Surabaya (beritajatim.com) – Untag Surabaya kembali membuka ruang untuk berdiskusi nilai-nilai toleransi di kalangan pemuda. Itu diwujudkan dalam acara Kelas Pemikiran Gus Dur yang diinisiasi oleh DPM Fakultas Hukum Untag Surabaya.
Dalam sambutannya, Kaprodi Fakultas Hukum Untag Surabaya Wiwik Afifah menyoroti pentingnya nilai-nilai toleransi bagi mahasiswa sebagai bekal patriot muda yang akan mengembang amanah penggerak perdamaian.
Kata dia, Kelas Pemikiran Gus Dur ini merupakan ruang yang akan dapat membawa mahasiswa merespon kondisi negara yang terus maju dalam kehidupan berdemokrasi. “Kehidupan demokrasi di negara kita dihasilkan oleh founding fathers mulai dari Soekarno, kemudian didengungkan dengan keras KH Abdurrahman Wahid. Sehingga, Gus Dur memiliki 9 nilai sebagai kerangka bagaimana kita bersikap sebagai patriot muda,” ungkap Wiwik, Sabtu (10/6/2023).
Kelas Pemikiran Gus Dur sendiri dihadiri 3 narasumber, antara lain Ketua YPTA Surabaya sekaligus Ketua Dewan Pembina Roemah Bhinneka, J Subekti, Aktivis Gerakan Sosial Puspita Ratna, dan Media Center PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran.
Menurut Puspita, kekuatan Indonesia berasal dari perbedaan yang beragam hingga dapat menjalankan demokrasi. Orang dengan latar belakang yang berbeda, memiliki pemikiran yang berbeda dan sumber daya yang berbeda. “Indonesia jangan diseragamkan, jangan sia-siakan potensi tersebut,” katanya.
Sementara dalam memaknai demokrasi, J Subekti menilai harus sesuai dengan nafas Pancasila yang mempayungi semua identitas suku, agama, ras, dan sebagainya. “Dalam konteks ini, ke-Indonesia-an itu milik bersama. Sehingga kebangkitan ini memang harus dimiliki oleh semua warga bangsa Indonesia tanpa terkecuali,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya mahasiswa juga memegang peranan penting dalam mewujudkan nilai-nilai toleransi. Estafet kepemimpinan bangsa, lanjutnya, ada di tangan mahasiswa.
“Mahasiswa itu avant-garde. Garda terdepan bagi bagaimana masa depan bangsa Indonesia itu mau dibangun. Saya menyebut mahasiswa itu miniatur masa depan Indonesia. Mau lihat masa depan Indonesia, lihatlah mahasiswanya,” jelasnya.
Untuk mempersiapkan diri tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dengan memiliki wawasan nilai-nilai toleransi di kalangan pemuda, namun mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. “Yang paling penting bukan memiliki wawasan nilai toleransi, tapi bagaimana kita punya komitmen menanamkan nilai nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.
BACA JUGA:
Jurusan Langka, Sistekin Untag Surabaya Punya Prospek Karir Menjanjikan di Bidang Cyber
Acara yang digelar di Theater Room Lantai 6 Gedung Pusat Rektorat dan Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 ini berkolaborasi dengan Gerakan GUSDURian Surabaya, HMP Studi Agama-agama, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia Surabaya, Roemah Bhinneka Moeda dan Pemuda Khatolik Kota Surabaya. [ipl/kun]






