero waste yaitu mengajak masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampahnya mulai dari pemilahan sampai penerapan ekonomi sirkular.
“Sistem ini telah berhasil dilakukan di Kampung Zero Waste Tempurejo Kota Kediri dan Kampung Siba Kabupaten Gresik. Masyarakatnya telah berhasil memilah, mengolah sampah mulai dari sumbernya,” ujar Alex.
BACA JUGA: Satu Jamaah Haji Asal Tirtoyudo Malang Wafat Usai Tawaf
Di sampung itu, Iwan pengurus TPST3R Ngantang menyampaikan materinya tentang sampah yang merupakan sumber potensi sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali. Misalnya upaya yang telah dilakukan mulai dari pengolahan menjadi kompos dapat dimulai dari membentuk kelompok swadaya masyarakat.
“Hal ini juga dapat diterapkan di Kota Batu untuk mengurangi beban sampah yang kemudian berakhir ke TPA Tlengkung,” ujar Iwan. (dan/ian)






