Lamongan (beritajatim.com) – Pasangan suami istri (Pasutri) asal Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan Jawa Timur ini sukses bertani sayuran hidroponik di pekarangan belakang rumahnya.
Pasutri itu adalah Helmi Hadinata dan Diah Afrilianti. Sebelum digunakan sebagai lahan hidroponik, dulunya lahan itu merupakan bekas kolam udang. Berkat usahanya itu, kini keuntungan yang bisa diraup oleh keduanya mencapai belasan juta rupiah per bulan.
Helmi mengaku, usaha hidroponiknya itu berawal dari coba-coba, yang dia mulai sejak tahun 2017. Dia juga menyebut, lahan hidroponik seluas 2 ribu meter persegi itu kini telah banyak ditanami berbagai macam sayuran.
“Semuanya bermula dari coba-coba. Kebun sayur hidroponik ini mulai kami rintis sejak 2017 dengan memanfaatkan kolam bekas budidaya udang,” ujar Helmi Hadinata, Sabtu (10/6/2023).
Beragam sayuran hidroponik itu, sebut Helmi, seperti sawi, selada, pookcay, bayam dan sayuran lainnya. Setidaknya ada sekitar 9 jenis sayuran. Lantaran keuletan dan kesabaran pasutri itu, lahan hidroponik itu pun mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
“Untuk jenis sayuran yang ditanam di kebun ini ada beberapa jenis, diantaranya ada kangkung, bayam hijau, bayam merah, sawi lokal dan Thailand, selada, pookcay serta seledri. Ada 9 jenis sayuran,” tandasnya.
Baca Juga:
Hindari Darurat Sampah, Warga Kampung Hidroponik Gandeng UPN “Veteran” Jatim
Helmi bersyukur, sayur hasil kebun hidroponik mereka bisa diterima masyarakat dan mampu menghasilkan keuntungan hingga belasan juta rupiah per bulan.
Tak cukup itu, produksi sayur hidroponik itu kini mampu menembus pangsa pasar yang lebih besar, seperti di toko modern atau supermarket dan menyebar ke beberapa daerah yang ada di Jawa Timur, di antaranya Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Gresik dan sekitarnya.

Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, kebun hidroponik milik Helmi ini juga menjadi rujukan bagi para pelajar atau mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Jawa Timur untuk belajar budidaya sayur hidroponik.
“Permintaan sayur hidroponik ini mulai naik sejak pandemi Covid-19 lalu hingga sekarang,” tuturnya.
Lebih lanjut mengenai proses budidaya sayur hidroponik ini, Helmi menjelaskan, hanya membutuhkan waktu sekitar 6 minggu saja, yang terhitung mulai dari pembibitan hingga siap panen. Lalu untuk memenuhi permintaan pasar, Hilmi menggandeng 4 mitra yang ada di wilayah Lamongan agar mengecewakan para konsumennya.
“Selain bisa bertahan selama satu minggu, sayuran hidroponik ini juga tanpa menggunakan pestisida, sehingga aman untuk dikonsumsi. Konsumen mengambil sendiri sayurnya ke rumah sementara istri saya menawarkan sayur hidroponik ini melalui sosial media,” tutupnya.[riq/ted]






